Dragon Warrior

Dragon Warrior
Do Mo Cien


Ditengah pekatnya malam, ada suara beberapa orang melintas area persawahan dimana Feng Ni berbaring menutup rapat matanya.


Srekkk.... Srekkk...


Seakan ada juga gerakan perlawanan mengibas dedaunan tanaman sawah itu.


Feng Ni masih tetap tenang rebahan untuk tidak ikut campur urusan yang bukan kepentingannya.


Meski mulut mata serta telinga tidak merespon, bukan berarti tidak tau pergerakan orang-orang bergerak dalam radius 50 meter darinya.


"Tolong...!" jerit suara wanita ditengah keheningan malam di sawah.


Hahaha......


Terdengar juga gelak tawa nyaring beberapa pria mengelilingi jeritan wanita yang ketakutan.


Seorang pria berperawakan menawan dan berpakaian mahal muncul dari belakang para kepungan pria bertopeng.


"Silahkan Tuan," ucap seorang pria bertopeng setan.


"Jaga! jangan sampai ada yang mengganggu!" titah pria menawan sambil memberi kantong isi uang perak.


"Siap," jawab pria bertopeng melempar-lempar kantong dengan jumlah uang perak sebagai imbalan.


Beberapa pria bertopeng berpencar menjaga area tuan mereka berada.


Pria menawan itu mendekati wanita muda dari kalangan rakyat jelata.


Wanita yang menjadi kembang desa di usianya yang masih 14 tahun telah mengundang kumbang setaman untuk icip madu yang masih segar.


"Jangan, Tuan," ucap gelagap wanita yang ngesot mundur di tanah sawah mengering.


"Jangan takut. Kita akan menikmati malam indah ini," sahut pria menawan ngikut gerakan wanita ngesot mundur ketakutan.


Apa pun yang diucapkan tidak mungkin mampu untuk menghilangkan niat si pria.


Tubuh wanita yang ngesot mundur sudah tidak bisa mundur, karena terdapat kubangan air yang cukup dalam saat mengering.


Seringai penuh hasrat pria itu hanya menambah ketakutan dalam tangis tak bersuara.


"Tolong..." teriak wanita berharap ada keajaiban sebelum terlambat semuanya.


Pria menawan melepaskan kain ikat pinggang mewahnya untuk ngikat tangan wanita itu.


Lalu melepaskan ikat pinggang wanita untuk ikat kaki wanita itu sendiri.


"Jangan..." ucap wanita dengan derai air mata.


Pria menawan mulai lucuti pakaian luar hanfu mereka dan menyisakan hanfu dalamnya.


"Tolong....." teriaknya semakin kencang.


Feng Ni yang rebahan rada jauh pun terusik ketenangannya.


"Hmmm..." gusar Feng Ni beranjak duduk dan lepaskan ikat pinggang dari mulut.


"Tolong..."


Semakin kencang teriak penuh ketakutan yang beda saat bertemu hantu atau dalam perangkap jebakan.


Feng Ni berlari di atas tanaman padi menguning dengan berat seringan tanaman kapas tertiup angin.


Sebelum menampakkan wujudnya, terlebih dahulu dia juga harus memastikan keamanan rahasia identitas diri.


Feng Ni mengambil lumpur mulai kering, memoles wajah cantik menutupi identitasnya.


"Sudah siap," ucap Feng Ni tidak membersihkan lumpur tersisa di tangan.


"Siapa kau!" bentak pria bertopeng yang jaga dibagian timur tenggara area majikan sedang beraksi.


"Teman, aku dapat tugas untuk menemui seseorang. Jadi izinkan aku lintas dari jalan alternatif ini," jawab Feng Ni yang tenang.


"Pergi kau! Lewat saja di sana!" pria bertopeng nyuruh Feng Ni berbelok arah.


"Tapi ini darurat," Feng Ni dengar teriakan kecil.


"Sana pergi!!" pria bertopeng ngusir paksa.


Tetap tidak ingin pergi, pria bertopeng pun bertarung dengan Feng Ni yang lebih mirip strata gembel jalanan.


Tanpa pedang dan senjata lain, Feng Ni juga mampu melawan seorang pria.


Yang terpenting saat menyerang lawan, harus menemukan titik kelemahan orang yang dilawan.


Syutt....


Krakkk....


Terdengar remukan tulang pria bertopeng itu. Sudah pasti pria itu kesakitan teramat bagian tulang tengah penyangga tubuh setiap manusia.


"Ini cukup buat kamu berpikir lain," ucap Feng Ni memukul beberapa kali pukulan yang kuat pada retakan tulang tengah.


"Kau!!" marah kesakitan pria bertopeng tidak bisa bergerak.


"Sabar. Besok pagi, kamu juga akan dibawa warga." Feng Ni sengaja menengkurapkan tubuh pria bertopeng agar tidak mati cepat.


Ia pun kembali berjalan menuju arah suara minta tolong itu berasal.


"Hentikan !!" ucap Feng Ni dengan suara tinggi dari kejauhan 5 meter tempat kejadian.


"Siapa kau!!" bentak pria menawan dengan pakaian hanfu dalamnya sudah terlempar entah kemana.


"Tidak penting siapa aku. Yang aku tahu, cepat lepaskan gadis itu!" jawabnya dengan lugas memetik batang padi kering.


"Hahaha.... Dasar gembel pengacau! Jika berani mengganggu, maka kau akan mati!" ujar pria menawan menantang wajah gembel Feng Ni yang makin dekat di bawah sinar rembulan sabit.


"Oh, ya? Mari kita buktikan." Feng Ni menjawab tantangan.


Keduanya mulai bertarung sengit. Beda lawan,maka beda pula kekuatan yang harus dihadapi.


Agar keadaan gadis tidak terimbas gulat perkelahian mereka, maka Feng Ni memancing pria menawan sejauh mungkin.


Sampai di dekat penjaga bertopeng lain di sisi barat laut area itu, pria menawan bersiul memanggil bala bantuan yang berjaga.


Piitttt........


Suara siulan yang nyaring di tengah malam itu tidak hanya bisa memanggil penjaga di sisi barat laut, tapi juga beberapa penjaga yang berpencar di sekitar itu.


Hiatttt.....Ciattt.....


Pria menawan terlebih dahulu melakukan penyerangan sebelum bala bantuan datang dari beberapa arah beda.


"Dasar gembel!! Terus saja kau mengelak," makinya seakan dipermainkan tanpa henti menyerang yang tak digapai.


"Bukan niatku sengaja mengelak. Tapi tidak baik pria setampan anda melukai diriku yang begini. Bisa jadi anda akan diremehkan banyak orang," ucap Feng Ni biarkan pria menawan melampiaskan kemarahan sebelum dia balik balas.


"Diam kau!!" bentak pria menawan, mengeluarkan ilmu tenaga dalam.


Tidak disangka lawannya ini memiliki ilmu tenaga dalam juga.


Setau dan seingat Feng Ni, tidak seorang pun warga dari strata bangsawan ke bawah ada yang belajar ilmu tenaga dalam.


Karena pengajar ilmu tenaga dalam hanya seorang So Po Ta saja. Ya, hanya gurunya saja yang bisa mengajarkan ilmu tersebut.


Tetapi Feng Ni tidak pernah mendengar atau melihat gurunya menerima murid lain selain mereka berlima dan 2 mantan murid yang sudah tewas.


"Dia punya ilmu tenaga dalam? Belajar darimana dia?" tanya batin Feng Ni, melihat cara pria menawan mengeluarkan tenaga dalam.


Jika pria yang ada di depannya benar-benar memiliki ilmu tenaga dalam, maka kemungkinan ada tetua dari kerajaan lain menerima murid dari beda negara seperti gurunya.


Atau mungkin juga ia melakukan pencurian belajar ilmu tanpa bimbingan.


Lihat gelombang magnetik yang keluar, juga tampak beda dengan ilmu yang dia pelajari.


"Ilmu sesat!" pikiran Feng Ni tersentak untuk segera menghentikan.


Feng Ni pun mengeluarkan gelombang magnetik tenaga dalamnya untuk melawan pria itu.


Gelombang magnetik yang tercipta milik Feng Ni berwarna biru transparan, serta ada guratan listrik di dalam bola bulat gelombangnya.


Beda dengan milik pria menawan yang berwarna hitam disertai bentuk yang tidak bulat utuh.


Pria menawan menyerang dengan tenaga dalam dalam bentuk kecil. Begitu juga Feng Ni yang menangkis serangan dengan bola gelombang.


Duarr....


Pecahan suara kedua ilmu tenaga dalam seperti kembang api malam tahun baru yang menyala disertai warna warni cahaya.


Ingin balik menyerang lagi dengan tenaga dalam, pria menawan tidak mampu melakukannya. Dikarenakan kemampuannya masih tahap awal.


"Siapa kau?" tanya Feng Ni ingin mengetahui status lawan.


"Ohh.... Ternyata seorang gembel juga mau tau. Baiklah. Agar kau mati tidak penasaran, maka akan ku katakan," ujarnya dengan tatapan licik. "Aku putra dari Kasim Do. Namaku Do Mo Cien," mengeluarkan jarum racun rahasia. (Mo Cien yang berarti iblis uang)


Pufff.....


Jarum yang keluar dari bawah lidah dilempar keluar membidik target sasaran.