
"Pangeran Arya apa yang membawamu kemari?" tanya Raja. Dengan sikap penuh hormat Pangeran Arya menyampaikan bahwa ia ingin mengundang beberapa pemuda dari perguruan Elang Emas untuk mengikuti Pertandingan yang akan di adakan di Kerajaan Java.
"Ohh jadi Perguruan Moksa Laghu sekarang akan mengadakan Pertandingan bela diri, apa semua kerajaan akan ikut serta."
"Benar Paduka, semua akan ikut serta, Kerajaan Java, Borneo, Celebes, Nugini, Segara, bahkan Klaito yang merupakan kerajaan baru pun akan ikut serta." jawab Arya
"Wahahaha kalau begitu tentu saja perguruan Elang Emas akan ikut, ehm tapi kapan itu akan di laksanakan?, tanya Raja.
"Akan di adakan sebulan lagi Paduka, dan juga pertandingan ini untuk mengasah kemampuan remaja kita, karena dalam 6 bulan ke depan mereka akan memasuki Perguruan Seribu bintang."
"Ahh ya kau benar sebentar lagi murid murid perguruan akan memasuki Perguruan Seribu Bintang, anak-anakku juga akan pergi," Raja Jayanegara kemudian menoleh ke sebelah kanan melihat ke 4 anaknya yang sedang mengobrol.
"Ahh Paduka, tadi aku sepertinya melihat kedua Pangeran di Pasar luar Istana mereka terlihat begitu bersemangat," Ucap Arya.
"Jangan kau pikirkan, mereka memang suka menyelinap keluar dan bermain-main biarkan mereka merasakan masa mudanya dengan bahagia, Satria jika kau ingin berbicara dengan mereka bicara lah tidak perlu sungkan." Ujar Raja Jayanegara yang beralih menatap Satria.
Satria pun menjawab, "Tidak paduka, Saya akan duduk di sini saja."
"Terserah padamu saja." kata Raja Jayanegara lagi.
"Kakak kau bersenang-senang tidak mengajak ku, aku marah padamu sekarang." Ara memalingkan wajahnya pura-pura marah.
"Ahh adik ku yang cantik, Kakak sedang terburu-buru, tapi lihat lah di sini kakak membelikanmu sesuatu." Panji mengeluarkan Sebuah Kotak persegi dan memberikannya pada Putri Ara.
Ara membukanya dan melihat isinya, wajahnya terlihat lebih baik dan lebih senang. Terlihat jepit rambut berwarna Hijau bertahta batu-batu yang indah. Ara kemudian menutup Kotak itu dan menyimpannya. "Aku akan memaafkanmu kali ini," ujar Ara masih pura-pura marah.
"Ohh jadi hanya adik kecil kita saja yang dapat tapi kakak nya tidak," Goda Putri Lyla. "Ahh tentu saja tidak Kak, Ini aku juga membelikan ini untukmu." Panji mengeluarkan sebuah kotak lagi kali ini kotak persegi panjang. Putri Lyla membukanya dan tersenyum melihat gelang bertahta batu zamrud disana. Terlihat cukup mahal seperti milik Ara.
"Wah barang ini cukup mahal, memangnya uangmu cukup?," tanya Putri Lyla. Merasa tertohok Panji pun akan menjawab tapi di dahului oleh Mahesa. "Itu semua pakai Uang ku Kak, mana ada Panji yang sebanyak itu," Ucap Mahesa dengan agak ketus.
Panji pun hanya cengengesan, Lyla menggelengkan kepalanya, sementara Ara cekikikan dan menutup mulut dengan kedua tangannya.
Panji pun kembali bosan dan ingin menyelinap keluar lagi tapi dia melihat Paman Guruhnya duduk dari tempat yang tidak jauh dari Panji sambil menjelarkan kedua matanya seolah memperingati Panji untuk tidak pergi.
Panji hanya menghela nafas dan berpikir apa yang bisa ia lakukan untuk menghilangkan kebosanan. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan hingga tatapannya berhenti pada satu titik. Satria.
Panji ingat Satria adalah pemuda yang di temui nya di Area Lomba Panahan. Dia memikirkan cara bagaimana bicara dengannya sedangkan tempatnya agak jauh.
"Ahh aku punya ide, bagaimana dengan Mantra Ajaib Perubah Bentuk?," tanya Panji dalam hati. Dia kemudian membentuk aliran energi tenaga dalam di tangan kirinya membentuk manusia kecil seperti bentuk tubuh panji.
Aliran energi itu berwarna putih kehijauan. Dia kemudian terbang dan mendarat di tangan kiri Satria. Satria terus melirik Aliran Energi berbentuk tubuh Panji itu terus merangkak naik hingga ke bahunya.
Panji kecil itu pun berbisik di telinga Satria. "Satria, apa yang sedang kau lakukan, bagaimana jika kita menyelinap keluar, aku sangat bosan hanya melihat tarian dan musik di sini," Ujar Panji kecil yang menghentakkan kedua kakinya di pundak Satria dengan Kesal.
"Tidak," jawab Satria singkat. "Kenapa tidak?." tanya Panji heran. "Kita tidak akrab," jawab Satria lagi. "Bagaimana kalau kita bicara lebih banyak agar semakin akrab," kata Panji lagi.
"Aku akan duduk di samping mu kalau begitu," lanjut Panji. "Tidak perlu," Ujar Satria dingin. "Ayolah, aku bosan di sini," kata Panji kecil yang mengelus-elus pipi Panji dengan Tubuh energinya. Satria kemudian menjauhkan Panji Kecil itu dari pipinya.
"Jangan berisik," Panji kemudian mengambil Panji Kecil dan menghancurkannya. "Aiiiih kejam sekali pria ini," batin Panji di dalam hati.
Panji duduk di sebelah Satria sedikit menggoyang-goyangkan tubuhnya. Dia kemudian mendekat sedikit ke arah Satria. "Jangan terlalu dekat," Ujar Satria. Satria memang punya sifat tidak suka berdekatan dengan orang lain kecuali Kakaknya Arya dan Pamannya.
Satria juga pemuda yang sangat perfeksionis, tidak suka di sentuh, dingin, tapi masih memiliki sedikit keramahan. "Baiklah, baiklah," Panji kemudian menjauh sedikit.
"Bagaimana kau melakukannya?," Tanya Satria. "Melakukan apa?."
"Membentuk tubuh manusia dengan energi tenaga dalam,"Jelas Satria.
Panji sedikit bersemangat karena Satria terlihat Penasaran, dia pikir ini akan menjadi awal dari persahabatan mereka. "Ini mudah, pertama kau konsentrasi dan kumpulkan energi tenaga dalam di tanganmu, setelah itu pikirkan bentuk seperti apa yang ingin kau ciptakan."
Panji kemudian menyalurkan energi tenaga dalam di tangan kirinya dan kemudian memikirkan beberapa bentuk seperti tubuh manusia, pedang, bunga, rumah.
Satria cukup takjub dan bertanya lagi, "lalu bagaimana kau mengirim suaranya?".
"Itu mudah, aku hanya harus memikirkan kata kata di pikiranku dan mengirimnya ke Buji," jawab Panji.
"Apa itu Buji," tanya Satria tambah bingung dia. Panji hanya cengengesan kemudian dia menjawab, "Buji adalah nama dari keahlianku ini. Artinya adalah budak panji. Hahahahahaha", tawa Panji bahkan menarik perhatian Raja dan Arya yang sedang bicara.
"Cih, nama Yang aneh," Ujar panji. "Kau cobalah," pinta Panji. Setelah memikirkannya berulang kali Satria pun mencobanya. Dia mengumpulkan tenaga dalam di tangan kirinya dan membentuk sebuah benda di tangannya.
Pada tahap pengumpulan energi di tangan dia bisa, tapi ketika akan membentuk benda Energi tenaga dalam di tangannya tiba-tiba memudar, dia mencoba beberapa kali tapi tetap tidak bisa.
"Kelihatannya Panji dan Satria semakin Akrab," kata Raja Jayanegara pada Pangeran Arya. "Ya kelihatannya begitu," jawab Arya. Mereka kemudian mengalihkan lagi pandangan mereka yang sebelumnya tertuju pada Panji dan Satria.
"Kak aku akan melihat apa yang Panji lakukan jangan sampai dia membuat masalah," ucap Mahesa yang akan pergi dan menghampiri Panji. Tapi kemudian di Tahan oleh Lyla.
"Biarkan dia, dia hanya berteman dengan Satria. Kau duduklah temani kakak dan adikmu," Ujar Lyla
"Tapi kak…. "
"Biarkan saja Kak Mahesa, lagi pula dia pasti sedang Bosan, lebih baik kakak ceritakan lagi kejadian kejadian menarik di pasar, " Kata Putri Ara dengan bersemangat.
"Tidak bisa."
"Ahh, aku lupa memberitaumu, Maha Guruh dan Raja juga tidak bisa melakukannya."
Satria menoleh sedikit kaget dan bertanya, "kenapa?."
"Ini keahlian yang aku ciptakan sendiri, bahkan aku berharap suatu saat nanti bisa membuat pedang dari Buji yang sama nyata nya dengan pedang yang biasa kita gunakan, bukankah itu hebat," Pikiran Panji menerawang jauh. Dia akan menjadi lebih kuat dari sekarang.
"Sungguh luar biasa untuk bisa menciptakan keahlian sendiri dalam usia semua ini, apalagi tidak ada yang bisa mengikuti keahliannya, meski terlihat sederhana, ternyata cukup sulit di lakukan, bahkan aku tidak bisa," batin Satria.
Dia melihat tangan kirinya menyalurkan energi dan membentuk lagi. Tapi tetap tidak bisa.
*******