
Akhirnya mau tak mau Alifa pun mengikuti Gus Al untuk duduk di atas karpet merah yang ada di ruang tersebut.
Alifa kesal dengan sikap putra tunggal kyai nya itu. Sikap yang tak mau mengerti tentang dirinya. Alifa hanya diam membisu tanpa ingin bertanya lagi apa maksud dan tujuan Gus Al mengajaknya untuk duduk di ruang sini.
Sungguh ini hal yang tak nyaman buat Alifa. Bagaimana pun juga dirinya hanya seorang santri yang harus patuh pada aturan pesantren. Dan di sisi lain, yang di hadapi saat ini adalah putra pemilik pondok pesantren tempat nya menimba ilmu.
"Sudah melamun nya ?" tanya Gus Al yang mengangetkan Alifa.
"Siapa yang melamun?" tanya Alifa kesal.
"Dari tadi hanya diam saja apa coba kalau gak melamun."
"Terserah anda saja lah Gus." jawab Alifa lirih.
Gus Al hanya tersenyum menanggapi ucapan Alifa yang sedang kesal padanya itu. Ia terus memperhatikan Alifa yang masih memegang ponselnya.
"Dek..!"
"Dalem Gus."
"Kamu beneran serius dengan keputusan kamu. Kenapa jika ingin kuliah tak kuliah di Kairo saja dek. Ikut dengan ku. Nanti saya yang akan mengurus semua nya."
"Lalu menikah dengan Gus Al, itu maksud anda..?"
"Apakah kamu keberatan, dek?"
"Bukan masalah keberatan atau tidak Gus, tapi usia saya ini masih belum cukup untuk menikah. Orang tua saya tentu tak akan mengizinkan. Kalau emang serius kenapa sich gak nunggu sampai saya lulus kuliah. Lagian yang Gus Al lihat dari saya ini apa coba. Dewasa belum bocah kecil iya. Gaul juga gak, cantik apalagi. Kenapa jika ingin menikah sekarang Gus Al gak mencari teman atau orang yang sekiranya Gus Al cintai."
"Kalau orang yang ku cintai itu kamu gimana?"
'Dasar nyebelin, andai dia bukan putra ummi khasanah sudah ku timpuk dengan hp ini.' batin Alifa kesal.
"Jangan ngumpat di dalam hati dek. Kalau mau nimpuk ya timpuk aja tapi jangan pakai hp itu ya entar sakit. pakai cinta aja ya nimpuk nya."
Spontan Alifa melotot menatap Gus Al dengan kesal. dirinya tak habis pikir kenapa orang di hadapanya itu bisa membaca pikiran dan bahkan sangat menyebalkan begini. Alifa merasa semakin sulit untuk menghindari putra tunggal kyai Abdullah itu. Alifa pun memilih pergi ke asrama nya saja.
"Saya permisi dulu Gus, mau kembali ke asrama. Sudah terlalu lama saya izin ke sini. Dan ini hp Gus Al. Saya tinggal dulu Gus. Permisi..!" Alifa menaruh hp yang dari tadi di pegangnya di atas karpet di hadapan Gus Al. Kemudian ia pun beranjak akan kembali ke asrama. Hingga saat akan berjalan ke arah pintu terdengar suara Gus Al yang menghentikan langkah nya.
"Tunggu..!"
"Apalagi..!" Alifa semakin jengkel dengan sikap Gus Al yang menurutnya semakin membingungkan.
"Tadi saya ingin mengasihkan sesuatu padamu, dek. Kenapa kamu ingin cepat-cepat ke asrama sich. Duduklah kembali dan tolong dengarkan apa yang akan saya sampaikan."
"Akan berapa lama lagi saya harus di sini Gus."
"Gak akan lama, percaya lah..!"
"Baik.., saya pegang ucapan Gus Al."
"Silahkan bicara Gus, waktu saya tak lama. Saya takut kalau lama-lama di sini akan kena hukuman dari ustadzah pengasuh asrama."
"hey.., sejak kapan santri yang di panggil untuk datang ke ndalem kena hukuman dari ustadzah asrama?"
"Ya.., sejak saya terlalu lama berada di sini sapa tau ada aturan begitu." jawab Alifa asal.
Gus Al yang mendengar jawaban ngawur Alifa spontan tertawa.
"Bisa ya sekarang jawab." ucap Gus Al masih menertawakan Alifa.
"Jangan tertawa Gus, jelek jadinya." ucap Alifa yang kesal karena di tertawakan sedemikan.
"Berarti sebelumnya saya ganteng donk, kalau ketawa jadi jelek." ucap Gus Al menggoda Alifa.
"Jangan pede."
"Trus harus gimana donk."
"Ini sebenarnya saya harus dengar gombalan maut dari Gus Al atau harus apa sich."
"Okey-okey saya minta maaf dek. bukan begitu maksud saya."
Gus Al pun membenarkan duduknya serta mengatur nafas nya yang mulai gugup. Tidak seperti tadi waktu bercanda dengan Alifa.
"Begini dek, kalau emang keputusan kamu sudah bulat seperti itu, baiklah dek.., saya akan menunggu kamu sampai selesai kamu kuliah. Dan saya akan kembali ke Kairo untuk menyelesaikan studi saya. Selama saya jauh di sana dan kamu masih tetap di sini. Maukah kamu menerima ini dek..?"
Gus Al pun mengeluarkan kotak kecil yang berisi sebuah cincin bermata biru lalu menyodorkan di hadapan Alifa. Tentu Alifa sangat terkejut dengan semua yang Gus Al lakukan. Di khitbah saja membuat Alifa seperti orang linglung apalagi sampai tiba-tiba di kasih cincin yang menurutnya sangat bagus itu.
"ini...ini maksudnya apa Gus ?" Alifa bertanya dengan sedikit gugup karena gak menyangka akan begini jadinya.
"Terimalah dek, ini hanya sekedar pengikat antara kita bahwa kamu akan menunggu ku dan saya pastikan jika saya akan menunggu kamu sampai kamu selesai kuliah."
"Kenapa harus seperti ini Gus, apa Gus Al ragu padaku?"
"Tidak dek.., ini hanya sekedar bukti bahwa kita akan serius ke depannya."
Alifa bingung harus berbuat apa. Sungguh hari ini dirinya benar-benar di ajak spot jantung oleh putra mahkota darul Huda ini. Alifa berusaha menguasai dirinya sebaik mungkin. Ia takut akan salah dalam menyikapi kondisi ini. Alifa mengatur nafas nya sesaat sebelum menjawab permintaan Gus Al tersebut.
"Apa saya harus memakai nya? Saya takut hilang karena saya masih berada di asrama. Gus Al tentu paham bagaimana hidup di asrama. Di sana rawan sekali kehilangan. Saya takut gak bisa menjaga amanah dari Gus Al ini."
"Apa gak sebaiknya cincin ini di simpan dulu Gus.., atau kalau tidak biar ummi yang menyimpan nya. Jika saya memakai apalagi di asrama, saya benar-benar takut. Belum lagi nanti pasti saya akan di tanya yang tidak-tidak sama teman-teman di kamar asrama. Belum lagi ustadzah. Pasti akan heboh sekali. Saya janji sama Gus Al jika Gus Al juga benar-benar serius dengan saya dan mau menunggu saya, saya setelah lulus Aliyah akan mengabdi di pondok sini sambil kuliah di universitas kota sini."
Gus Al pun terlihat menutup kembali kotak kecil tersebut. Ia tau pasti Alifa akan menolak nya. Mau bagaimana lagi menaklukkan hati Alifa emang tak mudah.
"Apa Gus Al marah padaku?"