
Botol wine yang baru dibuka dan kue-kue manis yang tak habis dibiarkan tergeletak di atas meja. Kami tak peduli. Bibirku dan Thierry sudah saling ******* satu sama lain berbagi hisapan yang sama manisnya.
Aku lupa bagaimana jalan cerita untuk bisa sampai di kasur kamar Thierry. Sepuluh menit melihat Thierry berlatih pedang adalah ingatan terakhirku, karena setelah itu, mulut kami tak bisa lagi banyak berbicara.
Tubuh berototnya dengan penuh kehati-hatian mengapit tubuhku. Kuperhatikan biseps di kedua lengannya berusaha menopang beban tubuhnya agar tak membebaniku. Bibir kami semakin lekat menyatu, saling berbalas mengikatkan lidah.
Sementara itu, tangan Thierry telah sibuk melepas satu persatu helai kain yang masih menempel di tubuhku.
Saat hampir kehabisan napas, aku meminta jeda pada Thierry, membuat tubuhnya setengah terduduk di atas tubuh polosku.
Cahaya temaram di kamar itu memantulkan pesona kulit kuning langsatku yang mulus. Thierry menelan ludah.
Melihat reaksi itu, jiwaku yang semula tak percaya diri seketika menyatu dengan keangkuhan anggun milik Arabella. Aku menggoda hasrat Thierry dengan membiarkan tanganku menjelajahi setiap lekukan di tubuh indah itu. Kusibakkan rambut keemasanku untuk memperlihatkan leherku yang jenjang, mengundang Thierry untuk mencicipinya.
Tanpa ambil jeda, Thierry segera melahap leherku dengan ciuman bertubi. Aku tertawa geli, lalu membalasnya dengan rangkulan manja yang menggerayangi tengkuk dan punggungnya.
Setelah puas memberi jejak di leherku, Thierry turun ke dua buah kembar di dadaku. Aku menahan napasku saat bibirnya tak henti menghisap hingga ke dua puncak merah mudanya mengeras.
Masih belum cukup, Thierry ikut memainkan keduanya dengan gigi dan lidahnya. Aku meringis namun tak bisa melawan kenikmatan yang kudapatkan dari godaan itu.
Tanganku juga tak bisa menunggu. Dengan tak sabaran tanganku mencari target di balik celana Thierry. Menstimulasi dengan sama menggodanya dengan cara Thierry merayu milikku.
Setelah sama-sama merasa terpuaskan, Thierry melancarkan serangan kedua. Tubuh kami saling berpelukan di atas kasur dan dengan pelan ia menggoda klitorisku dengan miliknya. Sementara bibir kami kembali sibuk beradu dan saling mengikat lidah sampai terengah-engah.
Aku yang tak kuat lagi mencabik lemah punggung Thierry meminta dirinya untuk segera menyatu ke dalam diriku.
Thierry yang masih tak puas menggodaku dengan senyumannya. Gigi taringnya yang sedaritadi menggelitik lidahku mencuri perhatian. Aku tak keberatan untuk membujuknya, dengan gerakan gemulai aku menghujani leher dan tubuh Thierry dengan kecupan yang menyengat.
Kutinggalkan jejak disetiap kecupan dan hisapan, membuatnya menyeringai puas.
Thierry akhirnya ‘mendengarkan’ kemauanku dan kembali ke posisi mengapit tubuhnya di atas tubuhku. Pandangannya yang menggoda mengarah ke seluruh tubuhku, lalu kembali ke mataku.
“My Arabella,” Thierry memanggilku sebagai miliknya, seakan meminta izin.
Aku memberinya jawaban dengan membalas manis pandangannya.
Aku membalas perasaannya dengan sedikit rasa sendu dan terharu. Ikut meluapkan perasaanku ke dalam dirinya.
“Thi..err..y,” Aku memanggil namanya dengan suara tertahanku saat perasaan kami saling berbalas, beradu dan menyatu hingga mencapai puncak ekstase.
Thierry, menjatuhkan dirinya ke samping tubuhku. Terengah-engah. Aku memandanginya dengan tatapan, ‘Serius? Hanya segitu kemampuanmu?’
Tapi, tak butuh waktu lama sampai tatapanku dibalasnya dengan tatapan yang lebih mengintimidasi seakan bilang, ‘yang tadi baru pemanasan, lihat saja ronde-ronde selanjutnya.’
Aku menerima tantangan darinya hingga tersadar permainan kami setelahnya di malam itu jadi lebih liar, lebih brutal dan lebih panas.
Nnhhn!!..Thi..err..y!! Kali itu, aku tak lagi peduli jika seluruh koridor dipenuhi gema eranganku.
***
“Hahh..hahhh…” Entah suara napas siapa yang sekarang terdengar. Karena aku sekarang sedang melentangkan tubuhku sembarangan di atas kasur tanpa rasa malu.
Permainan kami berhenti setelah rembulan yang mengintip di antara jendela balkon kamar Thierry sudah tinggi. Mungkin sekarang sudah lewat tengah malam, padahal, saat memulai tadi langit masih berbekas warna senja. Gairah usia dua puluhan memang gila!
“A..aku lapar dan..haus.” Ucapku masih setengah mencari nafas.
“Ya..aku juga. Kita melewatkan jam makan malam.” Jawab Thierry sama lelahnya, entah dibagian mana dari kasur besar itu.
“Aku ingin minum teh sitrus dan makan sepotong besar ayam.” Ucapku lagi minta kemauanku dipenuhi.
Thierry kemudian membunyikan lonceng kecil yang entah didapatkannya dari mana. Lalu, pintu kamarnya yang jauh dari tempat tidur itu sedikit terbuka.
“Buatkan teh dan antarkan seekor ayam panggang ke sini.” Ucap Thierry pada siapapun yang ada di balik pintu itu. Lalu, pintu kembali tertutup.
“Kita harus menunggu sepuluh menit untuk itu.” Ucap Thierry yang kemudian kurasakan tubuhnya bergerak mendekat ke arahku.
“Mau melanjutkan sebentar?” Tubuh maskulinnya yang menggoda itu kembali berada di atas tubuhku.
Aku memandangnya dengan mata terbelalak. LAGI??