Kembalinya Sang Pewaris (Gleen Fernando)

Kembalinya Sang Pewaris (Gleen Fernando)
Bab 51


"Aaaaa! Mengapa ularmu besar sekali, Gleen?" Felicia ngeri melihatnya. Wajar saja jika dia kaget seperti itu, karena ketika dia dan Gleen melakukannya waktu itu, Felicia dalam keadaan mabuk, sehingga dia belum sempat melihatnya, hanya merasakannya bagaimana sang joni masuk mengoyak goanya.


Gleen tak mendengarkan perkataan Felicia yang memprotes bahwa ularnya terlalu besar. Gleen berjongkok, membuka celana da-lam milik Felicia yang sudah basah, kemudian dia membuka paha Felicia dengan lebar, menarik kedua pahanya agar semakin dekat dengan wajahnya.


Wajah Felicia sangat terlihat merah merona, mungkin dia sangat malu karena wajah Gleen berhadapan dengan lembah surgawinya, bahkan wajah Gleen terlihat semakin mendekat.


"Gleen apa yang kau... Ahhh!"


Felicia berhenti berkata ketika merasakan Gleen meraup area intinya, membuat dia menganga, merasakan lidah Gleen menyapunya dengan lembut, dan bergerak memainkan satu titik yang paling sensitif, bergerilya disana. Kemudian titik tersebut dia hisap dengan kuat.


"Oohh!" Felicia seakan telah kehilangan arah, tersesat ke dalam sebuah kenikmatan.


Lidah yang lembut dan hangat itu terus bergerak masuk ke dalam, mengobrak-abrik setiap jengkalnya.


Felicia terus mengerang, dia menjambak rambut Gleen kala Gleen semakin buas melu-mat miliknya. Gleen menghisapnya semakin keras, dan mencumbuinya disetiap incinya.


Felicia tanpa sadar melebarkan kedua pahanya, membiarkan kepala Gleen tenggelam semakin dalam. Bahkan kini Felicia menjerit penuh kenikmatan merasa pelepasan yang kedua, Gleen semakin ganas melu-matnya.


"Ahhh... stop Gleen!" Felicia sudah tidak tahan, mungkin dia sudah tidak tahan ingin langsung kebagian inti, akan tetapi Gleen belum berhenti juga mengobrak-abrik goa Felicia, sampai Felicia dibuat basah untuk ketiga kalinya.


"Ahhh... ahhh!" Felicia meremang, Gleen sungguh membuatnya tak berdaya, sampai nafasnya ngos-ngosan.


Tiga kosong. Felicia kalah telak, Gleen sudah bisa membuat Felicia takluk kepadanya.


Gleen duduk di sofa, merengkuh tubuh Felicia agar duduk dipangkuannya dengan saling berhadapan, membuat sang jantan yang sudah berdiri tegak masuk begitu saja ke dalam goa Felicia.


"Mhhh!" Felicia sedikit kaget merasa ada sesuatu yang kini telah memenuhi miliknya.


Sementara Gleen menggeram keenakan. "Ahhh... Felicia!"


Malam ini rasanya lebih sangat nikmat, mungkin karena melakukannya sama-sama dalam keadaan sadar.


Gleen semakin rakus melahap buah melon milik Felicia, merasakan betapa nikmatnya sang jantan dimanjakan di dalam sana, sungguh sangat nikmat.


Mereka habiskan malam ini dengan bercinta dan bercinta, sehingga kini mereka sudah berada di dalam kamar, dan Gleen yang mendominasi diatas tubuh Felicia. Mengen-jot tubuh Felicia dengan ganas.


Plok


Plok


Plok


Terdengar begitu keras bagaimana irama sang jantan yang sedang keluar masuk di bawah sana.


Gleen sangat brutal malam ini, tak memberikan waktu pada Felicia untuk beristirahat, mumpung Felicia lagi mode pasrah, dia harus memanfaatkan situasi, bisa saja wanita itu kembali ke mode macan betina yang galak.


Sungguh nikmat. Benar-benar nikmat. Sampai semua rasa sakit yang Gleen rasakan sudah tak dia hiraukan lagi. Felicia benar-benar telah menjadi obat untuknya.


Gleen mempercepat gerakannya ketika dia sudah merasakan akan menuju pelepasan, membuat cairan kental itu dia semburkan ke dalam milik Felicia yang telah dia buat basah berkali-kali.


"Arrrgghh!" Gleen terengah-engah, tubuhnya bergetar hebat, dia menenggelamkan kepalanya pada leher Felicia, setelah merasakan betapa nikmatnya telah mencapai pelepasan.


Kemudian dia menyambar buah melon favoritnya sebentar, lalu mengecup bibir Felicia, rupanya wanita itu sudah tertidur. Mungkin wanita itu sudah dibuat kelelahan oleh Gleen.


Gleen tersenyum penuh rasa kemenangan, dia mengecup bibir Felicia bekali-kali, wanita itu sangat terlihat menggemaskan. "Kamu kalah, Felicia."


Kemudian dia mengecup kening wanita cantik itu.