
Asisten rumah tangga Haikal meletakan dua gelas minuman dingin di atas meja hadapan Aruna dan Elona. Mereka tidak lupa mengucapkan terima kasih pada asisten rumah tangga tersebut.
Usai meletakan minuman pada tamu, wanita paruh baya itu kembali ke dapur.
"Jadi ini rumah paman Haikal?" tanya Elona setelah beberapa saat keheningan menyelinap di antara mereka.
"Iya, ini rumah paman, cantik. Kenapa?"
"Besar sekali, paman. Seperti rumah impian aku yang belum bisa ayah wujudkan."
Mendengar jawaban Elona membuat Aruna seketika menundukan wajahnya. Haikal mengusap puncak kepala Elona.
"Sebentar lagi impian Elona akan terwujud."
Kalimat Haikal tersebut membuat Aruna seketika mendongakan wajahnya, dan membuat kerutan dalam di kening Elona.
"Dari mana paman tahu?"
"Rumah ini yang akan mewujudkan impian Elona. Elona mau?"
Karena masih tidak paham, Elona menoleh ke arah ibunya untuk meminta penjelasan.
"Tolong jangan Elona kebingungan, Haikal. Dan tolong jangan membuat Elona berharap hal itu." pinta Aruna dengan tegas.
"Apa yang aku katakan itu sungguhan, Aruna. Sekeras apapun kau menepis perasaanmu, akan ada saatnya kau mengakui perasaanmu sendiri."
"Kau bicara apa, Haikal?"
"Bicara tentang perasaan kita."
Aruna bungkam seketika. Ia bingung harus bicara apalagi. Jujur ia memang sudah sulit menyangkal apa yang saat ini ia rasakan.
"Cukup, Haikal. Please, jangan bahas hal ini di depan Elona. Putriki masih kecil. Dia belum pantas mendengar kalimat yang belum sepantasnya dia dengar."
"Ok, kalau begitu kita nanti bisa bicarakan berdua. Bagaimana?"
Aruna berusaha mengontrol dirinya agar tidak terlihat gugup di depan pria itu.
"Aaawww ..." Haikal tiba-tiba menjerit kesakitan dan itu membuat Aruna seketika panik.
"Aaaa ..." Kedua mata pria itu terpejam menahan sakit yang luar biasa.
Aruna bangkit berdiri dan melangkah lebih dekat pada pria itu untuk memastikan keadaan pria itu.
"Kita ke rumah sakit sekarang, ya."
Haikal menggeleng. "Aku baik-baik saja, Aruna. Kau tidak perlu khawatir."
"Baik-baik saja bagaimana? Kau kesakitan, Haikal. Kita ke rumah sakit, ya." Perasaan Aruna sudah tidak karuan, ia betul-betul cemas dan juga panik.
"Ibu, paman Haikal kenapa?" Elona ikut khawatir sekaligus takut terjadi sesuatu buruk pada pria itu.
"Apa kau sudah minum obat?" tanya Aruna memastikan, takutnya dia telat minum obat sehingga membuat lukanya kembali sakit.
Haikal menggeleng.
"Ya sudah, kalau begitu aku ambilkan obatnya dulu ke kamar, ya. Tunggu sebentar."
Aruna bergegas pergi ke kamar Haikal untuk mengambil obat. Begitu ia mengambil obat tersebut yang tergeletak di atas nakas, sesuatu menarik perhatiannya.
Kedua mata Aruna tertuju pada sehelai kertas berupa foto berukuran kecil di sana. Terdapat sosok wanita di dalam foto tersebut. Tangannya perlahan mengambil sehelai kertas tersebut.
"Ini kan foto aku dulu? Kenapa Haikal bisa punya fotoku, ya?" pikirnya.
Aruna terdiam sejenak. Foto tersebut merupakan foto dirinya saat belum kenal dengan Abian. Itu saat ia masih dekat dengan Haikal.
Perhatiannya kembali teralih begitu ia mendengar Haikal kembali berteriak kesakitan. Ia taruh kembali fotonya di tempat semula dan segera pergi dari sana.
Aruna memberikan obat-obatan pria itu beserta segelas air putih yang tersedia di dekat obat di nakas tadi.
"Ini obatnya." Aruna memberikan obat-obatan tersebut beserta minum nya pada Haikal.
Sementara Haikal meminum obat tersebut, Aruna masih kepikiran soal foto.
Kenapa Haikal menyimpan fotoku?
_Bersambung_