
Aku tidur di depan kamar lorong arah kamar mandi.
Sengaja rebahan di depan sana. Menggelar selimut tebal yang sempat kuambil dari dalam kamar. Aku yakin Ruby pasti akan keluar kamar juga. Dan butuh ke kamar kecil.
Tebakanku benar.
Dia berdiri di depan pintu kamar, menatapku dengan dingin. Pakaiannya telah berganti dengan atasan piyama one set. Matanya sembab sedikit bengkak karena kebanyakan menangis.
"Hhh...! Malam pengantin harusnya banjir kebahagiaan bukanlah banjir air mata, Nona."
"Bukan urusan Lo! Minggir, gue mau ke toilet!"
"Belajarlah menggunakan kata maaf atau permisi! Wajah cantik Lo gak guna jika akhlak Lo minus!"
Aku terkekeh. Ruby menyepak paha atasku dan bergegas setengah melompat tanpa banyak basa-basi lagi.
Aku hanya bisa garuk-garuk kepala. Tersenyum lebar menyeringai.
Ternyata membuat Ruby kesal itu menyenangkan juga.
Dulu-dulu aku takut sekali jika gadis cantik itu marah.
Dulu. Ketika aku masih remaja dan masih menghamba dirinya agar mau sedikit berpaling memperhatikan Aku.
Sekarang?! Entah.
Apakah cinta ini masih untuknya?
Aku sendiri tidak tahu.
Hati ini terlalu dingin dan beku setelah hujaman mulut pedasnya berkali-kali mencercaku. Terlebih bila mengingat perlakuan kakak kembarnya, si Rury itu.
Kini seperti waktu yang tepat bagiku balas dendam.
Dia yang sedang butuh bantuanku tapi egois tak mau mengakuinya, laksana mendapat angin segar karena Aku bisa sedikit berlagak membalas keangkuhannya.
Treet treet treet
Treet treet treet
Ponselku berdering.
Laila is calling
Laila meneleponku.
Laila? Laila teman SMA gue? Tumbenan telepon. Kenapa ya?
Klik.
"Hallo, Laila? Apa kabar?"
...[Anggaaa! Gue besok ijab kabul di kalapas Cipinang. Doain gue ya, Ryan bersedia tanggung jawab. Dan hukuman penjaranya jadi diperingan]...
Apa???
Tertegun aku mendengar kabar bahagia dari Laila.
Gimana, gimana?
"La? Beneran si Ryan mau nikahin Elo?"
...[Iya. Alhamdulillah kan? Akhirnya..., Tuhan permudah jalannya]...
"Alhamdulillah..."
Aku senang, tapi mengambang.
Laila dinikahkan Ryan. Sementara Ruby justru ditinggalkan di pelaminan.
Ini kabar membagongkan. Plot twist si Ryan beneran tak terbaca pemirsa. Hm.
Sambungan telepon Laila berakhir dan aku hanya bisa merenung dalam diam.
Gimana kalo si Ruby tau, calon suaminya menolak menikahinya tapi justru menikahi gadis lain yang juga dihamili secara paksa. Hhh... Itu bukan urusan gue. Biarlah cewek cantik ini mengetahuinya sendiri. Jangan dari gue.
Krieeet
Ruby berdiri di depan pintu kamar mandi.
Tatapannya dingin menembus jantung.
Aku hanya termangu menatap wajahnya yang polos tanpa make up.
Wajah yang benar-benar mulus cantik. Tapi sayang, nasibnya tak semulus wajahnya.
Kasihan, kau Ruby.
Dia melangkahiku tanpa permisi. Terkesan songong tapi aku memaklumi.
Aku segera bangkit dan mengekornya.
"Eitt, tunggu!"
Dia menahanku di pintu kamar dengan tatapan mata tajam.
"Kenapa?"
"Kamar wilayah kekuasaan gue. Lo tidur di luar!" katanya dengan suara keras.
"Dih? Gue juga berhak tidur di ranjang! Jangan jadi orang kejam deh!"
"Iiih, Angga! Keluar! Keluar!!!"
"Lo aja yang keluar! Ini kamar disewa untuk kita berdua. Kalo Lo ga mau tidur sekamar sama gue, Lo yang harusnya tidur di luar."
"Ga mau! Keluar, Ga! Keluar!"
"Ya gue juga ga mau lah!"
Aku ndableg. Tak peduli hardikannya yang sudah seperti cacian sehari-hari.
Ruby mengomel tanpa henti.
Dan aku menjadikan guling sebagai penutup telingaku yang gatal mendengar ocehannya.
"Anggaaa!!! Ya Tuhaann, ternyata Lo tuh anak yang nyebelin ya?!"
Aku tak hiraukan Ruby.
Lebih memilih melingkar di atas ranjang dengan dua tangan memegangi guling.
Kupejamkan mata. Perlahan benar-benar tertidur saking lelahnya.
...π«π«π«π«π«...
Entah berapa jam Aku tertidur di ranjang hotel yang empuk.
"Hatchim! Hatchim!"
Hidungku gatal hingga bersin dua kali karena bulu-bulu burung angsa menggelitik lubang hidungku.
Aku menggeliat.
Membuka mata yang masih sepat.
Ruby tertidur tepat di sampingku. Dengan satu tangan memeluk erat pinggangku bagaikan sedang memeluk guling.
Hufffh.
Sejak kapan posisi kami begini? Bukannya semalam dia bikin dinding pembatas ya, biar kami berjarak meski satu ranjang?
Harum aroma tubuhnya memabukkan kepala. Gadis ini benar-benar indah dilihat dari dekat.
Lama-lama aku tersadar, kalau satu buah dadanya menempel erat di dada kiriku.
A apaan nih? Kenyal-kenyal...
Sontak wajahku merah padam.
Seketika aku panik, lupa caranya bernafas.
Yassalam. Tuhan, tolong Aku!
Aku tak bergerak. Tak mau momen enak ini cepat berlalu.
Hanya diam membatu seperti gunung es yang kokoh dilautan Antartika.
Hingga,
Mata Ruby terbuka.
Seketika aku menutup kelopak mata dan pura-pura masih tertidur.
Samar-samar kurasakan dia pun terkejut sama seperti aku tadi. Mungkin wajahnya jauh lebih merah dari wajahku barusan. Terdengar suara ranjang berdecit.
Ruby bangun dari tidurnya.
Tap tap tap...
Langkah kakinya yang beralaskan sandal hotel terdengar diseret ke arah kamar mandi.
Hufffh. Aman, aman.
Trereng trereng
Trereng trereng
Trereng trereng
Ponsel iPhone nya berdering nyaring.
Aku menggeliat melirik nakas di seberang ranjang.
"Ruby! Telepon Lo bunyi!"
Aku kembali pejamkan mata setelah melihat pintu kamar mandi terbuka.
"Apa??? Apa??? Hahh? Beneran???"
Terdengar suara pekikan Ruby yang sedang menerima sambungan teleponnya.
Klik.
Dia tergesa-gesa memilih pakaian yang ada di koper yang tergeletak sejak kemarin malam.
Aku hanya memperhatikannya diam-diam.
Terdengar Isak tangisnya lagi, meskipun dengan suara yang begitu kecil.
Dia masuk kamar mandi lagi. Dan tak lama keluar dengan pakaian ganti dress pas badan selutut berwarna biru muda. Terlihat cantik sekali meskipun wajahnya agak pucat dengan make up seadanya.
Aku terkejut, dia mengambil kunci mobilnya terburu-buru karena satu tangannya masih sibuk memakai high heels tujuh senti.
"Mau kemana?" tanyaku kepo.
"Bukan urusan Lo!" timpalnya datar.
Tapi jujur, Aku tak bisa membiarkannya pergi seorang diri.
Grepp.
Ruby menatapku dingin tatkala pergelangan tangannya kutahan.
"Gue yang nyetir! Lo dalam kondisi ga stabil!"
Segera kuraih kunci mobilnya dan bergegas pergi mendahului langkah Ruby yang termangu sesaat.
Dia diam, tapi menuruti ku juga akhirnya.
Hampir pukul tujuh pagi. Hotel masih sepi, tanpa aktivitas berarti karena para pelanggannya masih terlelap di kamar masing-masing sepertinya. Termasuk Pak Hartono Abdi dan Madam Inara. Juga di Rury juga para antek-anteknya.
Sejak kemarin sore aku tak lihat batang hidung anak itu.
Masa bodoh lah. Dia bukan urusanku.
Grepp.
"Njirrr! Kaget gue!"
Baru saja ada dipikiran, tiba-tiba anak itu menjegal langkahku.
"Mau dibawa kemana adek gue?" tanyanya was-was.
Pukk
Terkejut Aku, ternyata Ruby menepis tangan kakak kembarnya.
"Jangan ganggu Suamiku!"
Berubah mimik wajah Rury mendengar perkataan adiknya.
"Hahh? Ga salah denger gue?"
"Awas, ih! Ayo!"
Aku menyeringai lebar.
Puas melihat wajah bingung si Rury.
See, Bray? Adek Lo bilang apa tadi? Hahaha... mampus Lo. Adek Lo lebih milih bela gue daripada Lo. Hahaha...
"Jangan kegeeran! Gue bilang gitu biar kita bisa segera jalan!"
Jancukk! Baru indung gue mekar, langsung si Ruby tepiskan. Hadeeuh... perempuan emang paling pintar bikin pria terkewer-kewer.
"Kemana?" tanyaku setelah dibungkam sepanjang jalan dan kini berada di belakang kemudi mobil Ferrari putih nya.
"Arah Cipinang!"
Arah Cipinang? Mau kemana emang sih?
Aku tak bertanya panjang lebar. Karena jika itu kulakukan, pasti jawabannya bakalan tak mengenakkan.
"Lapas Cipinang!"
"Hahh?"
BERSAMBUNG