JENDELA

JENDELA
RUMAH


Ana sampai dirumah tepat pukul 14.00. Ana mengucapkan salam, dan di jawab oleh Bapak Ana. Kemudian Ana salim, dan bergegas masuk ke dalam kamar.


Setelah berganti baju, Ana ke kamar mandi untuk wudhu dan sholat dzuhur. Saat Ana keluar dari kamar mandi, ada Bapak Ana yang menunggu nya di depan kamar mandi.


" Baru mau sholat jam segini?" Tanya Bapak Ana.


" Iya Pak." Jawab Ana.


" Ngapain aja daritadi kok jam segini baru sholat." Kata Bapak Ana.


Ana tidak menjawab perkataan Bapaknya, karena bagi Ana percuma menjawabnya. Apapun jawaban yang Ana berikan, tetap akan salah dimata Bapaknya. Ia kemudian masuk ke mushola untuk sholat.


Setelah sholat, Ana sengaja tetap di mushola dahulu karena mungkin Bapaknya masih ada di meja makan.


" Mesti Bapak lagi duduk di kursi ruang makan. Malesin banget sih." Gumam Ana.


Setelah kurang lebih 10 menit, Ana memutuskan untuk keluar dari mushola, dan benar saja. Bapak Ana duduk di kursi ruang makan. Seperti menunggu Ana selesai sholat, Bapak Ana tetap duduk di ruang makan selama Ana sholat. Saat Ana keluar dari mushola, Ana pun dipanggil Bapaknya.


" Na, sini duduk dulu Bapak mau ngomong." Perintah Bapak Ana.


" Iya Pak." Jawab Ana.


" Gimana sekolah kamu?" Tanya Bapak Ana.


" Baik Pak." Jawab Ana.


" Ga ada masalah kan sama temen-temen kamu?" Tanya Bapak Ana lagi.


" Engga kok pak." Jawab Ana.


" Terus menurut kamu, siapa pelaku teror yang kamu alamin itu?" Tanya Bapak Ana.


" Kalau menurut Ana sih, kayaknya bukan temen sekolah Ana pak." Terang Ana.


" Jadi, siapa kira-kira?" Tanya Bapak Ana.


" Kalau menurut cerita Lik Puji sih, kayaknya orang yang lagi pesugihan pak." Jawab Ana.


" Jadi kamu ga tau pastinya siapa? Ga pernah liat orangnya juga?" Tanya Bapak memastikan.


" Iya Pak. Ana kan cuma denger suara orang ketawa aja, terus abis itu Ana disiram. Lagian horden kan juga ditutup pak, ya Ana ga tau." Terang Ana.


" Tadi Bapak sempet ngobrol sama Lik Puji. Katanya sempet hampir ketahuan pas ronda ya. Jadi Bapak malam ini bakalan awasin terus rumah biar aman." Kata Bapak Ana.


" Iya Pak." Jawab Ana singkat.


" Kalau gitu Ana masuk kamar dulu ya pak, Ana mau ngerjain PR." Pamit Ana.


" Ya udah sana." Jawab Bapak Ana.


Setelah pamit, Ana bergegas menuju kamarnya. Ana menghela nafas, Ia lega karena Bapaknya tidak marah-marah. Sebelumnya Ana berfikir, alasan Ana dipanggil Bapaknya karena akan dimarahi lagi olehnya.


Ana membuka bukunya, berniat untuk mengerjakan PR-nya. Namun, tiba-tiba HP Ana berdering. Tanda bahwa ada SMS yang masuk, dan ternyata SMS tersebut dari Petra.


Membaca pesan dari Petra tersebut, hati Ana semakin sedih. Apa yang sudah Novi katakan kepada Petra, sampai-sampai Petra mengirim pesan seperti itu kepadanya. Apakah persahabatan mereka selama ini hanya omong kosong belaka.


Ana dan Novi sudah saling mengenal sejak mereka SD. Mereka memang tidak satu SD, namun Ana sering bermain dengannya saat Ia sedang dirumah budhenya. Terlebih, Ia juga satu bangku selama setahun lebih ini.


Banyak hal yang telah mereka lakukan bersama sejak setahun lalu. Apakah demi seorang Petra, Novi tega meninggalkannya.


" Apakah selama ini, Novi juga menyimpan rasa kepada Petra?" Gumam Ana.


" Kenapa dia gak bilang ya ke aku. Apa aku yang ga pernah dengerin dia?" Tanya Ana ke dirinya sendiri.


Ana kemudian meletakkan kepalanya di atas meja belajar. Rasanya berat sekali beban kepala Ana saat itu. Baru saja Ana akan terlelap, tiba-tiba pintu kamar Ana dibuka oleh Mba Arin.


" Katanya Bapak lagi ngerjain PR. Malah tidur tuh." Adu Mba Arin ke Bapak.


Ana sangat kesal dengan perilaku mbanya tersebut. Ia lalu berdiri dan menutup pintunya.


" Dasar tukang ngadu." Kata Ana menghadap pintunya.


" Hahaha." Tawa Mba Arin.


Setelah mengunci pintu kamarnya, Ana kemudian duduk kembali ke kursi belajarnya. Baru saja Ana membuka bukunya untuk mengerjakan PR-nya, pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.


" Tok tok tok. Na, buka pintunya." Panggil Mama Ana.


" Astaga, kapan sih aku bisa tenang dirumah." Gumam Ana dalam hati.


" Iya Ma sebentar." Jawab Ana.


Ana bergegas membukakan pintu untuk mamanya. Di depan pintu, Mama Ana berdiri dan tangannya memegang uang 10 ribuan.


" Mama Minta tolong beliin kecap sedang diwarung ya Na. Mama lagi masak, kebetulan kecap pas abis. Mama lupa beli tadi di pasar." Pinta Mama Ana.


" Hmm Ma, Mba Arin aja bisa gak? Aku lagi ngerjain PR nih." Pinta Ana.


" Halah alesan aja itu Ma." Kata Mba Arin.


Kemudian Bapak keluar dari kamarnya. Melihat ada Bapak, kemudian Mba Arin mengubah perkataannya.


" Sini aku aja ma yang beli kecapnya." Pinta Mba Arin.


Kemudian Mama Ana pun memberikan uang 10 ribu tersebut ke Mba Arin. Melihat tingkah Mba nya tersebut, Ana semakin kesal. Apalagi melihat Bapaknya yang tersenyum setelah melihat anak kesayangannya tersebut mencoba membantu istrinya.


Ana menutup pintunya dengan kencang. Mama Ana yang melihat hal tersebut sangat paham dengan apa yang Ana rasakan. Namun, lagi-lagi Mama Ana tidak dapat berbuat apa-apa.


Ana melihat dirinya didepan cermin. Tanpa sadar, air matanya menetes. Ia lelah dengan keadaan yang ada disekitarnya. Entah itu disekolah, maupun dirumah. Tidak ada yang bisa membuatnya nyaman.


Rasa bencinya terhadap peneror nya semakin tinggi. Menurutnya, semua keadaan ini berawal dari peneror tersebut. Andai saja Ia tidak diteror, Ia tidak akan curiga dengan pacarnya sendiri. Lalu Ia tidak akan putus dengannya.


Hubungan dengan Novi juga akan baik-baik saja. Kamarnya yang selama ini menjadi tempat ternyamannya juga sekarang telah hilang. Justru sekarang setiap didalam kamar, Ia teringat kejadian teror tersebut.


" Gak bisa, ini ga boleh dibiarin. Kapan ini semua akan berakhir ya Allah." Kata Ana terisak.