
Feng Ni berusaha coba mengingat kembali semua kenangan terindah semasa kecil, penuh kasih sayang serta cinta yang hangat walau tak berwujud.
Sebagai seorang tuan putri, kehidupan Feng Ni bisa dikategorikan selalu hidup bahagia, tanpa kekurangan sepeser uang atau apapun yang dia butuhkan. Apa pun yang dia inginkan pasti segera terwujud tanpa penundaan lama. Karena semua orang yang begitu menyayanginya.
Untuk kasih sayang dan cinta, dia pun dapat lebih dari kedua orang tuanya yang memang memanjakan dirinya.
Teringat semua itu Feng Ni seolah baru melewati hari-hari bahagia itu kemarin pagi. Setetes air mata kebahagiaan yang tidak dapat diulang, hanya bisa terkenang dalam memori ingatan masa kecilnya perlahan melebur bola besi yang memborgol jiwanya.
Aura positif yang dimiliki Feng Ni menambah kekuatan Sen Long, yang berkultivasi membentuk naga emas yang memiliki sayap dan tanduk agung.
"Hmmm... Dia berhasil menyatu denganku," ucap batin Sen Long dalam perubahan performa wujud baru.
Gelar baru yang akan diterima juga akan meningkat, dari Sen Long menjadi Kim Long. Gelar emas yang didapat jika pemandunya berhasil membantu tingkatkan kekuatannya.
"Wow.....Keren," ujar Kim Long dengan wujud yang cepat meningkat dibanding naga penjaga lain.
Wujud baru Kim Long itu berputar dengan wibawa dingin, dingin yang membekukan manusia vampire ciptaan raja iblis.
Kim Long adalah naga emas yang naik tingkat kultivasi berkat bantuan aura positif Feng Ni. Layaknya jabatan, gelar maupun julukan, seekor naga ratusan tahun bahkan puluh ribuan tahun juga memiliki tahap peningkatan tersebut.
Tidak sia-sia dia ditakdirkan memiliki 'TUAN' yang bisa diajak berkolaborasi, yang dalam tanda kutip kurang sempurna dikarenakan TUAN-nya adalah seorang wanita. Andai saja pembimbingnya seorang pria, maka dia bisa unjuk pamer akan peningkatan pencapaian.
Sementara itu memori ingatan Feng Ni terus menggali ke dalam sanubari yang terdapat begitu banyak aura positif.
Ya, memorinya sewaktu balita yang begitu bahagia tanpa mencemaskan apapun itu. Hingga masa kecil sewaktu mulai pendidikan dengan prestasi yang selalu jadi kebanggaan kerajaan. Semasa kecilnya, dia memang adalah anak yang cerdas.
"Putri Xiao Feng Ni sangat pintar dalam menyerap pelajaran untuk anak seusianya. Dia begitu cerdas di bandingkan dengan teman-temannya yang lain." guru pengajar melaporkan apa yang ingin diketahui sang raja tentang Putri Feng Ni.
"Mmm... Begitu ya? Baguslah kalau Putri Feng Ni bisa menerima setiap materi pembelajaran anda. Harap juga jangan membedakan cara mengajar anda pada Putri dan Pangeran. Mereka semua harus mendapatkan status pembelajaran sejajar tidak pilih kasih!" ucap raja Xiao Se Mang. Beraut wajah yang selalu datar tenang.
"Hamba mengerti Yang Mulia," jawab guru pengajar sembari sedikit menganggukkan kepala hormat.
"Pergilah ambil upah dan bonus pada menteri keuangan!" titah raja Xiao Se Mang.
"Baik. Terima kasih Yang Mulia, hamba pamit undur diri," jawab guru pengajar yang sekarang dikenal sebagai guru privat.
Tidak sampai di situ kenangan indah Feng Ni sewaktu kecil. Pada usianya yang ke-10, dia bisa membantu mengurus pembukuan dalam istana yang jadi bagian tugas sang ratu.
Akan dedikasinya, dia selalu terima tuaian pujian seisi istana. Dia juga merangkul semua anak pelayan layaknya seorang teman, bukan bakal calon pembantu istana juga.
Karena banyaknya teman berasal dari anak-anak dayang atau prajurit, dia tidak kesulitan untuk cari teman bermain saat para abang maupun putra putri pejabat lebih memilih bercerita.
"Putri, Putri tidak ikut gabung dengan mereka?" tanya seorang bocah laki-laki, menunjuk sekelompok anak-anak bangsawan berkumpul di bawah paviliun pohon maple.
"Tidak. Selama ada kalian, saya sudah nyaman," jawab Feng Ni kecil menarik pergi gadis kecil lain untuk bermain petak umpat dengannya.
Istana tidaklah menjadi sebuah sangkar emas bagi Feng Ni. Biarpun tidak bisa terbang bebas di luar sangkar emasnya, tapi ia mendapat sangkar terbesar bisa bermain, bercanda dengan anak seumuran dirinya.
Feng Ni kecil dan anak-anak lainnya berlari mencari tempat persembunyian yang aman setiap kali melakukan permainan itu.
Ada yang manjat pohon, ada juga yang bersembunyi diantara tumpukan kayu bakar kering. Mereka tampak senang dengan permainan itu.
"Kamu main petak umpat lagi, hemm?" tanya raja melintas jalur ke istana barat.
"Ssstttt!!! Ayah jangan kuat-kuat, nanti ketahuan," sahut Feng Ni kecil yang sudah menemukan tempat persembunyian yang paling cocok, yaitu dibalik jubah sang ayah.
"Mmm... Kamu berani bersembunyi di sini?" sindir raja Xiao Se Mang, menarik keluar sang putri dari balik punggung.
"Kali ini saja, ayah." Feng Ni kecil memelas dengan wajah sedih tapi tetap terlihat cantik dan imut.
"Baik." raja Xiao bergeleng kepala dengan tingkah putrinya itu. Putri yang sangat menggemasakan bagi raja Xiao.
Demi keamanan pesembunyiannya, langkah raja harus pelan agar Feng Ni kecil tidak ketahuan sedang bersembunyi di balik punggung yang tertutup jubah.
"Tuan Putri.... Tuan Putri.... " bocah laki-laki meneriaki sebutan Feng Ni, sambil mencari keberadan teman lain yang juga bersembunyi disuatu tempat. Dia berlari ke sana ke mari untuk mencari keberadaan teman-temannya.
Lihat pos pohon tidak terjaga, beberapa anak lain keluar dari tempat persembunyian untuk menandakan mereka telah berhasil masuk pos tanpa ketahuan.
"Pasti sebentar lagi Tuan Putri akan datang," ucap bocah perempuan duduk menunggu orang ketangkap dan berhasil lolos.
"Iya," sahut bocah laki-laki berkepang panjang, duduk jongkok menunggu permainan berakhir.
Satu bocah lagi muncul dengan mulus tanpa ketahuan, dan ikut duduk nyantai menunggu pencari mereka datang.
Sambil menunggu mereka juga bermain kelereng, yang tentu kelereng terbuat dari bola kristal.
"Lihat! Ada yang berhasil ditemukan ketua," ucap bocah perempuan menunjuk pencari membawa seorang teman.
"Hahaha.... Dia setiap main petak umpat selalu kalah dan akan jadi pengganti baru selanjutnya," tawa bocah laki-laki sudah tau nasib temannya yang selalu bersembunyi di tempat yang sama setiap bermain.
"Hmmmpp... Kenapa kalian ngumpet tidak seperti dia?" keluh bocah pencari, baru menemukan 1 orang bodoh.
"Itu namanya bukan main petak umpat, tapi main rumah-rumahan. Hahaha...... " jawab bocah membidik kelereng tanpa menoleh.
"Ya sudah. Aku pergi cari Tuan Putri dulu," ujar kesal bocah pencari lalu mulai mencari tuan putri Feng Ni.
Setiap bermain petak umpat, Feng Ni kecil tidak pernah mendapat giliran berjaga. Dirinya selalu beruntung tidak ditemukan teman-teman sepermainan.
Memori kenangan itu semakin meningkatkan jumlah kekuatan naga emas yang telah naik level kultivasi.
Jurus baru pun tercipta berkat transferan energi positif memori sewaktu kecil.