
So Po Ta dan ratu bidadari beranjak pergi bukan ke kampung tetangga, melainkan disekitarnya yang belum terjamah tabib umum memeriksa orang-orang.
Sedikit kekuatan ratu bidadari yang magic membantu mereka cepat tangani beberapa orang yang terdesak butuh bantuan darurat.
Layaknya tim medis instan tanggap darurat, mereka terus mengobati pasien dari segala jenis penyakit.
Bayi-bayi juga tidak terdengar rewelan setelah banyak hari gelisah tidak hidup tenang.
Walaupun tidak mengerti apa yang orang tua maupun sekitarnya telah terjadi, tapi sifat bawaan sensitif tiap bayi bisa bekerja baik.
Sekarang bayi-bayi itu dapat ditenangkan dengan cepat, bahkan seolah terhipnotis untuk tidur serentak setelah diberi makanan.
Kim Long pun sudah tiba kembali ke alam manusia membawa Feng Ni yang masih tertidur memikirkan segala sesuatunya di alam bawah sadar.
Untuk mengurangi rasa shock, Kim Long membantu Feng Ni menyembunyikan sayap serta ekor yang belum diajarkan cara menyembunyikannya.
Di waktu yang sama murid-murid So Po Ta lainnya sudah tiba di pintu gerbang masuk ibukota kerajaan Semangi.
Wajah Bapao begitu bahagia, karena dari balik gerbang raksasa pembatas itu, dirinya seakan terhipnotis aroma aneka masakan lezat yang menggiurkan pikiran.
"Bang, ada bau orang masak daging kecap," ucap Bapao hidung mengendus aroma yang mencolek pangkal lubang hidung.
"Kamu ini," sahut Fun Cin bergeleng kepala.
Pintu gerbang raksasa terbuka untuk mereka, dan benar saja tidak jauh banget ada banyak kedai penjual makanan sepanjang jalan menuju gerbang istana yang tinggi menjulang tampak dari kejauhan.
Bapao berdiri menghirup dalam-dalam semua aroma makanan yang tidak mampu mereka beli dengan bekal uang yang pas-pasan bertahan hidup.
"Mau beli apa, Tuan?" tanya pria pemilik dagang mie pangsit kuah.
"Tidak,cuma cari...." dalih Bapao celingukan lihat kiri kanan kehilangan Abang.
Fun Cin menoleh melihat Bapao yang tidak mengikuti dirinya berjalan di tengah keramaian.
Ia pun kembali jalan yang sudah mereka lewati tadi bersama sebelum sadar terpisah.
Fun Cin memeriksa setiap pedagang kedai pinggir jalan itu, berharap Bapao ada disalah satu kedai tersebut.
Setiap kedai itu diperiksa,dan masih belum menemukan orang yang dicari.
Begitu juga dengan Bapao yang mencari keberadaan abang sepanjang jalan, tidak konsen dengan godaan aroma masakan. Dia pun berhenti pada sebuah kedai penjual banyak jajanan khas negeri Semangi yang menggiurkan pemandangan.
"Emmm... Sepertinya lezat," gumamnya sambil ngelus perut tidak terlalu buncit.
Godaan menghentikan Bapao kembali cari abangnya. Untung tidak lama saat ia berhenti melihat aneka jajanan, Fun cin pun berhasil menemukan orang yang terpisah darinya.
"Nanti setelah semua keadaan aman terkendali, kamu bisa minta Feng Ni mentraktir kita," ucap Fun Cin tidak tega lihat saudaranya itu ngiler sampai lupa ngikutin dia berjalan.
"Hehehehe....Iya, Bang," jawab Bapao cengengesan menoleh ke belakang.
"Sekarang kita harus cepat menemui Feng Ni," bisik saran Fun Cin, merangkul pundak Bapao pergi dari kedai penjual makanan.
"Iya," jawab Bapao, tapi lirikan ekor mata masih pada barisan penjual makanan.
Perjalanan mereka sudah dipastikan akan bertemu saudari mereka yang membutuhkan pertolongan.
Sementara di tempat lain, Da Min dan Ling Ni masih berjalan perlahan, karena luka pada kaki Da Min belum pulih sepenuhnya.
Akan tetapi mereka sudah turun kaki gunung dan lebih tepatnya sudah ada di pemukiman warga dekat gerbang raksasa ibukota.
"Hei...Ling!!" Da Min menyeru panggil Ling Ni yang tinggalkan dia begitu dapat kampung berpenghuni manusia.
"Apa!!" balik Ling Ni menyeru jawab dan menoleh ke belakang.
"Tunggu!!.Sini!!" tangan Da Min melambai manggil.
"Ihh.... Ngeselin banget," umpat keluh Ling Ni.
Ling Ni berjalan kesal dengan wajah berkerut sewot, menghampiri Da Min yang berjalan pincang menyeret kaki setiap melangkah.
"Jika begini kita bisa lama ketemu Feng Ni," rutuk keluh Ling Ni menyampaikan apa yang terpikir.
"Ini juga karena kamu," jawab keluh Da Min memicingkan mata menatap ketus Ling Ni.
"Kok aku?" menunjuk dirinya sendiri. "Itu salah kamu sendiri!" memeloti Da Min yang juga nyolot.
Da Min dan Ling Ni selalu berdebat bagai kucing dan anjing, susah akur terutama Ling Ni yang hanya akan nurut baik jika terjepit keadaan.
Mau tidak mau Ling Ni melangkah pelan,ya sesekali tetap akan meninggalkan.
Sampai juga mereka di depan gerbang raksasa ibukota esok siang harinya.
"Cepat masuk Da Min!!" seru lambai tangan Ling Ni memanggil.
"Dia nyindir atau lupa?" keluh Da Min masih berjalan nyeret.
Sambil nunggu Da Min nyeret kaki masuk gerbang ibukota, Ling Ni celingukan lihat bangunan istana menjulang tinggi dari kejauhan.
Istana yang tampak megah dan kokoh mengundang rasa penasaran Ling Ni untuk melihat isi dalam istana.
"Enggak mungkin Feng Ni bisa bosan tinggal di istana?" gumam Ling Ni berkacak pinggang satu tangan, dan satu tangannya lagi menghalau terik matahari menyilaukan matanya.
"Lihat apa?" tanya Da Min sampai di belakang Ling Ni.
"Lihat itu," menunjuk bangunan menjulang tinggi di depan mereka.
"Bakpao..... Bakpao....Kue merah..." seru pedagang kue memanggil pembeli berlalu lalang.
Dengar teriakan penjual, Ling Ni teringat saudaranya yang lain dalam keadaan seperti apa dan ada dimana.
"Da Min, kira-kira abang sama Bapao sudah sampai belum ya?" tanya Ling Ni berhela nafas dan kepala tertunduk rindu.
"Seharusnya sudah sih," jawab datar Da Min yang tidak punya kemampuan berteleport.
"Kalau gitu, kita harus cepat ke istana," usul Ling Ni menarik Da Min berjalan lagi.
"Iya,tapi jangan cepat. Atau kamu sengaja mau aku jadi orang cacat," Da Min mengomel walau juga rindu saudara lainnya.
Kaki Da Min menyeret tertatih-tatih diseret jalan oleh Ling Ni yang tampak bersemangat.
Hari mulai gelap, Da Min dan Ling Ni berencana nginap bukan dipenginapan, tetapi numpang tidur di rumah warga setempat secara gratis.
Untung nasib mereka baik, mereka dapat tumpangan menginap disalah satu rumah warga.
"Cuma ada gudang ini," ucap wanita pemilik rumah kecil, memberikan gudang tempat penyimpanan padi dan bahan makanan keluarga itu.
"Tidak apa. Terima kasih, Nyonya," jawab Da Min merasa malu numpang gratis.
"Ini lebih baik," tambah Ling Ni usai periksa gudang tidak seseram lereng gunung yang banyak suara horor.
"Ya sudah. Aku akan pergi ambil selimut dulu," ucap wanita pemilik rumah.
"Tidak usah repot-repot. Pengembara seperti kami tidak terbiasa pakai selimut," dalih Da Min enggan menambah beban pemilik rumah.
"Oh, seperti itu ya? Baiklah, jika begitu silahkan beristirahat," ucap wanita pemilik rumah.
"Ya, sama-sama," jawab Ling Ni mengantar wanita pemilik rumah keluar.
Ling Ni menutup pintu terbuat dari susunan bilah bambu, lalu berbalik dan menyiapkan tempat tidur sendiri.
Beberapa karung jagung ia turunkan dari tumpukan tinggi, lalu disusun rata dijadikan alas tidur malamnya.
"Waktunya tidur," ujar Ling Ni dengan tangan merentang lebar tidak peduli kondisi Da Min.
"Ya tidurlah," sahut Da Min memilih beristirahat dalam posisi duduk berselonjor dekat pintu gudang mereka tempati.
Sekejap Ling Ni sudah tidur nyenyak setelah berhari-hari tidak tidur nyenyak di tengah hutan.
Suara serangga malam juga bukan halangan Ling Ni tidur pulas sampai pagi menjelang terang.
.
Esok paginya....
Matahari berterbit terang menderang masuk melalui celah jeruji jendela tempat penyimpanan makanan keluarga itu.
Oammmm......
Ling Ni merentangkan lebar tangannya setelah tidur nyenyak sepanjang malam.
Lihat Da Min ketika dia bangun tidak ada di tempat, Ling Ni sedikit kebakaran jenggot.
Ia pun berjalan cepat keluar mencari keberadaan Da Min.
Walaupun mereka memiliki ilmu kungfu lumayan cukup melawan musuh banyak, bukan berarti Da Min tidak bisa kalah apalagi dalam keadaan kurang normal.
"Selamat pagi, Nyonya," sapa Ling Ni menjumpai wanita pemilik rumah, setelah ngos-ngosan berkeliling rumah.
"Pagi Nona," balik sapa pemilik yang sedang menyuapi bayi sekitar 2 tahun.
"Apa Nyonya tau kemana pria yang bersamaku kemarin malam datang,kemana?" tanya Ling Ni gelagapan harus bagaimana bertanya sopan.