
Jlebb
"Ameena dengarkan bapak.. Masalah ada itu untuk dihadapi, bukan dibawa lari atau bahkan ditinggal pergi. Jika Ameena punya masalah kecil seperti ini saja belum selesai malah ditinggal pergi hanya karena tidak sanggup, apa iya saat Ameena mendapat masalah lagi Ameena akan pergi lagi, Apa mau seperti itu terus? selalu lari dari maslah hanya dengan alibi tidak sanggup" ucap pak Dwi dengan penekanan
"Bapak rasa Ameena juga sudah faham apa itu Sabar & ikhlas. Jadi.. tanpa harus bapak sampaikan lagi, bapak harap Ameena bisa mengaplikasikan kekuatan itu untuk keluar dari permasalahan ini" lanjut pak Dwi
" Ameena bingung pak. Ameena mengaku memang salah karena terlalu baperan, hanya karena dibentak sedikit langsung bilang kalau mereka kasar, Tapi.. apa maaf Ameena ngga bisa mebebus kekeliruan Ameena ke mereka? bahkan Ameena sudah sering menyampaikan permintaan maaf ke mereka namun sepertinya hanya menjadi angin lalu bagi mereka". Ameena yang mulai menyampaikan uneg-uneg nya.
"Ameena" Panggil pak Dwi
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Qs.Al-Baqarah : 285)
"Allah yakin Ameena mampu menghadapi ini, makanya allah nitipin masalah ini ke Ameena. Allah cuma minta Ameena bersabar dan selalu berserah diri padaNya, yakinlah kalau semua takdir yang diberikanNya itu yang terbaik bagi Ameena. Berikhtiar lah semampunya lalu serahkan semuanya ke pada Allah" wejang pak Dwi
Ameena sudah tak dapat membendung air matanya, tetesan bulir air mata itupun jatuh membasahi kedua pipinya. Bagaimana tidak, ia hampir saja melupakan Allah sang pemilik takdir hingga terbawa oleh dunia yang akan membuatnya putus asa tersebut.
"Astagfirullah.. Astaghfirullah.. Astaghfirullah.." gumam aisyah pelan
"Ampuni hamba ya Rabb.. maafkan hamba yang bahkan hampir saja menyerah hanya dengan sedikit titipan ujian dariMu ini, tunjukkan hamba jalan yang kau Ridhoi, bantu hamba menyelesaikan ujian ini ya Rabb". Doa Ameena dalam batinnya.
"Ameena.. kita dititipi oleh Allah 2 tangan, memang tidak mampu untuk menutup setiap mulut siapapun yang akan membicarakan kita. Namun kita memiliki 2 tangan tersebut untuk menutup telinga kita agar tak terbawa oleh apa yang mereka bicarakan terhadap kita jika itu memang bukan hal yang baik. Tetapi jika itu sebuah hal baik dengarkanlah, Resapilah & laksanakanlah agar menjadi pembelajaran bagi kita"
"Terimakasih pak sudah membantu Ameena membuka jalan pikiran yang memang beberapa hari ini kalut hanya karena masalah ini hehe" ucap Ameena yang sudah bisa sedikit tersenyum walaupun masih saja ada air mata yang menetes llu diusapnya.
Ameena bersyukur bisa dipertemukan dengan pak Dwi. Beliau memang salah satu guru yang hampir setiap hari bertemu dengannya karena Ameena sering membantu pak Dwi saat pengecekan siswa disetiap kelas.
"Jadi masih tetap ingin untuk pindah sekolah Ameena?" tanyanya pada Muridnya tersebut
"Sebenarnya hal itu pun belum pasti pak, Karena saya.. baru hanya memikirkannya. Tapi entah bagaimana info ini sudah tersebar kemana-mana" sahut Ameena
Ditengah pembicaraan serius diantara pak Dwi & Ameena, keluar lah bu kumala yang sudah berpakaian rapi sepertinya beliau sudah akan berangkat untuk berjualan karena memang waktu menunjukkan pukul 9 kurang 20 menit. Biasanya bu Kumala membuka dagangannya sebelum jam istirahat anak sekolah dimulai.
"Maaf mengganggu Pak Dwi, saya izin pamit untuk berangkat jualan dulu. Silahkan dilanjut saja, saya belum bisa ikut menemani. Saya harap pak Dwi bisa membantu memberikan solusi terbaik bagi Ameena setelah ini" harap bu Kumala dengan halus & sopan seraya melihat pak Dwi & Ameena bergantian.
"Oh iya bu silahkan, Kemungkinan sebentar lagi juga saya akan undur diri karena sebentar lagi ada kelas. Saya doakan hari ini diberikan laris dan berkah dalam berjualannya ya bu."
"Aamiin, Insyaallah"
"Mari, Assalamualaikum.. " pamit bu Kumala
"Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh" jawab mereka serentak
"Oh iya pak, silahkan diminum terlebih dahulu teh nya, maaf adanya hanya teh hangat pak hehe.
"Terimakasih Ameena, ini sudah lebih dari cukup"
Setelah kurang lebih 3 kali pak Dwi meneguk teh nya tersebut, Beliau lanjut menyampaikan nasihatnya kepada Ameena.
"Dan hal tersebut akan Ameena dapatkan disaat Ameena sudah dapat berdiri tegak dengan solusi yang tak lain datangnya dari diri Ameena sendiri."
"Tapi Ameena merasa tidak bisa menyelesaikan ini sendiri pak"
"Jangan pernah bilang tidak bisa. 1000 orang membantu Ameena pun, kalau Ameena tidak meyakinkan diri sendiri akan hal apa yang akan dipilih semua akan percuma"
Terlihat raut wajah Ameena yang semakin bingung dengan apa yang disampaikan pak Dwi
"Begini contohnya.. sekarang Ameena ingat, ada berapa guru yang datang kesini dari kemarin? mereka datang memberikan semangat, dukungan bahkan juga ada yang memberikan solusi pada Ameena. Tapi apakah setelah mereka datang ada yang bisa membuat Ameena merubah pikiran yang kalut tersebut, ada yang benar-benar bisa membuat Ameena keluar dri masalah ini atau setidaknya membuat Ameena berangkat ke sekolah lagi lah, ada?"
Ameena menatap pak Dwi seraya menggelengkan kepalanya
"Nah itu.. itu bukan karena jumlah mereka kurang banyak nak atau karena Ameena tidak bisa menyelesaikannya tanpa dibantu siapapun. Tapi itu karena apa yang telah mereka sampaikan kepada Ameena, satupun ngga ada yang Ameena pilih atau coba untuk membuat Ameena menyelesaikan masalah ini."
"Dari sini seharusnya Ameena mulai faham bahwa yang bisa menyelesaikan masalah ini ya bukan orang tua, bapak ibu guru atau orang lain tapi diri Ameena sendiri. Kami orang-orang disekitar Ameena hanya mampu memberikan semangat & solusi namun untuk tindak lanjutnya diri Ameena sendiri yang harus bisa untuk memutuskan. sampai sini apakah Ameena sudah mengerti?"
Ameena mengangguk, walaupun masih mencerna rangkaian kata yang telah disampaikan guru BK nya tersebut.
"Baiklah Ameena, sepertinya Tugas bapak juga sudah selesai. Tolong difikirkan baik-baik keputusanmu kedepannya. Bapak tunggu Ameena buat bantu bapak hari senin nanti kalau memang Ameena siap untuk bertahan, oke.. Ingat, ada Orang tua yang harus Ameena fikirkan. Setidaknya dengan beasiswa ini membantu mereka mendapatkan keringanan untuk pendidikan anak-anak nya, jadi bapak harap Ameena tidak mengecewakan mereka." ucap pak Dwi untuk menyemangatinya
"InsyaAllah pak, akan saya fikirkan kembali dengan matang-matang, seraya memohon petunjuk kepada Allah SWT. Terimakasih ya pak, saya tidak tahu jadinya saya seperti apa tanpa bapak bantu buka pikiran saya hari ini, maaf merepotkan bapak juga guru-guru yang lain hanya untuk menyelesikan masalah Ameena" ungkap Ameena yang merasa tidak enak karena hampir 6 hari berturut-turut para guru datang bergantian hanya untuk sekedar membujuknya.
"Tak apa Ameena, itu memang salah satu tugas kami sebagai bapak & ibu guru. Tentunya kami sebagai orang tua juga akan merasa sedih jika melihat anak-anak kami sedang ada yang tidak rukun. Yasudah kalau begitu bapak pamit ya Ameena, sebentar lagi bapak masih harus isi jam pelajaran" ucap pak Dwi
"Baik pak, sekali lagi Ameena ucapkan terimakasih ya pak" ucap Ameena seraya mengatupkan dua tangannya kedepan dada lalu setelah itu memberikan tangannya untuk berjabat tangan secara takzim kepada gurunya tersebut.
"Sama - sama Ameena, bapak pamit dulu, bapak harap Ameena sudah bisa membedakan mana yang baik atau mana yang kurang baik untuk diri Ameena sendiri. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, Hati-hati dijalan pak"
Setelah suara motor pak Dwi terdengar semakin menjauh dari tempat Ameena berdiri sekarang, masuklah Ameena ke kamarnya.
"Keputusanku sudah bulat. Bismillah"
"........."
*********
Bersambung
Author ceritanya datar banget nih, kurang tegang..
Hihi karena ceritanya ini masih anak sekolah jadi kisah & pembelajarannya seputar anak sekolah dulu ya bestiee.. jadi memang sengaja dibuat masih agak ringan juga tidak terlalu kasar agar mencirikan problem2 antara anak remaja. pokonya jangan lupa pentengin terus ya.. dan beri semngat juga nih othornya biar semngat teruss, terimakasih