GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Wanita-wanita Hebat


"Ah ya, Aruna. Akhir-akhir ini aku tidak pernah lagi melihat Elona di antar sekolah oleh ayahnya. Apa suamimu yang sibuk sehingga kau yang selalu mengantar putrimu?"


Wajah Aruna berubah menegang seketika. Ia tidak tahu harus menjawab pertanyaan Kanaya seperti apa, tapi ia rasa sepertinya perpisahan nya dengan Abian sudah bukan sesuatu yang harus di rahasiakan lagi. Tidak ada salahnya juga jika ia berkata jujur, asal tidak dengan menceritakan permasalahan yang terjadi saja.


"Aku sedang menggugat cerai suamiku."


"WHAT!?"


Kanaya sungguh terkejut dengan jawaban Aruna, ia nyaris tersedak ludahnya sendiri.


"Aku minta maaf, Aruna. Aku tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan mu," ucap Kanaya merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Kanaya. Aku mengerti."


Kanaya benar-benar masih tidak percaya, jika Aruna akan berpisah dengan Abian. Sebelumnya ia sering melihat mereka ber sama-sama mengantar Elona ke sekolah.


"Semoga kau selalu kuat dan semangat ya, Aruna. Meski aku tidak tahu apa permasalahan yang terjadi di antara kalian," ucap Kanaya merasa iba.


"Iya, Kanaya. Terima kasih. Dan kau tahu, ketika aku ingin menyerah, kau yang menjadi inspirasi ku agar tetap kuat menjalani semua kehidupan ini?"


Kanaya mengerutkan dahinya. "Inspirasi?"


"Iya. Sebab aku selalu merasa kagum dan takjub denganmu. Kau wanita hebat, wanita yang kuat, mampu berdiri di kaki sendiri untuk menjadi wanita yang mandiri."


"Ah benarkah?"


"Tentu, Kanaya. Selama ini aku melihat kau wanita yang sangat kuat dan tegar. Kau mampu membesarkan putrimu seorang diri," puji Aruna.


"Oh terima kasih, Aruna. Tapi di sisi lain aku tidak lebih dari seorang wanita seperti yang lain. Aku pun sering merasakan lelah, capek, bahkan ingin menyerah dan tak jarang pula menangis. Hanya saja untuk hal itu biar aku sendiri yang tahu bagaimana lemah nya aku. Semua orang hanya boleh melihat diri aku ini wanita yang kuat. Seperti yang baru saja kau katakan."


"Tapi tetap saja kau wanita yang hebat, Kanaya. Kau mampu menyembunyikan lukamu dengan tawa dan wajah ceria."


"Kau pun sama, Aruna. Jika kau tidak mengatakan bahwa kau sedang ada masalah dengan suamimu, maka akupun tidak akan mengetahuinya. Kau juga hebat, dan kita memang harus menjadi wanita sekaligus ibu yang hebat untuk anak-anak kita."


"Iya, Kanaya."


Tidak berapa lama, menu pesanan mereka pun datang. Aruna tidak lupa mengucapkan terima kasih pada pelayan yang merupakan teman kerjanya. Sementara Elona dan Cheryl sudah tidak sabar untuk segera menyantap makanan tersebut.


Dari kejauhan, Haikal tengah berdiri sambil menatap pada meja yang terdapat dua orang wanita dan dua anak kecil.


"Aruna sedang makan sama siapa ya? Apa mungkin itu saudaranya atau saudara dari suaminya?" pikir Haikal mencoba menerka-nerka.


"Apa mungkin Aruna mencabut gugatan cerai nya?"


Haikal merogoh ponsel di balik saku jasnya. Mengetikkan sesuatu di room chat layar ponselnya. Setelah pesan terkirim, ia bisa melihat jika Aruna membuka ponselnya.


"Sebentar ya, sayang. Ibu buka HP dulu," ucap Aruna pada putrinya.


"Iya, bu."


Aruna membuka pesan tersebut.


08xx:


Aruna, aku tunggu di parkiran. Nanti aku antar kau dan putrimu pulang, ya.


Aruna mengernyit usai membaca pesan tersebut.


"Apa ini pesan dari Haikal ya?" pikirnya.


Sebelumnya Haikal pernah meminta nomer telepon nya, tapi Haikal belum pernah menghubungi atau chat.


Aruna menengok ke kiri dan ke kanan, juga ke belakang. Mencari sosok yang ia maksud. Dan pandangan nya terhenti pada sosok pria yang berdiri seraya memberi senyum padanya.


"Haikal? Ternyata dia ada di sini juga. Pantas dia tahu kalau aku sama Elona," gumam nya.


Haikal memberi sebuah kode bahwa ia akan pergi untuk menunggu di mobil. Sebelum kemudian dia pergi dari sana.


Kanaya melihat ada yang aneh dari Aruna. Ia mengikuti arah pandang wanita itu.


"Kau lihat siapa, Aruna?"


Pertanyaan Kanaya mengalihkan perhatian Aruna. Ia tampak sedikit gugup.


"Ti-tidak, aku tidak melihat siapapun."


Kanaya menaikan sebelah alisnya. Perasaan ia lihat Aruna tampak senyum tadi.


"Ya sudah kalau begitu lanjut lagi makan nya. Nanti keburu dingin."


"Iya, Kanaya."


Aruna pun melanjutkan makan nya.


_Bersambung_