
Hubungan kian jauh.
Linggau yang kini telah jadi pria dewasa yang berpengalaman mulai tergiur untuk mencicipi Diana sebelum masanya tiba.
Malam itu, hujan turun dengan derasnya. Linggau sedang apel ke rumah keluarga Diana setelah bekerja seharian.
Kebetulan sekali Ayah Ibu Diana dan dua adiknya sedang pergi ke rumah saudara yang sedang mengadakan perhelatan. Sehingga mereka hanya berduaan saja di dalam rumah.
Hujan yang besar membuat suasana semakin romantis.
Terlebih mereka hanya bisa bertemu sebulan sekali seperti ini.
Linggau tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
Malam itu, Ia menggagahi Diana yang awalnya menolak keras karena takut dosa.
Lagi-lagi..., Linggau berhasil merampas harta Diana yang paling berharga.
"Linggau, uh, Linggau! Kumohon jangan lakukan! Ingat, Linggau. Kita belum menikah. Nanti Tuhan marah."
"Tenanglah, Sayang! Aku pasti akan bertanggung jawab pada apa yang terjadi nanti. Aku, ingin sekali secepatnya menikahimu, Diana!"
"Ahhh, ah Linggau. Linggau sadarlah! Ling... gau... Aahhh... Uh..."
"Kita pelan-pelan, Sayang... Aku sayang sekali sama kamu... Ahhh..."
"Linggau Sayang,..."
"Ya, Diana Sayangg... Ahh, ah ya... Aku, semakin mencintaimu, Sayang! Percayalah, cintaku hanya untukmu seorang."
"Ahhh..."
Lenguhan sakit namun berakhir nikmat itu, adalah untuk pertama dan terakhir kalinya Diana rasakan.
Setelah satu jam lebih bergumul dengan nafsu yang diracuni bisikan setan, kedua orang tua Diana pulang.
Tak lama kemudian Linggau pamit permisi dengan alasan takut ketinggalan kereta terakhir ke stasiun Tugu, Jogyakarta.
Peristiwa itu membuat Diana hamil Angga.
........
........
"Mamamu sengaja datang ke Jogja tanpa konfirmasi pada Linggau untuk mengabarkan kondisi kehamilannya yang sudah masuk usia tiga bulan."
Aku masih diam tak bergerak mendengarkan Pak Yoseph bercerita panjang tentang kehidupan Mama di masa muda.
"Betapa terkejutnya Diana mengetahui kalau Linggau ternyata sudah menikah dan memiliki seorang anak. Diana langsung mendatangi alamat tinggal Linggau bersama Mulan. Dan gilanya, Mulan mengetahui Diana lewat Burhan, asisten pribadi Linggau sendiri yang memang dibayar Mulan tanpa sepengetahuan Linggau."
"Hhh..."
"Mulan mengatakan kalau dia rela dimadu, asalkan Diana tidak memintanya untuk diceraikan oleh Linggau. Perkataan Mulan itu justru semakin membuat Diana merasa amat bersalah. Diana shock sekali. Begitu pula Linggau yang termangu ketika pulang kerja, ada Diana sedang duduk berbincang dengan istrinya."
"Lalu..., Pak Yoseph datang dan menikahi Mama?"
"Hhh... Aku yang mengajukan diri. Awalnya Diana tidak ingin menikah denganku. Tapi kupaksa demi untuk menutupi aib yang pastinya akan mencoreng citra keluarganya."
"Kami menikah, hanya di atas buku saja. Itu semua hanya sandiwara. Karena Diana sudah berjanji pada dirinya sendiri, tak akan ada cinta lain."
Ternyata, kisah hidupku kini adalah kisah hidup Mama dahulu. Cuma bedanya, aku adalah pak Yoseph yang menikahi perempuan yang dihamili kekasihnya. Dan Mama adalah Ruby.
"Aku sebenarnya mencintai mamamu dan ingin pernikahan ini dijalani dengan sungguh-sungguh. Tapi sampai kamu lahir, Diana bahkan ingin sekali bercerai. Kami akhirnya bercerai setahun kemudian. Tiga tahun kemudian aku menikahi Sheila tanpa sepengetahuan keduanya. Aku sesekali hadir di momen-momen bersejarah hidupmu. Saat lulus TK, beberapa kali saat kenaikan kelas dan ketika lulus SMP. Setelah itu semakin jarang karena Diana yang melarang. Puncaknya, ketika kamu merayakan ulang tahun yang ke- tujuh belas tahun. Sayangnya, momen itu menjadi momen paling buruk yang membuka jati diriku karena kehadiran Sheila yang mengira aku selingkuh. Hhh..."
"Sudahlah. Aku malas mengingat cerita itu."
"Angga,... kini kamu sudah tahu siapa Papa kandungmu. Sebaiknya, kamu ikut bersama Linggau. Aku yakin dia pasti akan memberimu tempat yang baik. Setelah apa yang telah Ia perbuat pada Diana."
"Tidak. Aku tidak akan meminta belas kasihan orang itu!"
Jawabanku singkat saja. Karena aku memang tidak berniat untuk menjilat pria yang telah menjadikan Mamaku perempuan paling sengsara dalam hidupnya.
Tidak.
"Kalau kamu mau, kamu bisa ikut Papa dan Mama Sheila. Beliau sudah mengetahui cerita yang sebenarnya. Beliau sudah bertemu mamamu dan minta maaf atas kejadian waktu itu. Sheila sebenarnya ingin sekali menemuimu juga dan minta maaf secara langsung, tapi Mamamu melarang." Katanya lagi.
Aku hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih dan maaf.
Hanya kalimat itu yang keluar dari bibirku yang kelu.
Pak Yoseph pamit setelah memberiku sebuah map berisi dokumen harta berharga milik Mama yang selama ini Mama titipkan padanya.
Awalnya Aku menolak. Tapi ketika kutanya apa isinya dan pak Yoseph bilang tidak tahu, membuat aku terpaksa menerima karena penasaran ingin tahu isinya.
"Nanti Papa akan kembali dengan Mama Sheila!" katanya sebelum pergi.
"Tidak perlu. Terima kasih atas perhatiannya. Terima kasih, selama ini telah menjadi paman berkaki panjang untukku. Terima kasih, Pak Yoseph Indrawan."
Pak Yoseph terhenyak.
Dia berlalu tanpa kata.
Hanya helaan nafas mungkin kesal karena karakterku yang nyaris mirip Mama Diana. Keras kepala.
Hm.
Map tertutup berwarna coklat itu seketika kubuka.
Isinya, sebuah sertifikat tanah tertera atas nama Mama Diana sebagai pemilik tunggal.
Juga sepucuk surat tebal berwarna putih bertuliskan "UNTUK PUTRAKU, ANGGA SAPUTRA"
Mama...,
Air mataku jatuh meluncur. Setelah kini ditinggal pergi Mama, aku berubah menjadi pria cengeng yang mudah sekali menangis.
Padahal dulu tidak.
Sekeras apapun hidup yang harus kujalani, aku tak pernah berurai air mata begini.
Kini, seperti pria lemah. Air mata ini seolah sangat mudah untuk jatuh menetes rembes dari kolamnya.
Srek srek srekk
Teruntuk putraku Angga Saputra,
Ketika kamu sudah menerima dan sedang membaca surat ini, ada kemungkinan Mama telah tiada lagi di dunia ini.
Angga..., kamu akhirnya telah tahu jua. Bagaimana kisah Mama, bagaimana juga dirimu di masa lalu.
Meskipun begitu, Mama sangat sayang padamu, Anakku.
Biarlah orang berkata apa. Yang penting, Mama akan selalu menjagamu. Mama akan selalu melindungimu dari apapun itu termasuk rasa sakit karena kesedihan-kesedihan yang tak pernah ada jawaban dari Mama.
Maaf. Sampai akhir, Mama tetap berusaha keras menjaga rahasia ini sampai kamu dewasa dan bisa memahami kehidupan yang memang penuh ujian.
Maaf. Mama melahirkan dan membesarkan dirimu dengan segala keterbatasan serta kekurangan.
Sekali lagi, Mama minta maaf, Anakku Angga Saputra.
Ini sertifikat tanah yang Mama beli dan sengaja Mama titipkan pada papa Yoseph untukmu sebagai modal usaha. Gunakanlah untuk keperluan hidupmu. Mama doakan kamu akan jadi orang sukses di masa depan.
Carilah kebahagiaanmu sendiri tanpa harus menoleh pada masa lalu yang kamu anggap suram.
Mama yakin, Tuhan Maha Baik.
Selamat berjuang, Anakku Sayang.
Mamamu, Diana.
Air mata ini masih memburamkan pandangan.
Sesekali kususut sisanya, karena merasa malu pada diri sendiri.
Hingga gendang telingaku mendengar suara pintu diketuk dan bunyi daunnya yang dibuka seseorang.
"Laila?" tebakku seraya menoleh ke arah pintu.
"Laila?!? Kenapa nama perempuan itu yang Lo sebut terus? Sepenting itukah dia bagi Lo?"
Aku tercekat.
Ruby berdiri dengan wajah meradang.
Seperkian detik kami saling berpandangan.
"Ruby..."
BERSAMBUNG