JENDELA

JENDELA
PERMINTAAN MAAF


Ana turun dari angkot, selama jalan kaki menuju sekolah pikirannya hanya terfokus ke ciri-ciri pelaku yang menerornya. Memakai topi, hanya itu yang Ana tahu. Bagaimana besarnya orang tersebut, atau tingginya pun Ia tidak tahu.


Tak lama Ana sudah sampai di sekolahnya. Ana pun menuju kelasnya. Di kelas belum banyak orang, Ana adalah orang ketiga yang datang ke kelas karena memang Ana berangkat awal dan Ali juga sudah ada dikelas.


“ Hai Na. ga bareng Novi?” Tanya Ali.


“ Gak, aku berangkat duluan. Bareng Mbaku soalnya.” Jawab Ana sembari meletakkan tasnya di laci meja.


“ Kok kaya lesu sih, belum makan ya?” Tanya Ali penuh perhatian.


“ Udah kok, tapi cuma dikit sih.” Terang Ana.


“ Ga suka ama lauknya apa gimana Na?” Tanya Ali lagi.


“ Lagi ga selera aja sih.” Ketus Ana. Menurut Ana, Ali terlalu cerewet untuk ditanggapi saat ini, apalagi Ana sedang banyak pikiran.


“ Terus karena apa?” Tanya Ali kembali.


“ Ali, aku bisa sendiri dulu ga? Kepalaku pusing.” Pinta Ana.


“ Oke, maaf ya udah ganggu kamu.” Jawab Ali.


Setelah itu Ali dan Ana tidak saling bicara lagi sampai Novi datang ke kelas.


“ Hai semua.” Sapa Novi ke teman-teman kelas.


“ Ceria banget Nov tumben.” Ledek Asep.


“ Syirik tanda tak mampu.” Jawab Novi.


“ Hai Na, Ali. Kok diem-dieman.” Sapa Novi.


“ Husst. Ana lagi pusing katanya.” Bisik Ali sambil menunjuk Ana yang sedang terlelap di mejanya.


“ Loh Ana tidur ya. Ga keliatan tadi.” Kata Novi.


“ Iya makanya diem, nanti kalau Guru udah dating baru deh kita bangunin. Kasian Ana, tadi juga keliatan lesu banget.” Terang Ali.


“ Oh, ya dah kalau gitu.” Kata Novi.


Mereka pun diam menunggu bel masuk. Saat guru datang, mereka membangunkan Ana.



Waktu pelajaran pun berlalu cepat dan tak terasa sudah waktunya mereka untuk pulang. Hari Jumat sekolah Ana pulang jam 11 pagi. Namun, jam 1 siang siswa kelas 1 dan 2 ada kegiatan pramuka. Biasanya, Ana akan pulang selama jeda dua jam tersebut, untuk makan siang dirumah. Namun, kali ini Ana memutuskan untuk tidak pulang kerumah.


“ Kamu ga pulang Na?” Tanya Novi.


“ Engga Nov, aku capek.” Jawab Ana.


“ Kalau gitu aku juga ga pulang ah.” Kata Novi.


“ Makasi Nov.” Kata Ana merasa sahabatnya sangat baik padanya.


“ Sama-sama.” Jawab Novi.


“ Kamu pulang Li?” Tanya Novi.


“ Iya nih, pengen rebahan sebentar aku.” Terang Ali.


“ Oke, ati-ati ya.” Kata Novi sambil menyenggol Ana.


“ Oh iya ati-ati ya Li.” Kata Ana agak sedikit kaget karena disenggol Novi.


“ Iya makasi.” Jawab Ali tersipu malu.


Setelah Ali pulang, Ana dan Novi memutuskan untuk pergi ke kantin. Dikarenakan mereka tidak membawa bekal makan siang, maka mereka berniat membelinya di kantin. Tapi hal tak terduga dihadapi Ana. Di kantin, ternyata ada Petra yang sedang duduk di tempat biasa mereka ketemu dulu. Ana tidak menyangka ada Petra disitu, karena biasanya Petra sudah pulang ketika hari Jumat.


“ Wah ada Petra nih Na.” Kata Novi.


“ Petra bakal marah-marah ga ya?” Tanya Novi.


“ Semoga aja sih engga. Aku tunggu di dalam kantin ya.” Kata Novi sambil berlalu pergi.


“ Hai Pet.” Sapa Ana.


“ Hai.” Jawab Petra ketus.


“ Boleh duduk disini gak?” Tanya Ana.


“ Duduk aja.” Kata Petra sambil menyuruh temen-temen nya untuk pergi.


“ Makasi Pet.” Kata Ana.


“ Ada apa?” Tanya Petra.


“ Emm sebenernya aku mau minta maaf Pet.” Kata Ana gugup.


“ Minta maaf untuk apa?” Ketus Petra.


“ Emm aku minta maaf karena udah mutusin kamu secara sepihak.” Terang Ana.


“ Hem.” Jawab Petra singkat sembari tersenyum sinis.


“ Kamu maafin aku?” Tanya Ana kembali.


“ Iya. Lupain aja masalah waktu itu. Malu-maluin sih aku pas waktu itu.” Terang Petra.


“ Kamu ga malu-maluin kok. Wajar kamu marah begitu. Aku nya emang salah.” Kata Ana.


“ Terus, maaf kalau aku lancang. Hubungan kita gimana Pet?” Tanya Ana gugup.


“ Maksud kamu?” Tanya Petra.


“ Ya aku minta maaf udah putusin kamu, bisa gak kita kembali kaya dulu?” Tanya Ana.


“ Ha ha ha.” Petra tertawa selama beberapa saat.


“ Kamu yang mutusin aku Na, terus sekarang kamu pengen balik? Setelah mempermalukan aku di kelas mu waktu itu?” Ketus Petra.


“ Aku minta maaf Pet, semua itu karena aku salah paham sama kamu. Seperti yang aku bilang, aku lagi ada masalah Pet.” Terang Ana.


“ Ya kamu udah aku maafin Na, tapi bukan berarti kita bisa balikan. Aku mau balik dulu, temen-temenku uda nungguin.” Kata Petra berlalu pergi.


Ana hanya bisa terdiam melihat kepergian Petra. Ia tidak menyangka bahwa Petra menolaknya. Ana pikir Petra akan bisa menerima penjelasannya. Namun bahkan Ana belum bisa menjelaskan masalah yang sedang dihadapinya, Petra sudah keburu pergi.


Ana menangis dalam diam. Ketika itu Novi datang. Ia melihat sahabatnya sedang menangis.


“ Kamu kenapa Na?” Tanya Novi.


“ Aku ga bisa balikan sama Petra Nov.” Jawab Ana tersedu-sedu.


Novi pun memeluk Ana. Novi tidak mengucapkan sepatah kata lagi. Menurutnya saat ini sahabatnya hanya butuh sebuah pelukan. Ana menangis untuk beberapa lama. Setelah Ana tenang, Novi pun mengajaknya untuk kembali ke kelas. Sebelum itu Ana membeli makan siangnya dulu dikantin.


Saat mereka kembali ke kelas, ternyata di dalam


kelas ada Ali. Hanya Ali seorang, karena teman-teman yang lain sebagian pulang dan sebagian lagi sedang mencari makan siang atau sholat.


“ Loh kamu ga jadi balik Li?” Tanya Novi.


“ Engga, tadi aku Cuma pergi makan doang. Kamu kenapa Na?” Tanya Ali.


“ Gak papa kok Li.” Jawab Ana singkat,


Ali menatap Novi, seperti meminta penjelasan darinya. Namun Novi hanya menggelengkan kepalanya. Tanda bahwa Novi tidak mau menceritakan yang terjadi dengan Ana.


Ana dan Novi kemudian makan siang dikelas. Ali hanya duduk terdiam dibelakang mereka. Ali tidak ingin mengganggu Ana yang sedang makan. Apalagi tadi pagi Ana pun mengeluh kalau dia sedang pusing.