Jatuh Cintanya Sang Juara Qori.

Jatuh Cintanya Sang Juara Qori.
Bab 49. Alifa & Al.


"Saya gak tau saya harus gimana ummi, saya sama sekali tidak pernah memikirkan tentang ini. Saya masih sekolah, bahkan saya belum ujian akhir. saya harus gimana ummi..?"


"Saya bingung, atas dasar apa Gus Al mengkhitbah saya, sedang saya masih belum lulus mondok. Perjalanan saya masih panjang ummi, saya masih ingin banyak belajar dengan kyai supaya saya bisa lebih baik. Saya pun ingin menuntaskan mimpi saya dalam menjuarai ajang MTQ ummi, saya ingin menjadi Qoriah hebat. Ummi.., saya harus gimana?"


Alifa menghapus airmata yang menetes di pipinya dengan ujung jarinya. Gus Al yang mengetahui hal itu reflek berdiri dan mengambil tissu yang berada di meja pojok ruangan. Kemudian mengasihkan ke Alifa.


"Hapus airmata kamu dengan ini dek, jangan menangis. Maafkan saya." ucap Gus Al sambil mengasihkan tissue yang di ambilnya di hadapan Alifa. Kemudian Gus Al pun duduk di sofa samping Alifa.


Tanpa pikir panjang, Alifa pun menerima tissu tersebut dan menghapus airmata nya.


"Terimakasih Gus."


"Maafkan saya dek, saya sudah membuat kamu menangis. Maafkan saya tidak bisa menahan rasa ini."


Alifa sungguh terkejut. Ia tak menyangka Gus Al akan senekat ini di hadapan orang tuanya. tanpa sungkan sedikit pun, Gus Al bisa duduk di dekat Alifa. 'sungguh konyol.' batin Alifa.


Alifa hanya menunduk.


"Al..,"


"Alifa.."


"Dalem ummi." Jawab keduanya serentak. Alifa pun mendadak malu dengan sikap dirinya sendiri yang menjawab panggilan ummi khasanah bersamaan dengan Gus Al.


Kyai Abdullah dan ummi khasanah hanya tersenyum dengan tingkah keduanya.


"Ummi dan Abi tinggal dulu ke dalam. Kalian berdua tolong selesaikan apa yang ingin di selesaikan. Setengah jam lagi kita akan kembali. Al.., jangan macam-macam."


"Tapi ummi...!" belum selesai Alifa mau protes, ummi pun memotong ucapan nya


"Alifa jangan pergi dulu sebelum ummi dan Abi kembali ke sini ya."


"Baik ummi." jawab Alifa lesu.


Sepeninggal kyai Abdullah dan istrinya. Alifa pun merasa canggung hanya diam duduk berdampingan dengan Gus Al. Meskipun mereka duduk di sofa yang berbeda dan ada jarak, tapi sungguh ini hal yang tidak nyaman bagi Alifa.


"Dek..!"


"Dalem Gus."Jawab Alifa cepat.


Gus Al terdengar mendengus kesal.


"Dek.., bisa tidak jangan panggil saya Gus. Panggil Al kan bisa."


"Tidak bisa Gus.., saya dan Gus Al usianya jauh berbeda. Mungkin hampir 6 tahun lebih. Apa pantas saya hanya memanggil nama. Apalagi Gus Al orang yang di hormati di pondok sini dan usia diatas saya."


"Setidaknya jangan panggil saya Gus lah dek."


"Lalu saya harus memanggil apa?"


"Mas atau gimana gitu."


Alifa hanya diam tak merespon ucapan putra tunggal kyai Abdullah tersebut. Dirinya juga bingung harus berbuat apa sekarang. Dalam kondisi seperti ini, keinginan Alifa hanya satu. Berbicara dengan ayahnya. Tapi Alifa tampak bingung, jam segini tentu ruang telpon tidak buka. Alifa berpikir keras bagaimana supaya dia bisa telpon ayah nya.


"Dek..,kamu marah sama saya?"


"Atas dasar apa saya harus marah Gus, apa saya ada hak untuk itu?"


"Lalu kenapa hanya diam saja ?"


"Saya bingung harus bagaimana berada di situasi ini. Semoga apa yang Gus Al ucapkan ke saya tadi bercanda ya..!"


"Tapi saya serius dek, saya gak bercanda. Saya ingin mengkhitbah kamu dan menikah dengan kamu. Kamu bisa kuliah setelah menikah.. ikutlah dengan ku ke Kairo dan kamu bisa meneruskan kuliah di sana. Kita bina rumah tangga sambil belajar."


"Kamu punya banyak prestasi di bidang Al Qur'an. Tentu itu akan memudahkan kamu masuk ke sana. Kita sama-sama belajar di sana dan hidup berdua dek. Kamu mau kan..?"


"Apa Gus Al tak berpikir bahwa menjalani pernikahan dini itu tak mudah. Kita belum kenal karakter masing-masing. Gus Al belum mengenal saya. Saya pun tak banyak tau tentang Gus Al. Yang kita tau hanya sebatas saya seorang santri dan Gus Al putra dari kyai saya. Apa selebihnya kita saling mengenal? tidak kan?"


"Lalu alasan apa sebenarnya yang membuat Gus Al ingin cepat-cepat menikah?"


Terlihat mereka pun saling diam sesaat. Terlihat Gus Al menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya pelan.


"Semua yang kamu ucapkan memang benar dek, Maaf saya, yang membuat mu berada di situasi yang tak nyaman begini. saya cuma tak ingin lama-lama memendam rasa padamu. Kalau ada niat baik kenapa tak di segerakan dek. Kita bisa mulai mengenal dari sekarang. Selama libur saya berada di rumah ndalem sini. Kita bisa saling mengenal di waktu libur saya ini. Apa yang ingin kamu tau tentang saya dek, tanyakan..! Saya siap menjawab pertanyaan kamu semuanya tanpa terkecuali.''


'Orang ini ternyata memiliki kemauan yang pantang menyerah juga.' batin Alifa.


"Dek.., apa kamu juga punya rasa padaku?"


Alifa spontan menatap wajah teduh nan tampan itu sesaat. Kemudian ia kembali membuang muka menatap arah pintu berharap ummi muncul dari sana.


"Pertanyaan macam apa ini Gus."


"Apa salah saya menanyakan itu, dek?"


"Tentu salah." jawab Alifa cepat.


"Dimana letak salah nya."


"Apa sebelumnya kita mempunyai hubungan serius sehingga gus menanyakan tentang rasa pada saya. saya bingung dengan pertanyaan ini."


"Gus Al baik, seorang santri Al Azhar, putra tunggal pemilik pondok pesantren ternama, Gus seorang hafidz, kenapa Gus tidak memilih orang lain atau rekan Gus di Kairo yang sepadan dengan jatidiri Gus Al. Kenapa harus saya yang masih bocah begini..?"


"Tolong jangan bahas orang lain, dek. Saya hanya ingin kamu."


"Saya tidak membahas Gus. Saya hanya menanyakan."


Kedua orang itu lalu diam dengan pikirannya sendiri-sendiri. Mereka berdua punya ego yang sama dan sama-sama berjiwa keras.


"Kalau saya jawab, apa kamu juga akan menjawab khitbah saya dek."


"Apa Gus Al tetap Keukeh dengan hal itu? kenapa kalau Gus Al serius tidak menunggu saya lulus kuliah dan membiarkan saya meraih cita-cita saya dulu.


"Itu terlalu lama dek, butuh waktu 4 tahun untuk menunggu mu sampai lulus kuliah."


"Kalau Gus Al ingin cepat, kenapa tidak mencari orang lain yang sudah kayak untuk menikah."


Gus Al terdiam dengan ucapan yang Alifa sampaikan. Sebenarnya ia sedikit kesal, kenapa Alifa menyuruh nya mencari orang lain.


Alifa yang menyadari perubahan pada wajah putra kyai Abdullah itu pun merasa sangat bersalah.


"Maaf jika kata-kata saya terlalu kasar Gus."


Gus Al masih diam tanpa suara di sebelah Alifa.


"Gus Al..!" panggil Alifa lirih.


"Ya dek, apa kamu ingin menolak khitbah dari saya."


"Saya tidak menolak Gus, saya juga belum menerima. Saya bingung harus bagaimana."


"Gus, maaf apa Gus Al punya hp." tanya Alifa dengan rasa segan dan takut.


"Iya saya punya hp. Kenapa dek?"


"Apa bisa saya pinjam hp nya Gus sebentar?"


Alifa tau sebenernya ini tidak etis dan sopan. Tapi.....!!!"


_______