
“Nasib sial sialan!” Umpatku sesampainya di dalam kereta. Untung saja digenggamanku ada pai buah yang baru. Siapa bilang aku tidak akan membeli makanan enak ini untuk kedua kalinya. Apalagi setelah lagi-lagi ketiban hal merepotkan seperti tadi.
Kali ini apalagi yang berubah? Padahal aku sudah mencocokkan waktunya berkali-kali. Aku seratus persen yakin kalau hari pertama Thierry menjadi pengawas adalah hari pertama Yorka bertemu Chiara.
Tapi, kenapa Yorka bisa ada di gang yang salah dan lebih dulu bertemu denganku? Lalu, saputangan itu. Apa tidak apa-apa jika Yorka tidak memberikan saputangannya ke Chiara?
Meskipun semuanya kembali ke alurnya, aku tetap tidak bisa memikirkan alasan munculnya kucing yang menjadi pihak ketiga yang membuat mereka saling berbicara. Padahal, aku ingin melihat Yorka yang menghapus air mata Chiara dengan lembut. “Dasar kucing kotor menyebalkan!” Gara-gara dia semuanya berubah.
Tapi, tunggu..jangan-jangan, apa itu karena… aku? Kan aku yang awalnya ingin mengintip kemunculan Yorka? Padahal aku sebagai Arabella punya perannya sendiri di dalam cerita.
“Ck! Sial..” Aku mendecak, jika aku memang tidak boleh mengintip alur cerita yang tidak ada diriku, maka, masuk akal kalau Yorka muncul di gang yang salah. Keputusanku sebagai penggemar yang menonton kemunculan pemeran laki-laki kedua justru menimbulkan konsekuensi.
“Sial, benar-benar menyebalkan!” Lagi pula, siapa sih yang membuat nasib masuk isekai punya aturan serumit ini? Trus, kali ini aku harus buat nama apa lagi. POV?
Aku marah-marah sendiri sampai baru tersadar ada Lanna yang duduk gemetaran seperti anak ayam di depanku.
Aku menatapnya tak peduli karena masih sebal. Aku mendelik ke arahnya, seakan mengancam, “Awas saja rumorku yang sedang marah-marah ini tersebar lagi ke telinga orang lain.” Dan membuat pandangan Lanna semakin menunduk sepanjang perjalanan.
Hahhh, aku harus meredakan amarah sia-sia ini. Aku mengambil catatan kecil yang selalu kubawa dan membuat kronologis.
Arabella yang mulai cemburu akan mengirimkan mata-mata. Setelah dua sampai tiga informasi yang masuk, terjadilah konfilk pertama. Arabella yang cemburu menuduh lembaga buatan Chiara melanggar kebijakan kerajaan dan menangkap para anggotanya. Yah, apapun alasannya semuanya hanya karangan Arabella.
Karena novelnya berfokus pada romansa dan hubungan percintaan antara Thierry dan Chiara, peranku tidak akan muncul banyak selain untuk merencanakan hal-hal jahat.
Hal yang sekarang jadi menyebalkan karena aku tidak bisa mengintip perkembangan mereka secara langsung. Padahal butuh sekitar dua minggu sampai masuk ke cerita penyerangan.
“Sial..semuanya jadi menyebalkan.” Entah sudah berapa kaliaku bilang sial siang ini . Aku pasti akan bosan setengah mati kalau hanya mencap berkas acara minum teh para bangsawan.
Apa sebaiknya aku juga ikut mengadakan acara minum teh saja, ya, untuk mengisi waktu. Meskipun mendadak, tidak mudah menolak undangan dariku yang punya status tinggi.
“Lanna. Sesampainya di istana aku ingin kau menyiapkan beberapa undangan untuk teman-temanku.”
“Baik, Nona. Apa yang harus saya sampaikan?”
“Tuliskan besok aku ingin mengundang mereka ke acara minum teh untuk merayakan kesembuhanku.”
Ya. Untuk mengisi waktu, lebih baik aku memperkuat hubungan sosialku dengan para nona bangsawan yang lain. Tentu saja, Nona dari keluarga Baron tidak perlu diundang.