
"Sa-saya minta maaf ustadzah Nabila, maafkan saya." ucap Maya terbata.
Semua mata tertuju pada Maya. Nampak Maya menunduk dan tak berkutik seperti tadi. Dengan sikapnya yang urakan dan tak pernah merasa salah, Maya terlihat tak punya nyali hanya karena teriakan ustadzah Nabila.
"Saya, saya menyesal ustadzah. Tolong jangan hukum saya. Saya bersedia untuk meminta maaf pada Alifa, Sofi dan Ayunda. Tolong maafkan saya ustadzah. Saya janji, saya akan berusaha minta maaf dan tak mengulangi perbuatan saya. Saya salah, Maafkan saya ustadzah."
Semua orang yang berada di ruang itu saling beradu pandang mendengar ucapan demi ucapan yang Maya lontarkan. Mereka bingung dengan keanehan sikap Maya yang tiba-tiba berubah 180 derajat hanya dalam hitungan detik.
Mereka semua hanya diam dan menyerahkan semua masalah itu pada ustadzah Nabila. Karena hanya beliau yang mampu membuat nyali seorang Maya yang terkenal urakan langsung menciut.
Memang ini bukan hal pertama Maya berurusan dengan ustadzah Nabila. Tapi ini adalah hal pertama seorang ustadzah Nabila teriak dengan kemarahan yang memuncak.
Sesabar-sabarnya manusia jika terus menerus di uji dengan ulah orang seperti Maya tentu akan emosi juga. Begitu juga dengan ustadzah Nabila. Sering kali dirinya menegur dan memberi hukuman pada Maya yang notabene nya tak pernah kapok tentu akan emosi juga.
Ustadzah Nabila menarik nafas dalam-dalam. Ia juga bingung dengan sikap Maya yang langsung berubah setelah tadi ia mencak-mencak tidak mau di salahkan.
"Saya percaya kamu sebenarnya anak yang baik, Maya. Tapi saya bingung dengan sikap kamu yang selalu berani melawan dan berbuat onar pada teman yang lainnya. Kenapa Maya, kenapa?" ustadzah Nabila tak kuasa menahan airmata nya. Ia menangis tersedu-sedu dengan ulah santri asuhan nya itu. Ia juga bingung harus bagaimana mengatasi ulah Maya yang sebelumnya tak terkontrol.
Maya yang melihat ustadzah Nabila menangis tersedu-sedu karena ulah nya langsung berdiri dan menubruk kaki ustadzah Nabila. Ia bersimpuh dihadapan ustadzah Nabila dan meminta maaf dengan benar-benar tulus. Maya menangis di kaki ustadzah Nabila yang masih tersedu-sedu itu
Semua yang menyaksikan bagaimana Maya menyesali perbuatannya itu sedikit bernafas lega. Mereka haru melihat ustadzah Nabila dengan kalem meraih pundak Maya yang masih menangis di kakinya.
"Bangunlah Maya, dan tolong dengarkan ucapan saya sekali ini saja. Berhentilah bersikap dan berbuat onar di pesantren ini Maya. Tolong jadilah anak yang baik. berubah lah Maya, buatlah orang tuamu Bangka. Tolong berubah lah.'' ucap ustadzah Nabila sambil menghapus airmata yang masih mengalir di pipinya.
"Iya ustadzah, saya janji..,saya akan nurut dengan ustadzah. Saya akan berubah. Saya akan berusaha berubah menjadi lebih baik, ustadzah. Tolong maafkan saya, maafkan saya ustadzah Nabila. Maaf...!"
Maya masih terus tergugu di tempatnya. Ia benar-benar menyesal dan sadar sekarang bahwa menjadi anak yang brutal dan urakan itu sangat melelahkan hati dan di benci banyak orang.
Sofi dan Ayunda yang melihat Maya masih tergugu pun saling beradu pandang. Mereka hanya mampu diam tak bersuara.
"Ustadzah, tolong jangan benci saya. Tolong maafkan saya, maafkan saya ustadzah...!"
Ustadzah Nabila langsung meraih tubuh Maya dan memeluk nya erat.
"Buktikan jika kamu bener-bener serius ingin menjadi anak yang baik. Buktikan jika kamu akan menjadi seorang Maya, santri darul Huda yang pintar dan baik. Buktikan...!" ucap ustadzah Nabila dengan tegas dan yakin jika Maya benar-benar ingin berubah.
_____