
Waktu pun terus berlalu. Hubungan pertemanan Ameena dengan Indah and the gank sudah berjalan selayaknya teman satu kelas seperti yang lain.
"Jangan Melamun.. " terdengar suara yang tiba-tiba mendekat kepada Ameena.
"Eh, Kak dewo. hehe aku tidak sedang melamun tadi tuh" sanggah Ameena
"Kamu lebih banyak diam sekarang" ucap kak dewo sery melihat Ameena. "Padahal dulu kau terkenal sebagai salah satu siswi yang paling ceria & suka sekali tertawa sama hal receh"
Ameena tersenyum lalu membalas tatapan kak dewo yang sedari tadi ditujukan kepadanya.
"Sekarang aku mengerti, bahwa semua hal tak untuk ditertawakan & dijadikan bahan candaan. " jawabnya sembari kembali melihat luasnya pemandangan gunung didepan sana. Ya sekolahan 2 tingkat itu menyajikan pemandangan yang sangat Indah, karena dari sana kita dapat melihat gunung & danau walau dari kejauhan.
"Banyaknya diamku bukan karena masih meratapi kejadian yang pernah terjadi kemarin antara aku & teman-temanku. Aku hanya ingin lebih berhati-hati dalam berbicara sekarang. Aku takut.." memotong ucapannya dan kembali menghadap ke Dewo yang juga sedang menatap indahnya pemandangan didepannya.
"Aku takut dengan sikapku yang terlalu banyak dalam berbicara dapat menjadi boomerang tersendiri buatku. Aku juga takut secara sadar atau tidak ucapanku akan menyakiti orang lain" ucap Ameena mengakhiri kalimatnya.
"Tapi setidaknya kembali lah seperti dulu lagi & menjadi dirimu sendiri" ucap Dewo. Ameena tersenyum getir
"Aku tetap Ameena. Perubahan yang terjadi saat ini bukan karena aku sudah tidak menjadi diriku sendiri lagi, tapi.. aku yang memulai diriku sendiri menjadi Ameena yang akan lebih kuat & lebih baik lagi dari sebelumnya.Tenang.., aku tidak memaksakan diriku untuk itu semua ko' ka. Aku benar-benar melakukannya dengan niat yang begitu besar dalam hati ini, dan kulakukan pelan-pelan semampuku. Jadi, it's oke aku baik-baik saja" ucap Ameena panjang lebar menenangkan Dewo yang sudah dianggapnya kakak di sekolahan tersebut.
Senyum Dewo merekah. Dewo merupakan salah satu guru muda disana, Ia digandrungi oleh banyak siswi yang kesensem setiap melihat paras dari guru ekstrakulikuler pramuka tersebut. Namun tidak dengan Dewo, dari banyaknya siswi yang mengangguminya sepertinya ia lebih menyukai sesosok gadis mungil yang sedang menjadi teman bicaranya sekarang, siapa lagi kalau bukan Ameena. Tapi Ameena tak menyadarinya, ia hanya menganggap Dewo sebagai Kakak karena seringnya mereka dalam melakukan kegiatan bersama.
"Pantas saja kau punya banyak fans laki-laki diluaran sana, ternyata adekku yang satu ini selain cantik juga dewasa dalam berfikir hehe" ucap Dewo seraya mengacak-acak ujung kepala Ameen yang berbalut Hijab tersebut.
"Ah kaka bisa aja, lagian Memang benar diam itu emas tapi menurutku berbicara diwaktu yang tepat merupakan berlian yang pastinya memiliki harga lebih mahal daripada emas. Dalam islam juga dijelaskan ”Diam adalah bentuk ibadah yang paling tinggi.” kenapa?.. ya karena merupakan akhlak yang baik dalam kehidupan agar bisa menahan diri untuk tidak berkata buruk yang tidak bermanfaat. jadi itu termasuk satu dari empat etika kebaikan yang sangat utama dalam Islam."
"Baik Ustadzah Ameena" Goda Dewo
"Yaudah ka'.. udah sore Ameena pulang dulu ya, takut dicariin Mama karena anak gadisnya yang amat lucu ini belum pulang sampai jam segini hahaha. Assalamualaikum.." ucap Ameena sambil berlalu dari hadapan Dewo
"Waalaikumussalam Warahmatullah.." jawabnya
"Ameena.. Ameena.. bagaimana aku ngga tambah kagum sama kamu" imbuh batin Dewo.
Setelah Sampai rumah dan membersihkan dirinya, Ameena membuka sebuah buku berwarna kombinasi hijau bermotifkan daun sembari merebahkan dirinya dikasur kesayangannya. lalu dituliskannya.
Hi Buna..
Kembali ku torehkan tinta kisah hidupku kepadamu..
Hitam memang,..
Semua sudah berlalu..
Dan aku sadar, ternyata karenanya Aku lebih kuat & hebat.
Siapa lagi kalau bukan mereka Sahabatku
aku tak cukup mampu untuk menggambarkannya
Segala baik, buruk, lebih, dan kurangnya ternyata memberiku arti bahwa memang semua tiada yang sempurna.
Kini Aku mengerti..
Bahwa Sabar juga butuh jalan keluar,
dan saat aku ikhlas..
cahaya menemukan pintunya.
Tenang.. itulah aku kini.
Semua jauh lebih baik sekarang.
Cukup sampai disini kutuliskan tentangmu Sahabatku..
Siapapun kamu.. akan selalu ada dalam ingkatanku, kisahku & hatiku
Ameena, Februari 2017
Alhamdulillah..
Hai.. Hai.. para readers tercinta..
Chaper 1 udah selesai nih.. terimakasih sudah ikut berpartisipasi dan menyemangati Otor ya.
semoga segala kisah baik & nasihat yang kusampaikan bisa untuk bahan kita belajar bersama-sama and hal kurang baiknya bisa kita jadikan pelajaran agar jangan sampai terulang kembali.
Like & Coment saran terbaiknya ya..
Bersambung..