
Abian menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Ia berdiri menyandar di daun pintu dengan helaan napas lega serta kedua mata yang terpejam.
"Sayang .. Kau kenapa?"
Pertanyaan Aruna sontak mengejutkan bagi Abian. Pria itu tampak gelagapan mendapati istrinya terbangun dan memergoki dirinya bersikap demikian.
"Ak-aku ..." Abian berusaha mencari alasan.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu padamu?" tanya Aruna khawatir.
Abian menggeleng. Ia berjalan menghampiri istrinya.
"Ti-tidak, sayang. Aku baik-baik saja," jawab Abian bohong.
"Sungguh? Kau yakin?"
Abian mengangguk. "Iya, sayang."
"Lalu kenapa kau tampak ketakutan? Apa kau melihat hantu? Lalu kau dari mana? Kenapa berdiri di depan pintu?" Aruna mencecar suaminya dengan berbagai pertanyaan.
"Aku .. Aku dari dapur, sayang. Aku tadi habis ambil minum dan melihat tikus sangat besar. Tikus itu mengejarku, maka dari itu aku sedikit takut." Abian berusaha memberi alasan palsu.
"Tikus? Memangnya ada tikus di rumah ini? Dan sejak kapan kapan takut pada tikus?"
Abian diam, ia bingung harus mengatakan apa lagi. Pikiran nya benar-benar buntu dan tidak bisa memberi alasan logis.
"Jangan terlalu di pikirkan. Kita tidur lagi saja," ajak Abian berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Tapi-"
"Sudah, ayo tidur. Besok kau terlambat."
Sebenarnya masih ada beberapa pertanyaan yang ingin Aruna tanyakan. Tapi sayang suaminya sudah kembali membaringkan dan memejamkan mata.
"Aneh. Sejak kapan ada tikus di rumah ini?" gumam Aruna.
Ia akan memastikan besok jika rumahnya kotor atau tidak. Perasaan ia selalu rajin membersihkan setiap sudut ruangan.
***
Keesokan harinya.
"Ziva, aku bisa minta tolong padamu?"
"Minta tolong apa?"
"Aku harus berangkat pagi hari ini dan di sekolah Elona memiliki kegiatan yang harus di dampingi. Apa kau bisa menggantikan aku sebagai orang tuanya?" pinta Aruna penuh harap.
"Suamimu?"
"Suamiku ada meeting pagi ini dan tidak bisa mendampingi Elona di sekolah. Itupun jika kau tidak keberatan."
Aruna mengulas senyum senang. "Terima kasih, Ziva. Kalau begitu setelah sarapan kau harus bersiap-siap untuk pergi satu mobil bersama kami."
"Baiklah."
"Ya sudah, kita sarapan dulu. Aku sudah buat sandwich untuk menu sarapan nya."
"Ok."
Keduanya pergi menuju meja makan. Orang pertama yang Ziva adalah Abian. Pria itu langsung memalingkan wajah begitu ia memandang ke arah dirinya.
"Selamat pagi, Elona cantik," sapa Ziva.
"Selamat pagi, bibi Ziva."
"Bagaimana tidurnya semalam? Nyenyak?"
"Tentu, bibi."
"Good, sayang."
Mendengar pertanyaan Ziva untuk Elona membuat Abian merasa tersindir. Meski pertanyaan itu tidak Ziva tujukan padanya, tetap saja Abian merasa. Sebab semalam ia tidak bisa tidur. Dan lagi-lagi penyebab nya adalah Ziva, wanita yang saat ini duduk di sebelah kirinya.
"Elona, nanti ibu bawakan satu untuk bekal mu di sekolah, ya? Hari ini kan kau ada kegiatan. Pasti akan cepat lapar," tawar Aruna pada putrinya.
"Iya, ibu. Jangan lupa bawakan minum nya."
"Siap, sayang."
Elona tampak semangat sekali.
"Ah ya, ibumu bilang bibi yang akan mendampingi mu. Kau tidak keberatan kan, sayang?" tanya Ziva dan bocah itu menggeleng.
"Tidak apa-apa, bibi. Ibu pun sudah bicara padaku sebelumnya."
"Anak pintar," puji Ziva.
"Terima kasih, bibi."
"Sama-sama, sayang."
Mereka berempat pun memulai sarapan nya.
Usai sarapan, mereka masuk ke dalam mobil. Pertama Abian akan mengantar putrinya ke sekolah bersama Ziva, kemudian mengantar istrinya ke resto. Setelah itu barulah dirinya ke kantor.
Selama perjalanan, keheningan menyelinap di antara mereka. Hanya suara mesin mobil saja yang terdengar. Sesekali Abian melirik pada kaca spion yang menggantung di atasnya yang memantulkan wajah Ziva.
Wanita itu tersenyum saat Abian melirik kaca spion, namun Abian kembali fokus pada jalanan. Ia tidak ingin Aruna sampai memergoki dirinya.
_Bersambung_