Dragon Warrior

Dragon Warrior
Ranjau


Sejenak Feng Ni berhenti hirup nafas setelah berlari dari atas atap gubuk dan juga kandang.


"Pulang nanti akan saya usulkan ke ayah, untuk mengatur tata letak kandang peternakan yang baik untuk peternaknya juga," ucap Feng Ni merasakan bagaimana harus bertetangga langsung dengan ternak mereka yang juga kurang terjaga kebersihannya.


Pasokan udara segar sudah mengisi paru-paru sampai darah. Ia bersiap kembali mencari tempat berteduh sesaat.


Tibalah dia di pemukiman gelandangan dan sejajarannya. Di sana ia melihat para gelandangan sedang berbaris rapi dikutipi upeti penghasilan mereka mengemis dan sejenisnya, hanya untuk mendapatkan sebuah mantao, oleh petugas keamanan wilayah masing-masing tempat.


"Pergi kau!" seorang petugas yang bagian mengutip uang upeti mengusir kasar wanita gelandangan yang hanya bisa menyetor sedikit pendapatannya untuk dapat mantao ukuran standar.


"Tolonglah Tuan. Kali ini saja. Hanya kali ini saja," wanita gelandangan bersujud menarik ujung pakaian dinas petugas. "Kasihan anak-anakku yang belum makan sejak pagi," keluhnya, menunjuk raut wajah anaknya yang di luar barisan untuk menyetor uang.


"Ciuhh!! Kau pikir aku bisa kau tipu, hengg! Lagian gak ada uang, nggak perlu juga makan," petugas memaki, dan menghempas tangan wanita gelandangan dari pakaian dinas.


"Beri kami kelonggaran kali ini saja," wanita gelandangan kembali memohon.


Bukan dijawab pakai mulut, wanita gelandangan itu ditendang terjungkir ke belakang.


Nggak ada seorang dari kelompok gelandangan itu yang menolong. Karena keberanian mereka telah lama menciut terampas oleh bangsawan yang bersekongkol dengan pejabat daerah.


Bukan mendapat belas kasihan, wajah wanita gelandangan itu jadi memar ,luka di sudut bibirnya yang pecah-pecah.


"Ibu!" kedua anaknya yang menunggu berjalan menghampiri, membantu ibunya untuk pulang ke tempat mereka berteduh.


Sangkin lapar, ibu dan anaknya berjalan meringkuk nahan lapar sedari kemarin malam terakhir makan sebuah mantao dibagi 3 bagian.


"Kalian sabar ya. Besok ibu pasti bisa hasilkan banyak uang untuk dapat mantao," ucap wanita gelandangan memeluk kedua buah hatinya yang jawab ngangguk.


Di tempat lain dalam satu daerah kepemimpinan yang sama, anak pejabat daerah sedang menghamburkan uang, memakan yang enak, berpakaian bagus elok dipandang.


Pengeluaran 1 hari anak pejabat yang berkuasa di daerah itu, bisa mencapai 50 keping sampai 100 keping koin emas .Yang jika diuangkan dengan zaman yang sudah berkembang seperti sekarang ini, yaitu sekitar 1 jutaan rupiah.


Begitu miris nasib rakyat jelata yang terperas hasil kerja keras keringat mereka oleh pejabat yang korup.


Dari kejauhan Feng Ni mengikuti ibu dan anak gelandangan sampai tempat bernaung mereka.


Tempat yang juga tidak bisa dibilang layak. Hanya beralas karung goni sisahan, dan beberapa daun kelapa dan pisang dijadikan penyangga dan juga penutup atap gubuk.


Kampung janda memang dipenuhi janda dan anak-anak mereka,tapi tempat tinggal mereka masih terkategori layak huni.


Kampung peternakan yang mengharuskan peternak dan hewan ternak untuk hidup bertetangga juga terkategori layak.


Lalu kemana kenyataan penglihatan Feng Ni untuk menilai kampung yang dihuni ratusan gelandangan dan seangkatan itu?


'Diam' ya 'Diam' itulah terukir jelas pada wajah Feng Ni.


Bukan hanya gubuk wanita janda saja yang terbuat dari bahan itu, tetapi beberapa gembel, gelandangan juga.


Jikapun ada yang lebih punya penghasilan cukup lumayan, gubuk mereka terbuat dari kayu yang berdinding dan alas tumpukan jerami.


Haruskah Feng Ni diam seolah tidak pernah melihat apa yang sudah ia lihat?


Feng Ni pun pergi dari gubuk-gubukan itu, mencari pejabat daerah yang berwenang dalam masa jabatan.


Dengan petunjuk beberapa gembel yang masih duduk sepanjang jalan sepi, Feng Ni bertanya dimana letak kediaman pejabat daerah.


"Lurus, pas belokan pertigaan belok ke kiri,lalu jalan lagi," jawab gembel menjelaskan jalur jalan.


"Baik. Terima kasih," Feng Ni pun berjalan sesuai petunjuk gembel yang nongkrong di pinggiran jalan sepi.


Langkahnya sudah lurus sampai di bundaran tidak ada pertigaan yang dimaksud penunjuk jalan. Jalan pun masih belum ada cabang belokan arah.


"Apa orang tadi kasih alamat," gerutu Feng Ni berdiri di bundaran berikon mangkuk pecah.


Saat gelandangan ada yang melintas jalan yang sama, Feng Ni kembali bertanya lagi pertanyaan sama.


Feng Ni kembali berterima kasih untuk jawaban yang sama.


"Ada apa ini ? Kenapa jawaban yang sama?" wajah Feng Ni menoleh ke kiri kanan depan belakang.


Sebersit peringatan timbul dalam batin Feng Ni. Wangsit apa yang yang mengharuskan dirinya harus berhati-hati jalan ke depannya, di daerah pemukiman gembel setaranya?


"Perasaan ini amat menganggu," ucap pelannya dengan langkah berat maju tapaki kaki.


Sekelibat sisik-sisik naga muncul di sekujur tubuh Feng Ni nutupi tubuh seolah jadi jubah jirah perang.


"Ehh..... Kenapa bersisik," gumam Feng Ni serasa udara dingin tidak menembus lapisan kulit.


Apa ia akan mengalami perubahan tingkat kultivasi jadi seekor hewan? Tapi tidak mungkin!. Karena naga emas saja sudah menyampaikan peringatan dini akan kekuatan yang akan hilang setelah tugas penting selesai.


"Jangan berpikir yang aneh. Sebaiknya secepatnya selesaikan tugas," Feng Ni mensugesti pikiran negatif thinking.


Langkah yang amat berat itu diseret paksa berjalan lurus yang belum menemukan belokan kiri atau pun kanan.


Intuisi kekuatan ternyata lebih peka terhadap segala sesuatu yang bersifat bahaya.


Feng Ni tidak menemukan arah petunjuk beberapa orang yang tadi. Namun dirinya sedang terjebak dalam perangkap ranjau yang terpasang sepanjang jalan yang masih panjang untuk dilalui.


"Bahaya!! Banyak ranjau granat," gumam Feng Ni tidak sengaja menginjak salah satu ranjau terpasang.


Jika tidak bergerak, tidak mungkin ia bertahan sampai ditangkap musuh. Jika bergerak, kemungkinan semua ranjau ikut meletus terpancing 1 ranjau yang meledak dengan dirinya.


Dicoba diraihnya sebatang patahan ranting untuk mengantikan kaki yang menginjak ranjau.


Ehhh....Uhhh.....


Sulit bagi Feng Ni untuk meraih patahan ranting yang tak bisa digapai oleh tangan.


Dia kembali ke posisi semula, untuk mencari benda pengganti lain yang lebih gampang digapai tangan.


"Batu," itulah ucapan yang keluar dari mulut Feng Ni menoleh ke belakang.


Memang jauh lebih dekat jarak perbedaan antara ranting dan batu. Akan tetapi tetap saja masih jauh digapai tangan tidak bisa melar panjang.


Coba saja tangan bisa lentur memanjang, pasti akan mudah digapai benda yang sedang ingin diraih.


Slurpp.....


Lidah Feng Ni menjulur panjang keluar, menangkap kunang-kunang yang menghampiri.


"Iuhhh...." jijik rasanya menelan seekor kunang-kunang.


Terpikir juga olehnya untuk mengambil benda dengan kemampuan lidah yang bisa memanjang.


Lidahnya di arahkan tempat batu terletak. Coba untuk ambil batu ternyata memberatkan beban lidah. Dia kembali coba saja untuk mengambil patahan ranting.


Lidahnya seakan dilukai benda kasar yang berhasil diraih dan sedang di dekatkan.


"Biarlah. Yang penting usaha," ucap batin Feng Ni coba berdiri tegak tanpa menyentuh ranjau tetangga.


Begitu sudah berdiri tegak, ranting dipegang. Namun sebelumnya lidah dibersihkan dulu dari kotoran.


Dengan sebatang ranting, dia gerakkan kaki dan ranting dalam satu ritme pergerakan cepat mengganti posisi keadaan.


"Huffff..... Siapa yang mencuri barang milik negara " gerutu Feng Ni masih harus menahan ranting pengganti kaki sampai mencapai bobot ranting seimbang berdiri tegak tanpa bantuan.


Beberapa menit kemudian setelah ranting berhasil berdiri tanpa bantuan, Feng Ni berjalan melayang seringan kapas melintasi tanaman ranjau pencabut nyawa.