Ksatria Panji

Ksatria Panji
Kenangan Yang Terlupakan


Suasana di lantai 5 tidak berbeda jauh dengan lantai sebelumnya hanya terlihat lebih sepi, tidak ada siapapun di sini.


    "Kemarilah," terdengar sebuah Suara yang menuntun Panji ke arah sebuah Ruangan dengan sekat Tirai berwarna Putih. Panji pun menyingkapnya dan melihat Sosok Patriak sedang menuangkan Minuman ke dalam gelas kecilnya. 


     "Duduk dan minumlah ini, aku membelinya di desa sebelum kita pergi." Panji duduk di depan Patriak dan mengambil Cangkir yang berisi minuman itu dan meneguknya. 


     "Rasanya enak dan unik, apa ini patriak?," tanya Panji dengan Penasaran. Patriak pun menjawab, "Itu adalah Bandrek, minuman khas Sunda berfungsi untuk menghangatkan badan, aku mendengar suaramu agak serak, itu bisa meredakan batuk dan tenggorokan gatal."


     "Terima kasih Patriak," ucap Panji. "Patriak begitu memperhatikanku, apa dia juga akan menjadikan aku sebagai muridnya," Batin Panji. 


     "Aku tidak bisa menjadikanmu sebagai muridku," ucap Patriak Satria Spontan. Hampir Saja minuman yang baru di teguk Panji muncrat dari mulutnya. "Apa patriak mendengar suara hatiku?," batin Panji lagi.


    "Kau barusan dari lantai 4 kan Para Tetua mengambil teman-temanmu sebagai murid."


    "Tapi karena aku merasa dekat denganmu, aku akan memberikan hak yang sama sebagai murid langsung untukmu." lanjut Patriak. 


     "Terima kasih sekali lagi Patriak, Ahh tidak bisakah Patriak menceritakan bagaimana kita bisa menjadi dekat di kehidupan yang sebelumnya, ada begitu banyak pertanyaan di pikiranku," ungkap Panji. 


     "Bacalah buku ini," Patriak mengulurkan sebuah buku dengan judul "Identitas Patriak Pembantai Iblis." Panji pun hanyut membaca buku itu, sementara Patriak Satria memainkan Kecapinya, membuat Alunan melodi yang indah. 


     Damar, Sakya, Cayya, Galih, Oni, dan Roben duduk di satu meja yang sama. Meja bundar yang di penuhi makanan dan minuman. Sementara tidak jauh dari mereka, ada beberapa murid inti di meja lain. Dan Para Tetua di meja yang lainnya. 


     "Wah lihat semua makanan ini, aku akan menyantap semuanya," Kata Oni dengan liur yang hampir menetes. Dia pun akan mengambil beberapa makanan dengan tangannya tapi itu di hentikan oleh Galih.


     "Hei jangan rakus ingat kita semua dapat bagian yang sama biar aku yang ambilkan untukmu, jika tidak semua orang tidak akan kebagian di sini." ujar Galih yang kemudian mengambilkan makanan untuk Oni. 


     "Baiklah," suara Oni melemah dan dia terlihat putus asa karena semua makanan itu bukan miliknya.


     "Roben makan atau minumlah sesuatu," ujar Cayya pada Roben yang tidak menyentuh sedikitpun makanannya.


    "Apa kau menunggu Panji, tidak perlu menunggunya, dia akan menghabiskan waktunya dengan Patriak hingga kita tiba di Perguruan," kata Sakya sambil memasukkan cemilan ke mulutnya dengan Elegan.


    "Aku tidak menunggunya," kata Roben. Setelah mengatakan itu Roben kemudian meneguk air minumnya dan kemudian mulai menyantap makanan yang tersedia di atas meja. 


     "Hei lihat, bibirmu belepotan," Damar mengambil sapu tangan di sakunya dan mengelap bibir Sakya yang belepotan Saus. Beberapa Temannya kemudian melihat ke arahnya membuat Sakya salah tingkah. 


    Roben bahkan menyipitkan matanya melihat Rona kemerahan yang ada di wajah Sakya. Sakya kemudian merampas Sapu tangan Damar dengan Kasar dan mengelap bibirnya sendiri. Dia sangat malu teman-temannya melihat perlakuan Damar kepadanya.


     "Roben apa kau tidak mau bergabung dengan kami," Tanya Oni. "Bergabung?." Tanya Roben dengan bingung. 


     "Iya menjadi Ksatria Panji," ujar Oni yang membuat Roben menyemburkan minumannya ke samping serta membuat orang-orang jadi kaget. 


     "Oni ada apa denganmu, kau gila ya meminta Pesaing Panji menjadi Ksatria Panji, kemana otakmu," kata Galih memarahi Oni. 


     "Hehehe maafkan aku, aku hanya menawarkan saja," kata Oni sambil cengengesan dia pun melanjutkan makan besarnya. 


     "Tidak, aku Tidak mau," tegas Roben. "Tapi kau tetap bisa bersama-sama kami meski tidak menjadi Ksatria Panji," ujar Galih. Roben pun berfikir sejenak dan berkata, "baik akan aku pertimbangkan."


     Sementara itu Sakya dan Damar ngobrol diam-diam karena mereka duduk bersebelahan. "Kau brengsek apa yang kau lakukan," bisik Sakya. 


     "Tentu saja mengelap mulutmu yang belepotan, aku tidak suka melihatnya," ujar Damar dengan berbisik pula. "Aku tidak butuh kau mengelap bibirku, mereka pasti akan mengira yang tidak-tidak dengan hubungan kita," lanjut Sakya. 


     "Ada apa dengan hubungan kita, bukankah kita sudah cukup dekat kita bahkan…. pada malam itu… kau juga…."


     "Berhenti bicara yang aneh-aneh lagi, bukankah aku bilang aku tidak mau membahasnya, kenapa kau selalu mengungkitnya," tanya Sakya. 


     "Karena aku suka saat kau malu-malu itu terlihat lucu," Damar pun tidak bisa menahan tawa lepasnya yang membuat orang-orang di sekitar mereka memperhatikan mereka lagi. 


Sementara itu di lantai 5


     "Ini, kenapa namanya hampir sama dengan namaku Patriak?" Tanya Panji yang sedang membolak-balikkan buku yang di berikan Oleh Patriak. Dia menatap Patriak dengan wajah kebingungan. 


     "Balas dendam membutakannya membuat dia harus kehilangan nyawa." lanjut Patriak. 


     "Tapi Patriak ini semua tidak ada hubungannya dengan masa laluku, apa kau…." Panji kemudian Sadar alasan Patriak memberikan buku yang tengah di bacanya. Tapi itu tidak mungkin pikirnya.


     "Tidak mungkin kan kalau aku adalah dia….." Panji menunjuk buku itu dengan menatap tidak percaya. Panji kemudian melirik Patriak yang sedang menatapnya.


     "Ikut aku," ujar Patriak. Patriak kemudian memegang tangan Panji dan mereka menghilang. 


     Mereka muncul di Hutan Kecil di depan sebuah Pohon yang lebih besar dari pohon lainnya. "Lihat, apa kau ingat ini." ujar Patriak sambil menunjuk batang Pohon. Disana terukir nama Kstaria Panji.


     " Ini…." Panji seolah mengingat sesuatu. " Ini bukankah nama Regu yang kemarin teman-teman ku buat?."


     Satria menghembuskan nafas, kemudian menarik tangan Panji untuk mengikutinya, tidak jauh dari Pohon itu terdapat 2 pasang Merpati yang pernah Panji temui. Panji terlihat senang dan menghampiri mereka.


     Tidak jauh dari sana, terdapat gerombolan Merpati yang terbang kesana kemari, ada pula yang hanya bertengger di dahan. "Patriak kenapa jadi lebih banyak merpati, bukankah kemarin hanya ada 2?"


    "Tidak dari dulu memang banyak, hanya kau saja tidak melihatnya, Apa kau mengingat merpati ini?"


    "Tentu saja ini merpati yang kita jumpai beberapa hari lalu," ujar Panji sembari mengelus kepala merpati itu. 


    


    "Ini percuma, kau tidak akan mengingatnya, tapi jelaskan padaku bagaimana kau tau melodi seruling yang kau mainkan saat pertama kali tiba di sini," tanya Satria. 


     Panji nampak berfikir keras untuk mengingat, yah Panji memang memiliki ingatan yang cukup buruk, dia sering melupakan sesuatu.


     "Ahh, melodi itu, aku ingat, aku tidak tau tapi aku sering memainkannya sejak aku kecil, aku tidak ingat bagaimana aku menciptakannya atau dimana aku pernah mendengarnya." ujar Panji dengan wajah yang memelas. 


     Satria tidak berkomentar apapun lagi, dia meninggalkan Panji sendirian dan melangkah ke Rumah Bambu, Panji kemudian mengejarnya. Mereka memasuki Rumah bambu lagi. 


Panji dan Satria pun duduk berhadapan. 


     "Hem Patriak, apa tidak ada…," belum Panji selesai bicara 2 kendi Arak Raja Girang telah ada di meja. Wajah Panji pun berubah senang, dia mengambil cangkir kecil di atas meja kemudian meminumnya. 


    Tanpa mereka sadari di dalam ruang penyimpanan Harta milik Patriak bergetar, Mulai muncul retakan pada segel Mustika harimau Putih. Piringan batu kuno berwarna hitam dengan mustika di tengahnya, memancarkan cahaya hitam yang meretakkan Segel kehijauan di sekitarnya. 


     "Ahhhh," Panji berteriak kesakitan membuat Satria Kaget dan segera memeriksanya, Kepala Panji membentur meja, punggungnya seperti terbakar, daging di punggungnya pun terlihat, bajunya terbakar habis di bagian punggung, memperlihatkan simbol di balik punggungnya. 


     Asap hitam itu keluar perlahan, Satria dengan segera menyalurkan energi tenaga dalamnya saat melihat wajah Panji mulai terlihat pucat dan kelelahan. Kantong penyimpanan Harta Satria bergetar membuat dia sadar, "Ahh tidak, segel Mustika Harimau Putih, sepertinya akan terlepas."


     Saat dia akan memeriksanya, Mustika Harimau Putih yang hilang kendali segera melesat keluar dari Kantong penyimpanan harta, lalu berputar-putar di tengah ruangan. Asap hitam keluar dari mustika itu, Cahaya kehitamannya membuat Rumah Bambu itu terlihat Suram. 


     Panji yang setengah sadar mengatakan, "Mustika Harimau Putih seperti di buku," Asap hitam yang berasal dari punggung Panji nampak senang terdengar lengkingan yang tajam dari Asap itu seolah mereka memiliki nyawanya sendiri. 


    Asap di punggung Panji dan Asap hitam dari Mustika Harimau Putih pun menyatu, nampak wajah Satria semakin kesakitan. "Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhh", Cahaya hitam yang awalnya berkumpul pada Mustika Harimau Putih, kini melesat masuk kedalam tubuh Panji. 


     Kuatnya Asap hitam melempar Satria cukup jauh, nampak Satria pun ikut terluka, dia memegang dadanya. 


     Panji terlihat kesakitan, dia berguling-guling sembari memegangi kepalanya, Mata nya berubah total dengan warna hitam yang memenuhi kedua matanya. 


    "Panjiiiiii," teriak Satria berusaha mendekat, tapi usahanya gagal dia bahkan tidak mampu mendekati karena asap hitam itu mengelilingi Panji.


     Sementara keadaan Panji pun tidak jauh berbeda, sakit kepala yang dia rasakan akibat dari ingatan-ingatan yang masuk kedalam fikirannya, serta Mustika Harimau Putih yang ingin membuatnya menjadi Tuannya seperti dulu. 


     Berbagai gambar dan bayangan masuk ke dalam ingatan Panji. Begitu banyak adegan kebahagiaan, persahabatan yang terjalin, keluarga, Pengkhianatan, balas dendam, perang, dan Kematiannya. 


*******


Ucapkan selamat tinggal untuk Para Tetua, 5 Ksatria Panji, Para murid inti juga. SETELAH BAB ini kita akan mulai Flashback