
Tidak sengaja dari arah luar matanya menangkap tiga orang yang terlihat cukup penting, terlihat dari cara berpakaian mereka.
Salah satunya merupakan Seorang wanita yang mungkin seusia dengan ibunya, tampak sangat cantik dan anggun hingga sangat enak dipandang oleh mata. Wanita itu pun mendekat ke arah Jimmy dan kawan-kawannya.
"Dek, apa kamu tahu ruang pasien bernama Via dimana?" tanya wanita cantik itu dengan ramah.
Gilang dan Kevin kebingungan. Mereka merasa tidak mengenal seorang yang bernama Via. Gilang pun menjawab, "Kami kurang tahu Tante, coba Tante tanya ke bagian nurse centre di sana," menunjuk satu kotak bagian pusat di bagian IDG tersebut.
Jimmy yang tadi hanya memperhatikan, menebak bahwa mereka adalah keluarga Via, lalu dia bangkit dan mengantar wanita cantik itu menuju tempat dimana Deval sedang berdiri.
"Dia ada di bagian ini Tante."
"Ooohh.. Makasi ya Dek.. Kami ini keluarga Via baru saja berangkat dari Singapura."
"Waahh, cepat juga sampainya ya Tante? Padahal satu jam yang lalu masih di Singapura bukannya? sekarang udah sampai saja??" tanya Jimmy cukup heran.
"Oooh, Jadi kamu yang tadi di telepon?" tanya seorang pria dewasa, dengan suara berat seperti orang yang sedang berkumur-kumur. Wajahnya masih terlihat gagah meski usia sudah kepala lima.
"Jadi Om yang tadi menelepon? Iya, saya yang bernama Jimmy tadi," jelasnya.
Deval yang belum paham situasi mendekati mereka yang tengah mengobrol. Lalu Jimmy menjelaskan pada Deval bahwa mereka ini adalah orang tua Marni. Seketika Deval merasa nervous, dan menyalami mereka dengan perasaan tegang.
Usai menyerahkan keluarga Marni ke Deval, Jimmy pamit untuk kembali. Meski sebenarnya dia juga ingin memastikan kondisi gadis itu. Namun keluarga nya sudah di sisinya, mungkin ini yang terbaik untuknya.
"Hey, Bro.. Mereka kan mencari seseorang yang bernama Via? Kenapa diantar ke sana?" celetuk Kevin yang hanya memperhatikan dari jauh dengan Gilang. Lalu mereka berdua ditarik oleh Jimmy, biarkan lah rahasia tetap menjadi rahasia.
"Bagaimana kejadian nya Nak Deval? Kenapa Via bisa sampai ikut balap liar seperti itu?" tanya sang Ibu.
"Waah, saya kurang paham juga Tante. Udah mau balapan saja saya baru tahunya."
"Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Sekarang Sabrina menemaninya di dalam Tante. Saya belum lihat secara langsung kondisinya. Lebih baik Tante masuk saja, untuk memastikan kondisinya secara langsung."
"Terima kasih ya?" lalu ibu cantik itu menyibak kain pembatas dan Deval bisa melihat Via tengah mengobrol dengan Irin. Lalu mengembangkan senyuman pada Deval, Deval membalas dengan tersenyum dengan grogi.
Setelah itu si ibu masuk ke dalam ruang pemeriksaan yang sempit itu.
Sementara itu, pria paruh baya yang dalam diamnya terus melirik dan memperhatikan gelagat Deval dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan mata elangnya.
Sedangkan, seorang lelaki muda bersikap seolah tak acuh pada Deval mengintip adiknya dari luar. Memikirkan apakah ruang sempit itu bisa menampung mereka semuanya di sana.
Jantung Deval seketika berubah tak karuan karena terus ditatap seperti itu oleh bapaknya Via, tekanan batin terasa begitu tinggi karena aura intimidasi dari mata sang ayah. Membuat Deval terduduk lemas, merasa lelah sendiri karena aura itu.
Di dalam ruangan sang Ibu langsung memeluk Via dan menghujani anak gadisnya itu dengan ciuman. Via memeluk ibunya itu, betapa rindu hatinya pada orang yang telah melahirkannya ini.
Lalu ayahnya masuk, pelukan beralih pada sang ayah dan kakak laki-laki nya. Irin juga memberikan salam dan pelukan kepada keluarga Via. Lalu pamit keluar memberikan mereka tempat di ruang sempit itu untuk melepaskan rindu sesaat setelah sekian lama tidak berjumpa.
Yudhit melirik, di tangan adiknya tampak beberapa bagian membiru akibat lebam dari kecelakaan yang baru saja dialami adik manisnya.
"Sakit Dek?"
Via hanya menggeleng, lalu memamerkan otot tangannya yang kecil namun kencang itu. Yudhit merasa gemas pada adiknya yang sok kuat langsung memeluk dan mengacak rambutnya.
Ini akibat didikan Tosan pastinya, membuat dia selalu mengabaikan luka-luka yang dia dapatkan akibat segala hal yang dia alami dalam menjalani kehidupannya.
"Ehemm," sang ayah berdehem. Memperhatikan anak gadisnya yang mulai beranjak dewasa.
Alis Via naik sebelah, tiga laki-laki? Siapa? Dia juga kurang paham apa yang dimaksudkan oleh ayahnya itu.
"Kamu sudah punya pacar?" kembali pertanyaan Tosan bertambah.
"Tidak, Via tidak punya pacar," elaknya.
"Tadi itu ada anak laki-laki yang nunggu kamu diluar. Satu namanya Jimmy kalau nggak salah, yang dua lagi mereka mirip, berarti kembar kan?"
Via sendiri merasa terkejut, kenapa bisa ada Jimmy di luar sana. Padahal sejak pagi dia tak melihat Jimmy.
"Tadi tuh, Tosan kamu menelepon, ternyata ponsel kamu dipegang oleh anak yang bernama Jimmy. Dia lah yang memberi tahu pada kami kalau kamu kecelakaan."
Dia baru sadar ponsel nya tidak berada di tangannya. Karena tadi diselipkan pada jaket yang diberikan Deval. Jaket itu pun sudah tidak terpakai. Mungkin Irin yang menyimpan, pikirnya.
"Sebenarnya aku bersyukur kecelakaan ini terjadi," ucapnya dengan senyuman ceria.
"Kenapa?" Mami, Tosan, dan Yudhit mengernyitkan keningnya merasa curiga akan sesuatu.
"Karena kecelakaan ini, aku bisa bertemu kalian kan. Jika tidak ada kejadian ini, mana mungkin keluarga ku datang menghampiri ku barang sekali pun."
"Makanya aku malah bersyukur karena semua ini terjadi. Biar lah aku kalah dalam pertandingan, asal bisa bertemu kalian," memeluk dada bidang milik sang kakak yang sangat disayanginya itu.
"Aku ingin mengenalkan Mami dan Tosan pada teman-teman baikku yang lain." Lalu dia turun dari brangkar, dan orang tuanya mencoba menahan. "Aku baik-baik saja kok…" Mencoba menyibak kain yang tak obah sebagai pintu dan pembatas ruang sempit itu, dan melihat bangku-bangku ruang tunggu. Tampak Deval duduk merenung memeluk jaket yang dipakainya tadi, dan Irin tengah mengobrol bersama Devan.
Deval, Irin dan Devan langsung mendekat ke Via yang dengan ajaib telah berjalan dan berdiri seperti biasa. Tidak tampak seperti korban kecelakaan sama sekali.
"Lhoh kok udah bangun aja?" tanya Deval khawatir.
"Gue baik-baik saja kok, nih lihat?!" dia berputar-putar memastikan bahwa dirinya memang baik-baik saja.
"Ayo semuanya ke sini. Anak terlantar ini akan mengenalkan kalian semua pada keluarga nya." ucapnya ringan tanpa beban.
Seketika Deval kembali gugup, kembali menghadapi keluarga Via. Namun dia berusaha untuk setenang mungkin, menguatkan hati, menengkan jiwa, demi bertemu calon mertua.
Di sebuah tempat, ada seorang yang berkutat dengan tugas akhir. Usai kejadian tersiram air panas, Via memberikannya waktu untuk menyelesaikan puncak tugasnya sebagai mahasiswa.
"Kok kepikiran Via terus ya?"
...\*bersambung\*...
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...