
“Aku ingin lewat koridor luar.” Aku memberi usulan ke Thierry saat hendak menuju ruang makan di gedung utama.
“Bukankah biasanya kamu mengeluh terlalu jauh meskipun kita lewat koridor dalam. Sekarang kamu malah ingin memutar lewat luar?” Thierry menanyakan keputusanku.
“Setelah seminggu hanya terbaring di kasur, bukankah berjalan cukup jauh bisa jadi olahraga yang baik untukku?” Dengan mudah aku memberi alasan masuk akal.
Tapi, alasan sebenarnya adalah agar aku bisa mengetahui struktur bangunan dan pekerjaanku di istana.
Selama seminggu ini, Chiara pasti sudah sering membahas lembaga swadayanya dengan Thierry. Konflik awal cerita aslinya adalah ketika Arabella mengobrak-abrik lembaga milik Chiara saat Thierry bertugas sebagai pengawasnya.
Masih banyak hal yang harus aku lakukan sebelum meloncat masuk ke alur utama sebagai antagonis.
Thierry menimbang keputusanku yang tak berubah, hingga mau tak mau dia menyetujui saranku dan kembali menawarkan lengannya.
Sepanjang perjalan aku mencuri pandang ke kiri dan kanan, mengamati bangunan megah Istana Beryl. Padahal, istana tempat Arabella tinggal bukanlah istana utama seperti milik Thierry ataupun para selir raja.
Berdasarkan kepentingannya, Istana Beryl hanya berada di tingkatan ke-8 dari 9 istana di Kerajaan Diamant. Satu tingkat lebih tinggi dibandingkan Istana Emerald, tempat biasanya perjamuan dan acara kerajaan digelar.
Istana Beryl tempat Arabella tinggal adalah istana terbuka. Selain karena mengurusi berlalu lalangnya pemimpin wilayah mengurusi acara bangsawan, istana ini juga memiliki koridor-koridor luar yang menghubungkan seluruh bagian istana.
Taman hortensia dan tempat tinggal Arabella ada di bagian sayap kiri, sementara sayap kanan bisa dibilang bagian untuk kantor urusan kerajaan. Gedung utama yang berada ditengah-tengahnya berisi ruang-ruangan umum seperti perpustakaan dan ruang makan utama.
Saat masih asyik menikmati pemandangan, pandanganku tiba-tiba teralih oleh sosok perempuan yang berselisih jalan dengan kami. Tubuhnya yang kecil kewalahan dengan tumpukan berkas yang dipegangnya.
“Lady Chiara?” Thierry memanggil perempuan itu. Aku mengerjapkan mata. Chiara? Kenapa dia ada di sini?
“Segala Kemuliaan dan Kebajikan kepada Permata Kerajaan Diamant,” Chiara seketika melupakan berkas-berkasnya dan langsung mengucap salam hormat ke arah Thierry. Masih dengan pandangan menunduk Chiara kemudian memperkenalkan dirinya ke arahku.
“Selamat siang Nona Arabella. Saya Chiara de Laiben. Putri tunggal Baron dari Laiben. Saya dengar Nona mengalami minggu yang menyulitkan. Senang bisa melihat Nona kembali sehat.” Chiara dengan sopan memberi salam kepadaku.
Sesaat aku terpana, kecantikannya luar biasa. Dia benar-benar mirip sosok Snow White! Bahkan dengan rambut pendek ikoniknya.
Di jaman ini, sangat jarang ada seorang putri bangsawan yang berambut pendek, tetapi, Chiara dengan wajah oval dan mata birunya justru terlihat cocok. Tubuhnya yang lebih kecil dari tubuh Arabella itupun terlihat rapuh.
“Apakah rumor tentang kesehatanku bisa tersebar sejauh ini?” Namun, pujian itu tak akan pernah muncul dari mulutku sebagai Arabella. Aku memandangi Chiara, seakan tidak pernah bertemu dengannya.
“Aku sempat bertemu beberapa kali dengan Lady Chiara untuk membahas lembaga swadaya yang ingin dia dirikan.” Aku mendelik ke arah Thierry, seakan bertanya, lalu apa hubungannya denganku?
Thierry membalas tatapanku dan mendekatkan kepalanya, “Lady Chiara seharusnya juga bertemu denganmu untuk memulai pengawasan.”
Hah? Jadi seharusnya Arabella yang mengawasi Chiara? Bukan Thierry? Aku mengerenyitkan kening. Apakah ingatanku tentang cerita aslinya memang sudah kacau? Aku bahkan lupa ada bagian ini.
“Bukankah sedari awal itu urusanmu?” Aku bertanya ke Thierry. Mencoba mencari petunjuk.
Istana Sapphire tempat tinggal Thierry sebagai putra mahkota membawahi banyak istana, dan, salah satunya untuk urusan kesejahteraan rakyat. Karena itulah di ceritanya mereka jadi sering bertemu.
“Lady Chiara masih tetap seorang bangsawan. Karena itu dia harus tetap menyerahkan berkas pengawasan ke istanamu.” Thierry meminta sebuah dokumen pada Chiara lalu memberikannya ke padaku. Isinya mirip proposal permohonan.
Apa karena di cerita ‘My Chiara’ Thierry sudah menaruh perasaan dengan Chiara sehingga bisa melewati tahapan ini? Tapi, melihat dari gelagat mereka sekarang, aku tak melihat tanda Thierry dan Chiara sudah jadi lebih dekat selama seminggu ini.
Apa yang membuat cerita saat ini berbeda?
Sampai lembar terakhir proposal itu, aku tetap tak menemukan jawabannya. Aku melihat Chiara, ekspresi lembutnya bias dengan wajahku. Apalagi kepribadiannya yang bersemangat dan mengerjakan semua hal dengan setulus hati.
Baik aku ataupun Arabella, tidak akan cocok dengan energi positif seperti ini. Entah kenapa aku menjadi kesal melihat wajah polos itu.
“Aku tidak bisa mengurusnya.” Aku menyerahkan berkas itu ke Thierry. Aku benar-benar tidak mau mengurusnya.
Lagipula, kalau cerita aslinya menjadi sedikit berubah, aku tinggal mengembalikannya saja ke jalur asalnya. Arabella yang menolak membantu pasti akan memicu Thierry mengajukan diri menjadi pengawas.
“Arabella dan aku akan membicarakannya lebih lanjut setelah berkasmu diurus sesuai prosedur.” Thierry menjawab dengan kaku. Sekelias aku merasakan wkspresinya yang dingin itu menyimpan ragu.
“Baik Yang Mulia, terima kasih atas bantuannya. Saya pamit undur diri. Segala Kemuliaan dan Kebajikan pada Permata Kerajaan Diamant.” Chiara menunduk sembari memberi salam. Lalu, dia pergi begitu saja.
“Aku tidak ingin membahas pekerjaan di hari pertama kamu sembuh.” Thierry kembali bersikap santai saat Chiara menjauh.
“Bukannya kamu tadi sempat menyinggung pekerjaanku yang terbengkalai seminggu ini?” Aku memandangi Thierry dengan bingung. Menuntut penjelasan lebih. Hilang sudah minatku memandangi istana.
“Aku tidak serius. Tapi ternyata memang ada saja serangga pengganggu.” Suara Thierry terdengar kesal. Pikirannya seperti terusik sesuatu.
Aku memandangi wajah Thierry, semakin lekat, semakin aku mengenali ekspresi itu. Raut wajahnya menunjukkan penasaran yang tercampur aduk dengan ego.
Ternyata aku tidak lupa cerita aslinya. Karena, itu adalah kesan awal Thierry saat bertemu Chiara di Perjamuan Musim Semi.
Kejadian apa yang terlewatkan sampai hubungan mereka terhenti seperti ini?
“Thierry?” Aku mencoba mencari tahu. “Apakah aku pernah bertemu dengan Nona Chiara sebelumnya?”
Seharusnya, karakter Arabella hanya bertemu satu kali dengan Chiara, yaitu di depan balkon. Pertemuan mereka yang kedua akan terjadi jauh setelahnya, yaitu saat Thierry mulai menjadi pengawas di lembaga swadaya Chiara.
“Aku rasa belum. Akupun baru pertama kali bertemunya saat malam perjamuan. Sepertinya kamu sudah pulang lebih dulu karena demam.”
Itu dia! Itu yang terlewatkan. Mereka bertiga tidak bertemu di malam setelah perjamuan. Thierry juga tidak menghabiskan malam bersama Arabella sehingga perasaanya ke Chiara tidak berkembang.
Kejadian itu dianggap dalam cerita aslinya untuk menghapus rasa penasaran Thierry ke Chiara. Tapi, karena sekarang sudut pandanganya dari pemeran antagonis, bisa jadi ini adalah titik plot yang harus dicapai agar cerita berlanjut.
“Arabella. Makan siangnya sudah siap.” Tiba-tiba saja kami sudah berada di depan pintu ruang makan. Ornamen dan lukisan indah menyambutku di dalam ruangan.
Bau daging menyeruak membuat perut kosongku bergejolak. Tapi, aku sudah tak lagi bernafsu makan.
Aku menghela napas, ceritaku menjadi pemeran antagonis ternyata lebih rumit dibandingkan yang muncul di novel.