Kembalinya Sang Pewaris (Gleen Fernando)

Kembalinya Sang Pewaris (Gleen Fernando)
Bab 52


Pagi harinya...


Gleen terbangun dari tidurnya, tangan kanannya meraba-raba ke samping dengan mata yang terpejam, dia mengerjapkan kedua matanya saat menyadari bahwa Felicia tidak ada disampingnya.


Wanita itu selalu saja begitu, selalu main kabur begitu saja, setelah bercinta dengannya.


"Rupanya dia sudah pulang." gumam Gleen dengan nada kecewa.


Gleen segera bangkit, meraih handuk yang bergelantungan di dinding kamar, dia lilitkan menutupi pinggangnya ke bawah. Tak sengaja dia melihat sebuah cek tergelatak diatas nakas.


Gleen melihat cek tersebut, dia pun menghela nafas, rupanya Felicia ingin membayarnya lagi karena sudah memuaskannya.


"Apa dia menganggap aku gigolo?" Gleen sangat kesal sekali.


Kedua sahabatnya malah mentertawakan Gleen ketika Gleen bercerita bahwa Felicia selalu saja membayar dirinya setelah bercinta dengannya.


"Itu artinya Felicia bercinta denganmu hanya karena hasrat saja, bukan cinta. Karena itu dia membayar kamu." ledek Alvaro.


Danu ikut meledek. "Kamu adalah pria yang paling beruntung Gleen, enak iya, untung juga iya. Dapat kenikmatan, dan dibayar pula."


Gleen membalas ledekan Danu, "Kayak yang kamu tahu rasanya aja. Pacaran aja gak pernah." Kemudian dia melirik Alvaro. "Pokoknya rasanya bikin nagih ya Al. Makanya si Al sekarang selalu buru-buru ingin cepat pulang."


Alvaro hanya tertawa, karena apa yang dikatakan oleh Gleen memang benar adanya, dia hampir setiap hari melakukannya dengan sang istri tercinta, dari senin sampai minggu, dia selalu menggarap ladang Joana.


Danu yang merasa bahwa nasibnya kurang beruntung dibandingkan kedua sahabatnya, dia memilih memakan kacang goreng saja. "Ya lah, gue jomblo abadi."


"Masa kamu kalah sama zombie, zombie aja suka main keroyokan, gak pernah sendiri." Gleen semakin puas meledek Danu.


Danu mendengus kesal, tiba-tiba saja dia menjadi teringat tentang ibu tirinya, kemudian dia berkata kepada Alvaro. "Al, kayaknya aku rasa ibu memang ada sesuatu dengan Felicia. Waktu aku tanya tentang Felicia pada ibu, ibu terlihat sangat sedih begitu. Ada masalah apa ya antara Felicia dan ibu?"


Alvaro terdiam sejenak, kemudian dia menanggapi perkataan Danu. "Kalau masalah sih kayaknya gak mungkin, karena Felicia sendiri terlihat biasa saja dan memperlihatkan dia baru pertama kali melihat ibumu."


"Wah PR kita makin banyak aja ini, apa mungkin saat melihat wajah Felicia ibumu menjadi teringat seseorang?." tanya Gleen kepada Danu.


"Aku juga kurang tahu, karena seingat aku hanya Maura satu-satunya keluarga yang ibu punya." jawab Danu.


Kemudian Gleen mulai bercerita tentang Salman. "Semalam aku sudah menangkap Salman, aku menyekapnya di ruang bawah tanah. Tadi pagi sebelum aku berangkat kesini aku menyiksa dia lagi, sayangnya dia masih memilih bungkam."


"Begitulah seorang mafia, mereka dituntut untuk setia dan mendedikasikan dirinya pada tuannya. Aku juga dulu begitu, tapi beruntung Tuan Marvin adalah seorang ketua mafia yang pengertian dan baik pada semua anak buahnya." Danu menceritakan kisah masa lalunya ketika dia masih menjadi anggota Athena, padahal Danu termasuk anak buah anggota Athena yang sangat diandalkan oleh Marvin dulu. Bahkan saat Danu pergi, dia hanya membawa sebagian uangnya saja, mungkin karena takut orang tuanya curiga jika dia membawa uang yang besar, dia hanya butuh uang untuk membangun rumah makan, dan ingin menjalani kehidupan yang sederhana.


Alvaro memiliki ide cara untuk menakuti Salman, "Aku memiliki ide bagaimana caranya agar Salman mau berbicara."


Gleen menjadi penasaran, "Bagaimana caranya?"


Alvaro langsung membisikkan sesuatu kepada Gleen.


...****************...


Tasss!


Tasss!


Tasss!


"Arrrgghh!"


"Arrrgghh!"


Gleen sama sekali tak merasa kasihan pada ayah angkatnya itu, dia mencambuk punggung Salman lagi dengan ikat pinggang.


Tasss!


Tasss!


Tasss!


"Sampai kapan kamu akan bungkam seperti ini heuh?" tanya Gleen dengan nafas memburu, dia sangat marah karena Salman masih bungkam juga, enggan untuk menjawab semua pertanyaan darinya.


Kemudian Gleen bergerak berjalan ke arah lemari yang ada disana, dia membuka lemari itu, membawa sebuah tang, lalu dia berjalan ke arak Salman.


"Baiklah, kalau kamu tidak ingin menjawab pertanyaanku, aku akan membuatmu menjadi bisu, aku akan mencabut lidahmu!"


Mata Salman melotot melihat tang yang ada di genggaman Gleen, dia sangat ketakutan sekali.


"Jangan! Jangan lakukan itu. Aku mohon!" Salman berteriak ketakutan, menarik-narik rantai yang mengikat kedua tangannya sampai tangannya berdarah, dia terus berusaha mencoba untuk memberontak.


Gleen sama sekali tak mempedulikannya, dia mencengkram mulut Salman, memaksanya untuk membuka mulut pria itu selebar mungkin agar bisa menarik lidahnya Salman dengan tang.


"Arrrgghh! Aku akan bicara jujur!"


"Aku akan bicara jujur!"


"Jangan cabut lidahku!"


"Aku mohon!"


Salman berteriak-teriak ketakutan, ketika Gleen hampir saja memasukan tang ke dalam mulutnya.


Gleen langsung mencengkeram kerah bajunya Salman, pria itu terlihat begitu menakutkan untuk Salman. Mungkin begitulah sifat sesungguhnya Gleen, dia terlihat ceria hanya di luar saja.


"Katakan padaku! Siapa kedua orangtuaku!" bentak Gleen dengan sorot matanya yang begitu menusuk menatap Salman, dan cengkraman pada kerah bajunya semakin kuat.


"Tu-Tuan Arsen. Tuan Arsen adalah ayahmu."


Prang!


Jawaban dari Salman sungguh mengejutkan untuk Gleen, membuat tang yang ada digenggamnya terjatuh ke lantai.