GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Rencana Nikah


Usai saling menyatakan perasaan siang itu, Haikal dan Aruna segera merencanakan pernikahan. Haikal tidak mau menunda waktu lama lagi. Ia ingin secepatnya menikah dengan wanita yang selama ia sebut dalam do'anya.


Penantiannya selama bertahun-tahun akhirnya berakhir sesuai harapan. Meski ia harus melewati perjalanan panjang yang ia anggap tidak berujung. Ia hampir menyerah dan putus asa, bahkan sempat mengikis rasa begitu Aruna lebih memilih Abian di banding dirinya.


Tapi ternyata, keajaiban itu masih ada. Tuhan masih memberinya kesempatan untuk bersama dengan seseorang yang selama ini ia jaga cintanya hanya untuk Aruna.


"Kau tahu kenapa aku tidak bisa menghilangkan perasaan ini untukmu meski sudah aku coba kikis setiap hari?"


Aruna mengerutkan alisnya. "Kenapa?" tanya wanita itu penasaran.


Haikal mengeluarkan selembar kertas foto dari balik saku jas hitamnya. Lalu ia berikan pada Aruna.


"Sebab sebelum aku memejamkan mata untuk tidur setiap malam, wajahmu yang terakhir aku lihat dari foto ini."


Aruna mengulas senyum seraya mengambil foto tersebut dari tangan Haikal.


"Sejak kapan kau menyimpan foto ini?"


"Sejak aku memiliki perasaan untukmu lebih dari sekedar teman, sebelum kau mengenal Abian," terang Haikal.


"Aku sudah tahu kau menyimpan foto ini."


"Tahu dari mana?"


"Saat aku mengambil obat di kamarmu waktu itu. Aku tidak sengaja melihat foto ini tergeletak di atas nakas samping obat-obatanmu."


"Benarkah?"


Aruna mengangguk membenarkan.


Keheningan terjadi di antara mereka untuk beberapa saat, sampai akhirnya Aruna di kejutkan oleh suara dering panggilan masuk.


"Siapa?" tanya Haikal.


"Nabila," jawab Aruna kemudian menjawab teleponnya.


"Halo .." ucap Nabila begitu sambungan telepon terhubung.


"Iya, Nabila. Ada apa?" tanya Aruna.


"Aruna, kau serius mau resign dari resto?" seru wanita dari sebrang sana.


"Iya, Nabila. Aku mau resign dari resto." Aruna membenarkan.


"Kenapa, Aruna? Kau mendapat pekerjaan yang jauh lebih besar gajinya? Aku juga mau ikut kalau kau menemukan pekerjaan yang gaji nya lebih besar."


"Lantas? Apa yang membuatmu resign dari pekerjaan?"


Aruna menatap ke arah Haikal sekilas. Sebelum kemudian menjawab pertanyaan Nabila.


"Ada sesuatu yang membuatku harus berhenti bekerja. Dan besok, hari terakhirku kerja di sana, Nabila."


"Ah ya ampun ... Aku sedih dengar kau mau berhenti bekerja, Aruna. Aku pikir itu hanya gosip teman-teman di sini. Oleh karena itu akan menanyakan langsung padamu untuk kebenarannya. Mana besok kita tidak satu shift lagi, kita tidak bisa bertemu."


"Iya, maaf ya, Nabila. Terima kasih juga sudah menjadi teman baikku selama di pekerjaan. Aku pasti aku akan merindukanmu."


"Aku akan jauh lebih merindukanmu, Aruna."


"Iya, Nabila. Kalau begitu, aku tutup dulu teleponnya, ya. Nanti kita bisa sambung lagi."


"Iya, Aruna. See you."


Sambungan telepon pun berakhir.


"Temanmu di tempat kerja?" tanya Haikal.


"Iya, dia sedih aku mau resign," jawab Aruna.


"Sebegitu takutnya dia kehilanganmu."


"Kami kenal sudah lama dan di antara banyaknya teman di tempat kerja, Nabila hanya dekat dengan aku. Begitu juga dengan aku, hanya dekat dengan dia saja," jelas wanita itu.


"Pantas dia sedih."


"Iya."


Haikal melirik jarum jam tangan di pergelangan tangannya. Sudah hampir jam sepuluh, itu artinya sebentar lagi jam waktunya Elona pulang sekolah.


"Kita jemput Elona sekarang, ini sudah hampir jam sepuluh," ajak Haikal.


Aruna menekan tombol power ponselnya dan melihat jam di layar kunci ponsel.


"Iya, sepuluh menit lagi Elona keluar. Ayo."


Aruna dan Haikal bangkit berdiri dari duduknya, mereka bergegas pergi dari sana guna menjemput Elona.


_Bersambung_