DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
79. Membingungkan


"Hihihihi," terdengar tawa mak lampir dengan surai wajah yang mengerikan.


Mendengar hal demikian membuat bulu roma dan tengkuknya berdiri. Suasana di sana benar-benar terasa sangat mencekam.


"Apa lagi yang kau inginkan anak tengik?"


Seakan tahu siapa yang mencoba mencoba mengusiknya, dia sibuk membuat sesuatu yang dicampurkan dengan air. Dimasukkan ke dalam mulutnya, dan lalu disemburkan ke arah Via.


Via yang memiliki kesiagaan seribu persen mencoba melompat ala-ala antraksi BMX yang ternyata bisa dia atur dengan menekan tombol yang disediakan.


"Hmmm… Kamu bisa menghindar…" 


Via sadar, Mak Iroh menyadari kehadiran diam-diamnya di dalam rumah itu. Untuk sementara memilih untuk mundur, menunggu kala waktu yang tepat untuk benar-benar siap untuk menyerang Mak Iroh dengan bukti autentik yang akan dia temukan. Via pergi dengan diam-diam, disambut dengan senyuman licik dari Mak Iroh.


Via sudah tepat berada di hadapan Deval, namun cowok itu tidak menyadari kehadirannya. Terniat ingin mengusili Deval, dengan menabrakkan sepeda itu pada motor yang katanya disewa pada tukang ojek.


Deval terkejut, tiba-tiba motor tersebut seolah terdorong oleh sesuatu tapi dia tidak bisa melihatnya. Via masih ingin menjahili Deval, karena merasa lucu melihat reaksi Deval saat kaget. Kali ini dia mencoba menarik hidung Deval yang tampak lucu oleh matanya. Namun saat itu juga Deval menangkap tangan itu.


"Vi, Ini Lo ya?" celetuknya kalem, lalu melepaskan tangan Via yang tak kasat mata.


Tak lama Via muncul di alam nyata dengan senyuman jahilnya. Deval hanya melengus, dan menghela nafasnya dengan kasar. Lalu terfokus pada sepeda yang tengah ditunggangi oleh gadis nakal itu.


"Gimana? Keren nggak?" Sambil menggerakkan kedua alisnya. Namun, Deval hanya memasang wajah datar, tidak tahu apa yang sebenarnya dia pikirkan. Padahal seingatnya dulu, Stevan dan Irin sangat menyukai fitur-fitur keanehan pada kendaraan roda dua hadiah dari Big Boss ini.


"Lo nggak penasaran? Apa tidak tertarik untuk mencobanya?"


Deval hanya menyalakan motor, "Mari kita cabut dulu. Gue mau mengembalikan motor ini pada pemilik nya."


Deval yang melihat satu lagi keanehan sepeda milik Via, masih belum tampak ekspresi dari wajahnya, entah apa yang tengah dia pikirkan tentang sepeda itu.


Via mengikuti hingga melihat orang yang duduk di pos yang mungkin khusus bagi para kang ojek. Setelah mengembalikan motor tersebut, kang ojek menengok ke arah Via, lalu mengangguk dan tersenyum.


Via hanya melengos lalu membuang muka pura-pura tidak lihat. Dia merasa tidak tertarik dengan berbagai macam bentuk perkenalan. Tampak si kang ojek berbisik di telinga Deval, dan cowo manis itu melirik Via dengan senyum smirk-nya.


Lalu Deval berjalan mendekati Via. Via turun dari sepeda, menyilakan Deval yang mengayuh sepeda itu kembali. Tetapi Deval malah menggelengkan kepalanya. 


"Gue gak mau naik benda itu, itu pasti benda kesayangan Lo. Gue takut malah membuatnya menjadi rusak."


Lalu dia memilih berjalan kaki. Lagi satu hal aneh yang baru diketahuinya tentang Deval. Padahal dia ingin mengajak Deval ke suatu tempat untuk mengecek dan mengetahui sampel yang dia ambil itu untuk apa. Tapi Deval malah membuat dia semakin bingung.


"Ya udah lah Val, gue cabut aja!" Lalu dia pasang mode otomatis dan melesat meninggalkan Deval. Deval terhenti terus memperhatikan Via hingga tak tampak di depan mata. Lalu Deval menghubungi seseorang yang tidak tahu itu siapa dan pergi.


Via merasa kesal luar biasa, benar-benar tidak memahami pola pikir Deval itu. Apa gue lakulan kesalahan ya? Kenapa dia begitu? Lalu Via menuju laboratorium tempat biasa dia mengecek sampel sejenis bahan-bahan yang tidak dia pahami.


Menunggu beberapa saat, dan hasil nya keluar.


...*bersambung*...


...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...


...terima kasih...