
Bahagia rasanya bisa kembali berkumpul entah untuk waktu berapa lama yang diberikan takdir padanya.
Bagaimanapun juga dia harus mempergunakan semua kesempatan yang berpacu dengan waktu.
Usahanya untuk terlihat normal setelah kembali dari dimensi, siap untuk dia melanjutkan semua tugas terganti.
Esok hari setelah badan beradaptasi penuh dengan dunia peradaban manusia, dia ikut melaksanakan beberapa rutinitas kegiatan.
Beberapa tugas yang sebelumnya ditangani ratu bidadari, dia lanjutkan lagi.
Konsentrasi dalam menyelesaikan tugas itu juga tidak buat dia lupa pada orang tua yang harus dia jaga.
Usai kerjakan tugas, dia menjenguk ratu Semangi yang juga mulai aktif penuh dengan kegiatan sebagai ratu kerajaan.
"Xiao Feng Ni memberi hormat," sapanya membungkuk tanpa dampingan dayang.
"Feng Ni?" berbalik dengan wajah senang.
"Ibu jangan terlalu lelah. Tidak baik untuk kesehatan Ibu," memeluk ratu yang lama tidak dipeluk.
"Baik." ratu ngusap punggung Feng Ni yang peluk dirinya. "Kamu kenapa, hmm?" tanya Ratu pada putri Feng Ni, merasa beda ikatan batin dengan putrinya selama lebih kurang 51 hari.
"Tidak ada. Hanya ingin peluk saja," sahutnya manja, menuntun ratu untuk duduk istirahat.
"Tadi kenapa tidak sarapan bersama?" ratu bertanya, menepuk lembut tangan anak semata wayang.
"Feng Ni sedang latihan, Bu. Jadi tidak sarapan pagi hari," sahutnya, karena beberapa organ dalam belum beradaptasi.
"Begitu ya. Kamu juga jangan latihan terlalu berat," kembali kasih nasehat setelah percaya.
Feng Ni tersenyum memandang wajah ibunya yang sudah segar sediakala, berkat pengobatan ratu bidadari yang mengobati penyakit fisik ibu tersayang.
Puji syukur ia ucapkan dalam batin. Jika tidak ada keberuntungan sebegitu besar, mungkin saja penyakit ratu Semangi belum kunjung sembuh, atau mungkin saja akan merenggut nyawa.
Menyadari bukan ibu kandung saja yang dalam kondisi baik, Feng Ni juga masih harus mengurangi takaran dosis obat tabib buat 2 selir ayahnya yang tersisa.
"Maaf.Saya bukan hendak ingin jahat pada anda, tapi ini untuk memberi hukuman." Feng Ni takut berbuat dosa saat kurangi dosis ramuan.
Dayang yang ingin ambil obat bertemu dengan Feng Ni yang juga terbiasa mengolah obat, tapi jarang melakukan hal tersebut di balai pengobatan.
"Ada yang bisa hamba bantu, Tuan Putri?" tanyanya berdiri dipunggungi.
"Tidak ada. Saya hanya ambil beberapa bahan saja," coba tenang dan segera keluar dari balai pengobatan.
"Baik, Putri," minggir memberi jalan lewat.
Dayang itu pun mengambil bungkusan obat untuk dimasak,lalu memberinya pada 2 selir yang terkena stroke.
Feng Ni pun harus berkunjung menemui 2 adik tirinya yang ternyata selalu berusaha celakai dia dan tersingkir dari penerus tahta.
"Nasib dan jodoh karma buruk ini tetap harus dijalani," gumam Feng Ni ikhlas hadapi kenyataan.
Biar langkah kaki berat maju, tetap saja ia harus tampak baik-baik saja.
Sesampainya di ruang baca istana, Feng Ni disambut 2 adik tiri dengan jatuhan kumpulan bongkahan bola salju yang menggantung di atas pintu.
Kenakalan itu sudah di luar tata krama sebagai keluarga kerajaan terhadap orang yang patut mereka hormati.
Namun kembali pada karma yang harus dituai, Feng Ni menahan cepat amarah.
"Ternyata di dalam ruang baca juga bisa turun salju," sindirnya sedingin taburan bola salju, dan bersihkan butiran salju dari kepala, wajah pundak juga pakaian.
"Maaf. Kami pikir dayang yang masuk," dalih putri selir Xu berpura-pura baik.
"Benar, Kak," sambung putri selir Qi, berleak leok tubuh dan memelintir ujung rambut samping telinga.
"Oh begitu," tersenyum paksa.
"Ayo silahkan duduk, Kak." putri selir Qi ulurkan tangan nunjuk kursi khusus untuk tamu.
"Mmm.... Baik," berjalan di depan kedua adik tiri.
Rasanya enggan duduk setelah tau banyak jebakan tersedia untuk dia seorang. Tetapi balik lagi pada karma.
Jika bisa dia kurangi sedikit buah karma yang sedang dibayar tunai, maka dia bersedia lakukan hal tersebut.
Bokongnya sangat berat untuk nempel pada kursi, tetapi tiba-tiba ada bisikan salah seorang penjaga yang punya kemampuan untuk kurangi sedikit intensitas kesialan.
"Duduk saja,aku akan bantu Tuan," ucap nona tarantula sudah siapkan pelindung dari serat benang sutera tak kasat mata.
Bokong Feng Ni perlahan menempel, disusul 2 gadis kecil dengan senyum licik munafik.
"Kakak mau minum teh." putri selir Xu niat nuang teh untuk Feng Ni.
"Boleh," tetap tenang dalam kecemasan.
Putri selir Xu meraih teko tembikar berukir mewah, menuangkan teh melati pada cawan yang disiapkan juga untuk Feng Ni.
Cawan isi teh mereka bertiga angkat, lalu ditempel pada bibir.
Siluman ular yang mencium aroma racun pun berbisik pada Feng Ni untuk menunggu sejenak sebelum air teh menyentuh bibirnya.
"Kakak kenapa?" putri selir Qi lihat gerik Feng Ni yang menaruh curiga pada mereka.
"Tidak apa-apa. Cuma aroma teh ini begitu nyaman dihirup," sahutnya santai, tunggu penjaga menetralisir racun dalam cawan.
Sesungguhnya bukan teh itu yang beracun, akan tetapi pinggiran cawan yang telah diolesi racun sebelum dia datang.
Siluman ular segera bersihkan racun yang poles pinggiran cawan, dan sedikit menyentuh bibir Feng Ni.
"Sudah, Tuan," ucap nona ular dan kembali bersembunyi.
Feng Ni kembali menikmati suguhan teh melati yang mulai dingin. Beberapa rasa cemasnya sudah dibantu para penjaga tak kasat mata orang awam itu, dan buat para pelaku bergertak gigi jengkel.
"Ini orang kok terlihat biasa," umpat batin putri selir Qi, dengan tatapan sinis.
"Apa racun tadi lambat bereaksi," ujar batin putri selir Xu, mengetuk meja dengan jari telunjuk.
"Kalian kenapa?" Feng Ni meletakkan cawan yang kosong air.
"Begini, Kak. Kami ingin belajar ilmu silat,tapi takut tidak diizinkan Ayah," dalih putri selir Qi mengepal keras tangan di kolong meja.
"Iya Kak," tambah putri selir Xu pasang wajah memohon.
Feng Ni diam dengarkan apa inti sebenarnya yang hendak mereka katakan.
"Bagaimana jika Kakak yang ajarkan kami. Pasti Ayah tidak akan larang," lanjut putri selir Qi.
"Iya. Pasti Ayah bakal setuju. Selain itu, ikatan kakak beradik kita jadi lebih dekat," gaya sok akrab, dengan belatih siap menghunus dari balik punggung mereka.
"Baiklah. Tapi tetap harus persetujuan Ayah dan Ibu," terima keinginan 2 adik tiri dengan tulus.
Kedua gadis kecil ngangguk, dan lirikan mata terus menunggu waktu dimana Feng Ni tewas.
Sudah 2 jam berlalu mereka duduk bertiga ngobrol segala hal.
Namun sedikit perubahan wajah Feng Ni tidak terlihat, yang ada wajah kedua gadis kecil itu bermuka kecut kesal.
"Kakak harus kembali untuk lanjutkan kerja. Terima kasih atas jamuan kalian," pamitnya berdiri perlahan dari kursi yang menempel serat benang jaring sutera.
"Sama-sama," keduanya berdiri mengantar keluar tamu.
Langkah Feng Ni kembali cepat untuk hindari kejahatan yang belum tiba untuk dibersihkan.
"Ihhh......Sebel....Sebel...." rutuk marah putri selir Qi berhentak kaki.
"Semua racun,dan jebakan sudah kita kasih. Tapi tidak ada yang berhasil," ujar kesal putri selir Xu menumbuk telapak tangan dengan kepalan.
"Apa dia sudah punya ilmu anti racun!" celetuk putri selir Qi.
"Ahaa....!! Aku dapat ide!!" seru putri selir Xu nunjuk telunjuk ke atas kepala.
"Apa?" penasaran pingin tau berat.
"Sini!" lambaikan tangan untuk dekat.
Putri selir Xu punya ide untuk merumorkan bahwa Feng Ni sudah bersekutu dengan iblis dan berjalan tersesat kedalamnya.
"Wahh ....Ide bagus." putri selir Qi setuju, tersenyum licik.
Mereka berdua tertawa jahat berpikir merusak citra baik nama Feng Ni yang selalu dapat sanjungan rakyat jelata.
Esok hari.....
Rumor mulai beredar diantara kalangan dayang dan kasim yang dapat berita burung hanya karena sebuah surat kaleng yang dibaca putri selir Xu.
"Pantas saja Tuan Putri Feng Ni sekarang aktif dalam urusan negara," ucap dayang melipat selimut.
"Jangan asal bicara! Tidak mungkin Tuan Putri punya ilmu itu," seorang kasim rendahan tidak pernah rumor kacangan tak berkualitas.
Antara pro dan kontra, ada yang percaya dan juga tidak dengan sikap Feng Ni.
Harap-harap rumor ini tidak sampai ke telinga raja dan ratu.
Jika kabar burung itu sampai ke telinga mereka,entah apa yang akan terjadi pada keadaan dalam istana.
Berita rumor buruk itu sampai pada telinga kusir yang melintas untuk ambil jerami pangan kuda.
Tidak terima dengan kabar burung itu, kusir beradu mulut beri bukti bahwa putri kerajaan yang dirumorkan bukanlah orang jahat menyekutukan iblis.
"Helehhh.....!! Kau kan bela biar naik pangkat kan," cibir kasim tubuh kurus,dorong tubuh kusir hingga terjatuh.
"Kalian!!!. Sungguh tega kalian sebarkan fitnah tanpa bukti.Akan menyesal kalian semua, jika tudingan mulut kalian itu yang sudah bersekutu dengan iblis!" sahut ketus sinis kusir, melihat siapa saja orang yang berani melecehkan putri sebaik Feng Ni.