
Ana baru saja selesai mandi, dan kemudian bersiap untuk sarapan. Mama Ana memberikan sepiring nasi hangat untuk Ana. Setelah menerima piring tersebut Ana mengambil lauk pauk yang ada di meja makan.
" Ini ayam sisa kemarin ya ma?" Tanya Ana.
" Iya, udah mama masak lagi kok. Tambah enak itu." Jawab Mama Ana.
" Oh oke. Aku ambil ya, Mba Arin udah makan kan?" Tanya Ana memastikan.
" Udah makan aja, daripada sayang ga ada yang makan." Jawab Mama Ana.
" Assik. Mba Arin udah berangkat ma?" Tanya Ana lagi.
" Iya, berangkat gasik katanya ada tugas bareng temen yang belum sempet dikerjain." Jawab Mama Ana.
" Oh tumben." Jawab Ana singkat.
" Udah buruan dimakan keburu siang. Untuk masalah subuh tadi ga usah dipikirin, anggep aja ga ada. Ngerti ya Na." Perintah Mama Ana.
" Iya Ma." Jawab Ana.
Setelah Ana selesai sarapan, Ana bergegas keluar rumah untuk naik angkot. Kebetulan ada angkot yang sedang berhenti tepat di depan rumah Ana, Ia pun menyeberang dan langsung naik angkot tersebut.
Sehari Ia tidak berangkat sekolah, masalah dengan Novi dan Petra pun terlupakan. Bahkan Ia tak sempat memikirkan masalah tersebut dikarenakan masalah teror yang dialaminya. Sampai tak diduga, Novi naik angkot yang sama dengannya.
Novi melihat Ana ada di angkot tersebut, namun karena angkot sudah terlanjur berhenti, mau tak mau Ia pun naik angkot tersebut. Mata Ana dan Novi bertemu, namun mereka saling membuang muka.
Terlihat Novi kesal bertemu dengan Ana. Sepanjang perjalanan mereka tidak saling menyapa. Sebenarnya Ana ingin menyapa terlebih dahulu, namun melihat wajah Novi yang kesal, Ia pun mengurungkan niatnya.
Akhirnya angkot pun sampai di perempatan biasa mereka turun, namun sekali lagi mereka memilih jalan yang berbeda untuk sampai di sekolah. Ana memilih jalan yang biasa mereka lewati, sedangkan Novi memilih jalan yang lebih jauh.
Ana telah sampai di sekolah, dan Ia langsung menuju ke kelasnya. Ia tidak ingin berpapasan lagi dengan Novi, dan merasa canggung sendirian. Setelah di kelas, Ia lega karena Ali sudah datang.
" Hehe iya alhamdulillah." Jawab Ana.
" Kamu berangkat sendiri? Mana Novi? Eh maksud aku, kamu ga berangkat sama Mba Arin?" Tanya Ali sambil meralat pertanyaan pertamanya.
" Iya aku berangkat sendiri, Mba Arin udah berangkat duluan." Jawab Ana.
" Eh gimana kemarin di sekolah? Ada berita apa?" Tanya Ana.
" Ga ada apa-apa kok, cuma sepi aja ga ada kamu haha. Emm maksud aku kan aku sendirian, ga punya temen sebangku." Jawab Ali sibuk melarat omongannya.
" Haha kamu kesepian ya ga ada aku." Ledek Ana.
" Haha pede amat sih. Eh kamu udah ngerjain PR matematika belum?" Tanya Ali mengalihkan pembicaraan.
" Udah dong, tapi ada satu soal yang aku ga yakin jawabannya. Coba liat deh punya kamu gimana?" Pinta Ana.
" Yang nomor berapa? Nih liat aja sendiri." Kata Ali sambil menyodorkan buku PR matematika nya.
Beberapa lama kemudian mereka sibuk dengan PR matematika nya. Teman sekelas yang melihat kedekatan mereka menyangka bahwa mereka terlibat hubungan yang spesial. Meskipun selama ini mereka sudah dekat, namun saat ini mereka terlihat seperti seseorang yang sedang melakukan pendekatan ke hubungan spesial.
Saat teman-teman yang lain sedang bisik-bisik menggosipkan Ana, tiba-tiba Novi masuk ke dalam kelas. Wajahnya terlihat kesal.
" Kamu kenapa Nov, masuk kelas kok langsung cemberut gitu." Tanya Asep penasaran.
" Apa sih, ga kenapa-kenapa kok." Jawab Novi.
Mendengar jawaban Novi, teman-teman sekelas kemudian beralih menggosipkan Novi. Mereka menyangka bahwa Novi sedang bertengkar dengan Petra. Berbeda dengan Ana yang sedang kasmaran, Novi justru terlihat sedang tidak baik-baik saja. Itu akibat dari merebut pacar teman sendiri. Begitu bunyi gosip yang tersebar.