
Klik'.
...[Angga! Lo dimana? Lo pergi kemana? Ini udah jam enam pagi tapi Lo belum juga balik! Mana bawa mobil gue juga! Dimana Lo sekarang?]...
"Gue di rumah! Maaf."
Klik.
Ruby terdengar emosi dan marah di telepon.
Aku salah. Memang. Karena pergi tanpa izin. Tapi aku sedang terpuruk kini.
Jiwa ku seperti melayang tetapi tubuh terasa amat sangat berat untuk digerakkan.
Entah, bagaimana aku hidup TANPA MAMA. Apa lagi yang kucari selain kebahagiaan Mama. Dan kini Mama telah pergi tinggalkan aku sendiri.
Hik hiks hiks...
Mencoba tegar, tapi kutak bisa.
Berusaha kuat namun sia-sia.
Air mataku jatuh tak bisa kuhentikan lajunya.
Mama! Mama yang sejak dulu buatku kesal karena karakternya.
Mama! Mama yang melahirkan dan membesarkanku seorang diri tanpa bantuan Papa.
Ma, sesungguhnya aku sangat menyayangimu.
Aku takut sekali kehilangan dirimu. Dan kini semua ketakutan ku menjadi nyata.
Aku sudah dewasa. Tapi, ternyata tak cukup hebat untuk bisa berfikir lebih dewasa seperti harapan Mama.
Mentalku ambruk. Jiwaku terhempas.
Tangis penyesalan ku meledak.
Aku terkurung di lembah kesedihan yang teramat dalam.
Entah bagaimana bisa, Mama bahkan pergi meninggalkan ku tanpa memberi tanda apalagi pesan terakhir.
Dan aku, tidak menyaksikan proses kepergian Mama. Semua tak pernah ada dalam bayanganku. Tak sedikitpun.
"Huuhuhuuu... Ma, bangun, Ma! Jangan tinggalkan aku sendirian, Ma! Ma... hik hiks hiks..."
Pak Gofur dan para pria tetangga kami yang dewasa bijaksana memberiku wejangan hangat.
Tangisan rintihanku bisa membuat Mama berat. Itu sama saja aku menyusahkan Mama untuk hidup tenang damai di sisi Sang Pencipta.
Cepat atau lambat kita semua akan kembali ke haribaan Sang Pencipta. Jadi, aku harus sabar dan ikhlas. Tawakal pada ketetapan Illahi Robbi. Karena ini sudah takdir yang Tuhan gariskan untuk Mama dan Aku.
Hanya doaku saja yang Mama butuhkan kini. Untuk membuat Mama lebih bahagia di surga sana. Aamiin.
Aku sedikit lebih tenang.
Apalagi memiliki para tetangga yang baik yang bisa diandalkan. Mereka berjibaku sejak subuh. Mengurus pemakaman Mama yang akan segera dilakukan. Mereka bergotong royong membantuku yang hanya seorang diri tanpa keluarga lagi.
Hanya Laila yang setia duduk di sampingku berurai air mata tanpa kata.
Dan Aku duduk lemas lunglai sambil sesekali memeluk tubuh Mama sebelum dimandikan dan dikafani ibu ustadzah setempat.
Semuanya Tuhan lancarkan.
Cuaca redup, tapi tidak hujan. Seperti gambaran hatiku yang remuk redam.
"Angga?!? Mama!!!"
Aku hanya bisa menatap wajah Ruby yang terlihat pias saking kagetnya.
Ruby tak kalah histerisnya sama seperti Aku.
Dia ikut menangis pilu padahal baru kenal dekat dalam beberapa hari yang lalu.
Jenazah Mama akan dibawa dahulu ke masjid terdekat untuk disholatkan. Baru setelah itu langsung berangkat ke pemakaman umum yang letaknya hanya satu kilometer dari lokasi rumah.
Semua, pak Gofur dan para tetangga yang baik hati yang menghandle. Aku sudah memberikan kuasa pada pak Gofur untuk mengurusnya. Untungnya Laila mengantongi uang cash empat juta rupiah. Untuk sementara kupinjam kuserahkan pada pak Gofur untuk segalanya.
Sebelum jenazah dimasukkan ke dalam mobil ambulans, kulihat Ruby dan Laila bersitegang.
Tentu saja semakin membuat ruwet pikiran ini.
Grepp.
Kutarik tangan Ruby agar tidak melanjutkan perseteruan nya dengan Laila.
"Ruby, pulang! Daripada kau buat onar dan bikin almarhumah Mamaku berat langkah, lebih baik kau pulang saja!" hardikku dengan suara ditekan intonasinya.
Ruby terhenyak.
"Kamu ngusir Aku?" ucapnya dengan suara tercekat.
"Urusan kita akan kuselesaikan setelah pemakaman Mama!" kataku lagi dengan mata menatap tajam kearahnya.
"Kamu..., lebih memilih dia yang berdiri di sampingmu? Bukan aku?" katanya lagi dengan suara ditekan. Ada butiran air mata yang meluncur jatuh. Namun aku tak mau peduli.
Dia membalikkan tubuhnya. Menghentakkan tas branded nya yang tersoren di bahu, lalu beranjak pergi tanpa kata lagi.
Ruby begitu emosi sekali.
Tapi aku tak peduli.
Pemakaman Mama adalah yang utama dipikiran ini. Aku tak ingin ada kejadian yang memalukan di saat memberikan penghormatan terakhir pada beliau.
Aku, Angga Saputra. Bangga sekali karena telah beliau lahirkan ke dunia.
Meskipun dengan sekian banyaknya kisah menyakitkan dalam hidup. Aku menyayangi Mama sepenuh hati segenap jiwa.
Dan ini adalah saat terakhir aku menghormati beliau. Melakukan pemakaman yang khidmat diiringi banyak doa agar Mama ditempatkan Tuhan di tempat terindah bersama orang-orang soleh soleha. Aamiin.
Ternyata, Mamaku adalah orang baik.
Banyak sekali orang yang mengiringi dan mengantar kepergiannya bahkan sampai ke tanah pemakaman umum.
Kukira Mama orang biasa yang tidak pernah bersosialisasi dengan para tetangga. Apalagi selama ini adalah seorang karyawati di pabrik sehingga jarang ada di rumah kecuali hari libur saja.
Ternyata, Mama adalah orang yang cukup murah hati dan banyak orang yang pernah Mama bantu.
Itu baru terungkap setelah Mama tiada.
Ma, maafkan anakmu ini yang selalu salah menilai mu, Ma!
Liat lahat Mama menunggu jasadnya menyatu dengan bumi.
Manusia berasal dari tanah, dan akan kembali ke tanah jua.
Azan pertamaku dimuka umum, ternyata langsung di lubang kubur Mama.
Sedikit tersendat karena air mata yang menghambat pernafasan. Tanganku sibuk mengusap cepat agar tetesannya tak jatuh menjadi beban Mama.
Akhirnya aku berhasil mengadzani sampai tuntas. Melepas kepergian Mama dengan ikhlas dibantu orang-orang baik di sekitar.
Laila seperti saudara bagiku.
Dia mendampingi tanpa banyak bicara. Hanya sesekali ia menyusut air matanya agar tidak jatuh menghalangi pandangan.
Setelah selesai, satu persatu orang berpamitan pergi meninggalkan pemakaman.
Tinggal aku dan Laila dan beberapa orang pengurus saja yang tersisa.
"Pak Gofur, terima kasih banyak atas bantuannya. Untuk kekurangan biaya pemakaman, saya akan segera selesaikan nanti sore."
"Jangan terlalu dipikirkan, Ga! Kami pamit dulu. Nanti malam pertama apa akan ada tahlil? Biar bapak dan pengurus masjid bantu mengatur kalau ada."
"Iya, Pak. Saya ingin tahlilan sampai tujuh hari untuk mendoakan Mama."
"Baiklah kalau begitu. Kami akan membantu sampai waktu yang ditentukan. Bapak izin permisi dulu, Ga!"
"Terima kasih banyak, bapak-bapak. Terima kasih. Allah pasti membalas semua kebaikan bapak-bapak."
"Aamiin..."
Aku mengantar pak Gofur dan yang lain sampai keluar pemakaman.
Tetapi mataku melihat wajah yang selama hidup ini selalu berusaha kuingat.
Yoseph... Indrawan!?!
Dadaku bergemuruh. Meletup-letup terdengar sangat keras di dalam hati.
Dia sedang berbicara dengan seseorang yang juga kukenal wajahnya.
Pak Linggau Marapati!
Ada apa mereka berdua? Apa mereka saling kenal? Apakah Papanya si Ryan itu juga mengenal Mama?
BERSAMBUNG