Kembalinya Sang Pewaris (Gleen Fernando)

Kembalinya Sang Pewaris (Gleen Fernando)
Bab 39


Besoknya...


Setelah bertemu dengan Felicia semalam, membuat Mira tak bisa tidur, bahkan wanita paruh baya itu menangis semalaman, mungkin bagi Mira diusianya yang kini telah genap 50 tahun, akhirnya dia telah mendapatkan kado terindahnya, rasanya seperti mimpi dia bisa makan malam bersama Felicia, walaupun dia tak bisa memeluknya, hanya bisa diam-diam memperhatikan putri sulungnya itu.


Dengan kehadiran Maura, dia bisa sedikit mengobati rasa sakitnya yang telah kehilangan Felicia, walaupun akhirnya dia harus kehilangan Sandi saat dia melahirkan Maura di rumah sakit. Sandi bilang dia akan mencari uang untuk biaya persalinan, tapi malah menjadi korban tabrak lari sehingga membuat suami pertamanya itu tewas.


Setelah dua tahun menjanda, barulah dia bertemu dengan Wisnu, ayahnya Danu. Perlakuan Wisnu berbeda dengan Sandi, Sandi dulu sangat pemalas dan pengangguran, sehingga harus Mira yang bekerja. Sementara Wisnu adalah seorang pekerja keras.


Setelah Danu lulus SMA, Danu berpamitan untuk bekerja di luar negeri, padahal dia nekad bergabung dengan sekelompok mafia bernama klan Athena di Australia, yang kini telah diketuai oleh Marvin Leonardo. Itu semua dia lakukan demi membantu keuangan keluarga, apalagi ayahnya saat itu harus di operasi karena mengidap penyakit leukimia.


(Kisah Marvin Leonardo ada dalam novel A Dangerous Man).


Keluarganya sama sekali tidak tahu bahwa Danu pernah menjadi seorang mafia, hanya kedua sahabatnya yang tahu rahasia besar itu, apalagi Danu sudah memutuskan untuk keluar dari dunia mafia, ingin menjalani kehidupan normal bersama keluarganya. Selama bergabung dengan dunia mafia, dia memiliki keahlian dalam menghacker ataupun dalam membuat bom, walaupun keahlian dalam membuat bom sudah tidak dia gunakan lagi, kecuali bom mainan ataupun seperti sirine buatan yang digunakan Gleen semalam, untuk mengelabui musuh.


"Ibu kenapa? Ibu sakit ya?" tanya Maura begitu melihat raut wajah ibunya yang nampak pucat.


Mira pura-pura tersenyum, "Ibu gak apa-apa kok, Maura. Ibu cuma kurang tidur, mungkin gara-gara semalam terlalu banyak minum kopi hitam."


"Ya udah hari ini mending Maura gak usah masuk kuliah aja, biar jaga ibu dirumah." Maura memang paling senang bolos kuliah.


Danu langsung menyahut, "Gak bisa, kamu harus kuliah. Biar aku yang jaga ibu."


Maura langsung memanyunkan bibirnya, gagal sudah alasan dia buat bolos kuliah gara-gara kakak tirinya yang selalu bersikap menyebalkan itu, padahal memang sebenarnya sang ibu tidak sakit.


Mira sangat merasa senang karena Maura dan Danu ingin sekali menjaganya, "Udah, kalian kuliah dan kerja saja. Ibu gak apa-apa kok, kan ada ayah ini."


Wisnu hanya tersenyum karena setiap hari di rumah selalu saja ada huru hara antara Maura dan Danu.


"Emm... Danu." Mira nampak ragu untuk mengatakannya.


"Ada apa, Bu?" tanya Danu kepada Mira.


"Jadi wanita yang semalam Gleen bawa kesini itu pacarnya Gleen?" Mira hanya ingin tahu saja apakah beneran apa yang Gleen bilang bahwa Felicia adalah calon istrinya, jika benar, sebagai seorang ibu, dia akan merestui hubungan mereka walaupun tak mungkin dia ucapkan secara langsung.


Malah Maura menjawab, "Kak Gleen itu calon menantu ibu, kan nanti akan nikah sama aku."


"Kamu itu masih dua puluh tahun, kuliah yang benar." Danu malah mengomel kepada sang adik tiri.


Mira pun tersenyum, dia sebenarnya tahu perasaan Maura pada Gleen bukanlah cinta, tapi dia hanya memuja ketampannnya saja, alias fans. Karena Gleen memang memiliki banyak fans dikalangan wanita.


Kemudian Mira menunjukkan lima nasi kotak kepada Danu, "Boleh ibu titip ini buat sahabat kamu, atas bentuk rasa terimakasih karena sudah datang semalam."


Danu mengerutkan keningnya begitu menghitung jumlah nasi dus itu. "Lima? Untuk siapa saja, bu?"


"Yang satu buat bekal kamu, yang dua untuk Al dan istrinya, dan yang dua lagi untuk Gleen dan pacarnya." Mira ingin sekali Felicia memakan masakannya lagi.


...****************...


"Jangan lupa nanti kita datang ke restoran Gerrad Signature, ini sangat penting sekali." Arsen mengingatkan Felicia akan acara makan malam bersama Alvin dan ayahnya.


Perkataan ayahnya membuat Felicia semakin tak berselera makan, dia menyimpan garpu dan sendok yang dari tadi dia mainkan, "Memangnya ada acara apa, Pa?"


"Papa juga tidak tahu. Jangan mengecewakan Om Robert dan Alvin lagi, mereka adalah orang yang sangat papa percaya." Arsen memperingatkan Felicia, mungkin karena takut seperti acara amal waktu itu, Felicia tidak datang.


"Akan aku usahakan datang." ucap Felicia dengan nada datar, dia pun segera berdiri, untuk berpamitan kepada ayahnya. "Aku berangkat kerja dulu, Pa."


"Kamu belum makan lho, Felicia?"


"Aku belum lapar, Pa." setelah berkata seperti itu, Felicia pun pergi.


Di tengah perjalanan, Felicia menghela nafas panjang sambil memperhatikan suasana kota Jakarta, mungkin karena memikirkan kejadian semalam, dia penasaran siapa orang yang membunuh Milea.


"Kita langsung ke kantor pusat saja, Nona?" tanya Asisten Ana yang sedang menyetir mobil.


"Hm." jawab Felicia dengan singkat.


Kedatangan Felicia memang selalu membuat tegang para karyawannya, mereka segera berjajar dengan rapi di kantor bagian depan, untuk menyambut kedatangan sang nona muda.


Felicia berjalan dengan begitu elegan melewati para karyawan yang menunduk hormat kepadanya, kemudian wanita itu masuk ke dalam lift diikuti oleh Asisten Ana.


Begitu tiba di ruangannya, Felicia nampak terkejut saat melihat ada satu buah nasi kotak berada diatas meja.


"Nasi kotak siapa ini?"


Felicia melihat ada selembar kertas diatas nasi kotak tersebut.


...Makan yang banyak calon istri, demi calon anak kita. Kebetulan Tante Mira menitipkan makanan ini untukmu atas bentuk rasa terimakasih karena sudah hadir ke acara ulang tahunnya semalam. Aku rasa kamu sangat menyukainya, makanya kamu makan banyak....


...Dari : Calon Suamimu...


Felicia menghela nafas, dia tahu pasti siapa pengirim surat itu.


Entah bagaimana caranya pria itu bisa masuk ke dalam ruangannya, Gleen memang memiliki keahlian yang di luar nalar.


"Calon anak? Anak apaan? Anak ayam?" gerutu Felicia dengan nada kesal setelah membaca surat itu.


Felicia pikir lebih baik dia membuang nasi kotak tersebut ke tong sampah, tapi dia mengurungkan niatnya begitu mengingat bagaimana lezatnya masakan Mira, tiba-tiba saja dia merasakan lapar.


"Baiklah, aku icip sedikit saja." Felicia duduk di kursi sofa, lalu mulai mencicipi makanan itu dengan hati-hati, niat awalnya hanya satu suap, kemudian dua suap, sehingga akhirnya dia makan sampa habis.


"Astaga, kerasukan apa aku sampai bisa makan sebanyak itu?" seru Felicia ketika menyadari bahwa di dalam nasi kotak itu sudah bersih tanpa sisa.