
"Namaku Gavin, dan Ziva adalah mantan istriku. Pada saat itu, statusku masih suami Ziva. Di antara kami ada masalah yang menyebabkan pertengkaran besar. Dan Ziva memutuskan untuk pergi. Karena Ziva masih istriku, aku sebagai suami memiliki kewajiban untuk mencarinya."
"Kebetulan aku tahu siapa saja teman terdekat Ziva, meski tidak kenal. Aku berusaha mencari Ziva dari teman-temannya, dan teman Ziva yang terakhir ku temui adalah Aruna. Aku memutuskan untuk datang ke rumah Aruna, lalu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Awalnya Aruna tidak memberi tahu jika Ziva memang tinggal di rumahnya. Tapi aku memberi sebuah peringatan padanya agar berhati-hati agar tidak membiarkan Ziva berdua dengan suaminya, yaitu kau."
"Kemudian, barulah Aruna mengaku jika Ziva memang tinggal di rumahnya. Dan beberapa hari setelah itu, aku bertemu lagi dengan Ziva. Dia tampak sedang berjalan menyusuri jalan dan wajahnya tampak kacau. Aku rasa dia di usir oleh Aruna, mungkin saja Aruna sudah mengetahui apa yang aku peringatkan sebelumnya. Dan apakah di antara kau dan Ziva memang terjadi sesuatu?"
Pertanyaan Gavin membuat Abian diam seketika. Ia menatap Gavin dengan penuh rasa malu.
Gavin bisa melihat penyesalan dari pancaran mata pria di hadapannya.
"Jika istrimu tidak memaafkan mu, menurutku itu memang pantas. Sebab jika seseorang di maafkan ketika melakukan sebuah pengkhianatan, maka akan terjadi pengkhianatan kedua, ketiga, dan seterusnya," kata Gavin lagi.
"Aku tidak sedang membicarakan dirimu atau orang lain. Aku sedang membicarakan diriku sendiri. Cukup aku saja orang boddoh yang mau memaafkan kesalahan orang yang berkhianat. Berulang kali aku memaafkan Ziva yang mengkhianatiku dengan harapan dia bisa berubah. Tapi nyatanya, Ziva tetap melakukannya. Dan perpisahan merupakan jalan terbaik di antara kami," imbuh Gavin.
"Ya, kau benar," sahut Abian setelah lama terdiam. "Keputusan Aruna sudah tepat, aku memang tidak pantas untuk di beri kesempatan. Meski aku tidak seperti Ziva yang barusan kau ceritakan, yang selalu mengulangi kesalahannya. Andai Aruna memberiku kesempatan, maka akan ku gunakan kesempatan itu sebaik-baiknya."
"Itulah yang di ucapkan Ziva juga ketika memohon padaku," sahut Gavin.
"Maksudmu?"
"Ya, Ziva selalu memohon padaku untuk di beri kesempatan agar aku tidak menceraikannya. Akan tetapi yang namanya selingkuh, akan seterusnya selingkuh. Jika sudah mencobanya sekali lalu di maafkan, maka kesalahan itu akan terulang karena dia berpikir kesalahan pertama pun di maafkan, maka ia berharap kesalahan kedua pun akan di maafkan juga. Begitulah pemikiran orang-orang seperti itu."
Abian bergeming. Mungkin perkataan mantan suami Ziva itu ada benarnya juga. Sebab ia juga tidak tahu kedepannya seperti apa. Seperti halnya sebelumnya, ia selalu berbicara pada diri sendiri bahwa ia akan tetap setia pada Aruna. Dan pada akhirnya ia melakukan pengkhianatan. Mungkin sekarang ia juga bisa menyesal dan berkata tidak akan mengulangi nya lagi, tapi ucapan pria itu memang masuk akal. Lantaran ia tidak sepenuhnya bisa mengontrol diri.
"Lalu apa yang sekarang harus aku lakukan?" tanya Abian meminta pendapat.
"Jangan berlarut-larut dalam penyesalan. Lebih baik kau perbaiki diri dan buktikan jika kau sudah lebih baik dari sebelumnya. Bukan melakukan sebuah pembuktian untuk orang lain ataupun Aruna, tapi buktikan pada dirimu sendiri."
"Ya, aku memang harus melakukannya. Seperti sekarang, aku harus mencari pekerjaan terlebih dahulu. Mengumpulkan banyak uang untuk mewujudkan impian yang pernah aku dan Aruna impikan. Semoga saja dengan itu Aruna mau kembali lagi bersamaku."
"Itupun jika belum ada orang lain yang membantu mewujudkannya."
Abian menatap Gavin untuk beberapa saat. Kenapa kalimat itu begitu menyesakkan dadanya.
Sebuah mobil yang tidak asing bagi Gavin datang dan berhenti di sana. Begitu pengemudi mobil itu keluar dari mobil, muncul montir yang dia panggil tadi.
"Hai ..." balas Gavin dan Abian hampir bersamaan.
"Ada masalah apalagi dengan mobilmu?"
"Bukan mobilku, tapi mobil temanku," jawab Gavin sembari menoleh ke arah Abian.
Abian mengulas senyum ramah seraya mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
"Namaku Abian. Mobilku tiba-tiba mogok dan aku tidak tahu penyebabnya apa."
"Biar aku coba periksa."
"Iya, silahkan. Terima kasih."
Montir tersebut pun berjalan ke arah mobil Abian. Sementara Gavin pamit untuk pergi.
"Kalau begitu aku permisi duluan. Di dalam mobil ada sepupuku, jadi kami harus segera pulang."
"Ah ya, terima kasih banyak atas pertolongannya," ucap Abian.
"Ya, sama-sama."
Gavin hendak berlalu, namun segera di cegah oleh Abian.
"Tunggu sebentar, aku ada sedikit uang untukmu karena sudah membantu ku."
"Tidak usah. Simpan saja, kau lebih membutuhkannya. See you next time."
Gavin berlalu dari sana, sementara Abian memasukan kembali dompetnya ke saku celana. Senang bertemu dengan Gavin.
_Bersambung_