Hopeless Reincarnation

Hopeless Reincarnation
The Second Lead


“Turunkan aku di cafe. Kau tidak perlu mengikutiku, aku ingin memilih sendiri makanan di sana.” Aku berpesan pada Lanna saat masuk ke kereta kuda siang itu. Lanna mengangguk, tak lagi berani bertanya.


Mendekati pukul satu siang, kereta kudaku berhenti di depan Cafe Aprikos. Aku masuk dan membeli beberapa pai buah yang dari penampilannya sudah menggoda nafsu makanku. Setelah itu, aku diam-diam keluar lewat pintu belakang.


Untunglah tujuanku sebenarnya tidak jauh dari sana. Tak butuh waktu lama untukku menemukan, sebuah bangunan kuno yang baru dibersihkan, calon tempat lembaga swadaya Chiara beroperasi nantinya.


Mengandalkan ingatan, aku memeriksa gang mana yang kemungkinan akan di tempati oleh Yorka. Ada satu gang yang berhadapan langsung dengan belakang gedung lembaga yang sesuai dengan deskripsi di novelnya.


“Oke, untuk mengindari terganggunya alur cerita, lebih baik aku menunggu di gang sebelahnya.” Aku bergumam, meskipun belum tentu melihat wajahnya, setidaknya aku bisa mendengar suara dari laki-laki itu.


Aku mencari tempat duduk di antara tumpukan peti kayu dalam gang. Thierry pasti sudah mendapatkan berkasku dan bertemu Chiara. Mereka bisa saja sudah ada di dalam gedung, aku tinggal menunggu saja.


Aku menyamankan diri dengan mencicipi kue buah yang kubeli di toko.


“Wah…makanan mahal memang yang terbaik.” Aku menyadarkan diri ke belakang, terbuai dengan rasa manis, asam dan segar pai buah yang kumakan. Lalu…


'BRAK!!'


'MEONG!'


Tiba-tiba peti kayu di belakangku terjatuh tak kuat menahan berat tubuhku. Karena kaget, pai buah buah yang baru setengah tergigit terjatuh begitu saja. Begitu juga dengan beragam pai lainnya yang baru aku beli.


“Kucing sialan!” Makiku kepada satu-satunya makhluk hidup yang bisa kusalahkan.


Kucing kecil yang kumaki masing mengeong keras, berbaring dengan kakinya yang masih tertimpa kotak kayu. Aku sebenarnya ingin menolong tapi…masalahnya adalah,


“Ternyata rumor tentang kekejaman Anda tidak bohong, Lady Arabella.” Sebuah suara tiba-tiba memotong pikiranku. Siapa itu?


Aku menoleh, dibelakangku sudah ada laki-laki yang bergegas menunduk dan membantu kucing itu. Saat laki-laki itu berdiri, tubuh yang kukira sudah cukup tinggi ini sampai harus mendongakkan kepala untuk melihat wajahnya.


Lagi-lagi lelaki tampan seperti Thierry, namun, kali ini dengan rambut coklat dan mata hijau secermelang permata emerald. Lho? Sial..sial…siall!


“Apakah ada sesuatu di wajah saya, Lady? Bukankah wajah Anda sendiri penuh dengan krim gula?”


Kenapa dia ada di sini? Bukannya aku sudah memastikan gang mana dia akan muncul?


“Kenapa kesatria kerajaan sepertimu ada di sini, Kesatria Yorka?” Aku yang gugup balik bertanya.


“Bukankah pertanyaan itu lebih cocok untuk menjelaskan situasi Lady sekarang?” Pertanyaan mendadakku justru menjebak diriku sendiri. Bukan hak aneh melihat Yorka berkeliling ibukota, apalagi menjelang festival besar. Tapi, mana bisa aku menyiapkan jawaban logis sekarang!


Untungnya wajah Arabella yang disetel selalu terlihat acuh tak acuh itu menutupi kepanikanku. Yorka sendiri sepertinya tidak begitu peduli dengan alasan aku ada di sana. Dia sudah sibuk membalut luka si kucing dengan saputangannya.


Eh? Lho? Bukankah itu saputangan untuk mengelap air mata Chiara nanti? Kenapa justru kucing kotor itu yang mendapatkannya?


“Bukannya Anda juga memiliki kucing di Istana Beryl? Saya pikir Anda akan lebih perhatian terhadap hewan kecil ini.” Yorka menguak fakta yang salama ini tidak pernah kubeberkan.


Ya. Aku benci kucing! Lebih tepatnya aku sangat takut dengan kucing! Satu-satunya sifatku yang paling berbeda dengan Arabella yang mencintai kucing-kucingnya. Di istananya dia bahkan punya tiga kucing! Tiga!


Untuk menghindari kucing-kucing itu, aku harus menugaskan masing-masing pelayan pintu untuk memelihara mereka. Alasannyapun dibuat-buat, kubilang akan menilai kinerja mereka dari cara merawat kucing kesayanganku. Bohong sekali, saudara-saudara!


“Aku hanya suka kucing-kucingku yang cantik. Bukan yang kotor dan berisik seperti ini.” Kali ini aku bahkan harus berbohong ke Yorka. Maafkan aku kucing kecil.


“Kalau begitu, saya akan membawa kucing manis dan ramah ini pergi dari hadapan Lady.” Yorka lagi-lagi mengeluarkan nada sindiran.


Gelarnya mungkin hanya Marquess, tapi, perannya sebagai kesatria kerajaan membuatnya tidak peduli pada starta sosial seperti itu.  Kenapa sifatnya jadi lebih menyebalkan dari pada Thierry, sih?


Tanpa pamit, Yorka berpindah ke gang di sebelahku. Aku akhirnya terpaksa ikut berpindah tempat dan mengintip mereka dari jarak yang cukup jauh. Aku tak bisa mendengar percakapan dari jarak sejauh ini, meskipun samar-samar, setidaknya wajah mereka tetap terlihat.


Tak lama dari situ, Chiara yang menangis keluar dari dalam gedung lembaga. Untunglah Chiara menangis seperti cerita aslinya, namun, Yorka tidak melihat tangisan itu. Dia masih sibuk membalut luka di kaki si kucing.


Aku hampir saja berteriak kesal, untung saja Chiara justru melihat kehadiran Yorka yang sibuk sendiri itu. Dia menghapus air matanya dan dengan terburu-buru membawa perlengkapan P3K dari dalam gedung. Mereka membantu mengobati luka kucing itu dan bercakap-cakap dengan ramah.


Hmm.. kalau begini, alur ceritanya tidak akan stuck lagi, kan?