JADI SUAMI PENGGANTI

JADI SUAMI PENGGANTI
JSP 17. Malam Penuh Kesedihan


Seminggu kemudian, aku yang pengangguran ditarik Pak Hartono Abdi jadi asisten dadakan putrinya yang tak lain adalah istriku sendiri di perusahaan Antam cabang Bandung yang dipegang Ruby.


Ini benar-benar lingkaran KKN. Dua anak kembarnya juga memiliki akses mudah bekerja di salah satu perusahaan milik negara itu.


Kini, aku pun ternyata mendapat kesempatan duduk di kursi empuk meski hanya sebagai asisten yang diperbantukan dengan status kerja karyawan kontrak, bukan karyawan tetap.


Emang nasib cuma bisa ngontrak. Jadi suami pun cuma suami kontrak. Kerja dadakan di perusahaan bonafit negara pun hanya jadi karyawan kontrak. Nasib, nasib.


Biarpun begitu, Aku cukup senang karena hubungan kami semakin baik saja.


Berangkat dan pulang kerja bersama-sama rasanya menyenangkan. Ruby juga terlihat enjoy jalan bersamaku.


Untuk saat ini, nama Ryan terlupakan dari ingatannya.


Walau nepotisme kerja di Antam karena bekingan Papinya, tetapi ternyata kinerja Ruby tidak bisa dianggap enteng.


Gadis itu memiliki dedikasi tinggi dan loyalitas serta tanggung jawab yang besar kepada perusahaan tempatnya bekerja.


Kukira dia akan kerja main-main saja layaknya bocah ingusan bermain boneka. Tapi rupanya tidak.


Ruby berubah serius sekali ketika sedang bekerja. Bahkan sampai kaget juga Aku dibuatnya.


Ruby bisa tegas berwibawa di kantor.


Berbanding terbalik ketika di rumah.


Seperti malam ini.


Ruby berubah menjadi sangat kekanak-kanakan.


Dengan alasan ngidam, dia membuatku semakin jatuh harga diri.


"Please, please please... Ayolah, Ga. Hiks... Gue kepengen banget liat Lo pake baju haram ini. Huhuhu..."


"Gila! Masa iya gue disuruh pake baju cewek tembus pandang gini? Elo aja yang pake, gue yang nonton!" tepisku kesal.


"Ga, tolong Ga... ngertiin gue. Ya? Ya ya?"


"Engga! Gue gak mau!!!"


Dia mengejarku terus bahkan sampai nekat ikut masuk kamar ku yang memang letaknya berada di seberang kamarnya.


"Angga. Angga ganteng, ayolah!"


"Lo sinting ya?"


"Gaaa... please. Gue beneran kepingin liat Lo pake baju ini..." Ruby terus memburu ku dengan kalimat memohon.


Aku jengah.


Terlebih saat tiba-tiba Ruby memelukku dari belakang.


Seluruh bagian depan tubuhnya numplek di badanku. Merinding bulu roma hingga memancing syahw++ ku sebagai seorang pria dewasa.


Menegakkan syaraf-syaraf sensitifku hingga akhirnya aku mengiyakan juga permohonannya yang diluar nurul itu.


"Sayaaangg, kawaiii..."


Anjiiirrr, bangk+e!!! Gue cowok maskulin dengan tubuh kekar macho tapi disuruh pakai dress malam buat acara wajib maljuman. Aarrrggg!!! Ini penghinaan!!!


Ruby tertawa terbahak-bahak. Senang sekali terlihat.


Sementara aku hanya bisa menunduk malu dan pasrah. Sesekali memainkan peran bergerak gemulai sambil sesekali menarik wig-ku untuk menutupi wajahku yang merah padam.


"Hahaha... yihaa! Keren, Anggi keren! Nama kamu adalah Anggi Permatasari hahaha... hahaha..."


Aku kepalang basah. Nyebur sekalian bertingkah semakin kebablasan. Berjoget layaknya banci yang dulunya adalah wadon jadi-jadian yang paling kubenci.


"Awas, Ga, keenakan ntar! Hahaha..."


Sindiran candaan Ruby membuatku merangkul dia sambil berbisik.


"Kalo gue keenakan, bablas pengen jadi bencong beneran, dosanya Lo yang tanggung ya?"


"Hahaha, ogah!"


Kami berjoget mengikuti irama musik yang hingar-bingar.


Tertawa-tawa pura-pura sedang berada di lantai dansa diskotik karena kilauan lampu Tumblr warna warni.


"Kurang seru, cabe-cabeannya kurang satu! Ayo dong, Lo juga ganti kostum! Harus samaan kita. Biar adil satu sama!"


Kugoda dia agar melakukan hal gila yang sama sepertiku.


Malu juga bergaya begini diluar nalar.


Gaun malam merah menyala. Wig blonde panjang ikal serta gincu merah penampilan pamungkas yang Ruby poleskan di bibirku, menjadi satu bentuk kegilaan ku yang Ruby inginkan.


"Ga mau, hihihi... Curang ah! Masa' gue harus ikutan Lo juga!"


"Lo yang curang itu namanya! Gue Lo buat begini, tapi Lo sendiri ga mau. Ish, egois itu!"


"Gue kan lagi hamil, Angga. Lagipula, ini permintaan Dede bayi di perut gue. Masa' Lo tega ga mau turutin kemauannya. Tar anak kita lahir ngeces mulu gimana coba. Malu kan. Kesian tar dia di-bully temen-temennya."


"Hadeeuh, pinter berdalih Lo!"


Malam panjang.


Aku akhirnya jadi bahan candaan Ruby yang tertawa kegirangan.


Biarlah, aku akan lakukan asalkan Ruby senang.


Lagipula cuma ada aku dan dia saja. Hanya kami berdua yang gembira bersama.


Membahagiakan istri akan dapat pahala yang berlipat ganda, bukan?


Penat tubuhku berjoget ria dengan Ruby sampai pukul dua belas malam.


Treet treet treet


Treet treet treet


Treet treet treet


Ponselku berdering berkali-kali.


Tadinya malas sekali merespon dan niat membiarkan saja.


Ruby baru saja masuk kamarnya dan aku juga kelelahan. Kini sedang berbaring di atas tempat tidur. Mau otewe alam mimpi.


Tapi ternyata, Laila yang menelpon.


Klik.


"Hallo, Laila? Ada apa?"


...[Angga! Angga!!! Mama, Mama Ga!!!]...


Hahh? Mama? Kenapa Mama? Koq si Laila yang kabarin keadaan Mama?


"Mama kenapa?"


...[Cepetan dateng, Angga!!!]...


Klik'


Laila mematikan sambungan teleponnya.


Tentu saja membuatku bingung sendiri.


Pukul setengah satu malam.


Aku beranjak dari ranjang. Mencuci muka lagi supaya make up menor yang tadi Ruby pakaikan benar-benar hilang dari wajah.


Berganti pakaian lalu keluar kamar sambil mengambil kunci serep rumah Ruby yang memang pernah diberikan untuk peganganku.


Aku tidak izin karena takut mengganggu.


Ini sudah tengah malam. Para pembantu rumah Ruby juga sudah terlelap sepertinya karena suasana rumah yang sunyi senyap.


"Maaf, Ruby. Mobilnya kupinjam dulu buat ke rumah Mama." Aku bergumam sendiri sambil membuka pintu mobil.


Kunci mobil Ruby memang aku yang pegang setelah kami kini bekerja satu kantor. Aku merangkap sebagai sopir pribadi Ruby juga.


"Laila!"


"Mama, Ga! Mama! Hiks hiks hiks..."


Padahal dini hari, tapi rumah Mama ramai orang. Ada pak RT Gofur, pak hansip Soleh, beberapa pemuda karang taruna yang duduk di teras.


"A ada apa ini?" tanyaku gugup. Aku mulai panik.


Apalagi setelah pak RT merangkul bahuku dan mengucapkan kalimat "Yang sabar, ya?"


"Mama?!?"


Seketika Aku langsung menghambur ke dalam.


"Mama?"


Sesosok tubuh terbujur di ruang tamu. Ditutup... kain batik tulis milik Mama.


"Mama...? Mama mana, Laila?"


Laila menangis. Tentu saja hatiku tambah tak karuan.


"Mama mana, Laila?" tanyaku setengah menghardik.


"Mama... mamaaa huaaa hik hiks hiks..."


Laila bergegas merangkul tubuh tertutup kain batik itu.


"Mana Mama? Lo budeg ya?"


"Mamaaa..."


Laila meraung keras. Mama..., wajah Mama terlihat sedang tidur pulas ketika Laila menyibak kain penutupnya.


"Mama?! Mama!!! Mamaaa...!!!"


Tentu saja aku kalut dilanda kesedihan mendalam.


Mama, terbujur kaku dengan wajah setengah tersenyum.


"Mama! Mama bangun, Ma! Ma! Ini Angga, Ma! Anakmu pulang, Ma! Anakmu akan mendapatkan rumah baru untuk kita tinggal bersama nanti, Ma! Ma..., Mama! Hik hiks hiks... Ma,"


Rasanya mati seluruh sel-sel syaraf di tubuh ini. Kebas, bahkan seperti hilang tenaga.


Lemas seketika dan aku terjatuh duduk di lantai.


Kuraup wajah Mama yang kuning bercahaya.


Menangis aku sejadi-jadinya.


Tak pedulikan malam yang kelam. Malam yang penuh kesedihan.


Mamaku, Mama Diana Yuliana, berpulang ke Rahmatullah. Malam Jum'at, malam penuh Rahmat.


BERSAMBUNG