
Matahari telah duduk di singgasananya. Via masih terlelap di bawah selimutnya. Irin sudah berangkat sejak tadi. Samar-samar terdengar suara berisik dari arah dapur, tapi tidak dihiraukan dan kembali tertidur.
Akhirnya suara ponsel berhasil membangunkannya. Dilihatnya bukan kontak yang terdaftar dalam ponselnya. Seperti biasa kalau kontak yang tidak terdaftar, dia memilih mengabaikan panggilan tersebut. Lalu panggilan terulang hingga empat kali. Via pun memutuskan menjawab panggilan yang kelima.
"Halooooo," sungutnya membenamkan wajah ke bantal.
"Akhirnya kamu bangun juga," ucap yang di seberang panggilan.
"Ini siapa?" masih malas mengangkat wajahnya.
"Ayoo bangun, mandi, sarapan! Ini udah hampir siang. Jangan lewatkan sarapan pagi. Daah!" panggilan ditutup, Via mengangkat wajahnya dan mengerjapkan matanya tiga kali mengumpulkan nyawa.
Kembali dilihatnya kontak yang baru saja meneleponnya. Dilakukan panggilan ulang, namun tidak ada jawaban.
"Huh, orang iseng!" mencabikkan bibirnya ke arah ponsel. Dia bangkit dan duduk. Dicoba memutar-mutar pergelangan kakinya. Terasa agak mendingan.
Dia mulai menurunkan kakinya pelan-pelan, dan menuju kamar mandi. Udah lebih dua puluh empat jam tidak mandi, rasanya sesuatu ya?' batinnya.
Melangkahkan kakinya satu per satu, menuju kamar mandi. Lalu membersihkan diri ala kadarnya. Dia tak ingin berlama-lama di dalam kamar mandi dan menyelesaikan. Memilih pakaian santai dan menuju dapur. Rencananya mau mencari yang dibelikan Jimmy tadi malam di dalam kulkas. Tetapi dia sudah menemukan sesuatu yang tertutup di bawah tudung saji.
Ini siapa yang menyiapkan ya?
Terdapat beberap roti yang telah dibakar, beberapa jenis pilihan selai, dua telur yang sudah diceplok.
Irin yang nyiapin? Tumben?
Tanpa pikir panjang dioleskan selai coklat ke atas roti, lalu dinikmatinya. Dari dalam kamar, kembali terdengar suara ponselnya berdering.
Aaaahh... kaki..., lekas lah sembuh heeey! Repot tau nggak?
Lalu dia kembali melangkah dengan pelan, mengambil ponselnya, masih dari kontak yang tidak terdaftar salam ponselnya. Panggilan itu akhirnya berhenti sebelum Via sempat menjawabnya. Waktu telah menunjukkan pukul sebelas, jelang siang.
Aku pikir waktu berjalan dengan lambat kalau duduk di rumah aja. Ini tau-taunya udah siang aja.
Via memilih duduk di atas kasur, kembali membuka informasi tentang perjudian online yang membuat kakinya pincang seperti ini. Dia mendapat informasi bahwa aplikasi itu sudah meraup keuntungan yang sangat tinggi. Rata-rata korbannya anak-anak berusia remaja yang keranjingan bermain game adu untung.
"Para korban kayak tidak ada kapok-kapoknya nih, masa iya mau diporotin terus? Mau-maunya mentrasfer uang yang belum bisa mereka cari. Jadi wajar ini para gembong harus ditangkap," setelah itu tampak Via memikirkan sesuatu.
"Ngapain ya mereka ke Amerika beberapa waktu lalu? Apa ada bisnis dengan gembong judi di Texas?" lalu Via memberi centang merah tanda kasus penting yang akan dia selesaikan. Karena ini adalag kasus internasional, yang sudah dia urus semenjak jadi anggota FBI.
Kasus selanjutnya yang dia anggap penting, dan sangat urgent. Kasus penculikan anak perempuan di bawah umur. Dalam catatan sudah terjadi hingga lebih sepuluh kali kejadian yang sama. Sehingga membuat masyarakat yang memiliki anak perempuan berusia belasan tahun, menjadi resah.
Waduuuhh Aa, aku sangat membutuhkan pertolonganmu saat ini. Ini kasus yang terjadi semuanya berkaitan dengan dunia online. Aaah, balik lah Aa. Siapa yang bisa membantuku kali ini?
Akhirnya dia merasa pusing sendiri. Mencoba menghubungi Stevan. Namun yang dihubungi tidak menyahut.
"Huh, ini sibuk kerja apa sibuk pacaran sih?" sungutnya.
Lalu dia berjalan menuju balkon. Membuka pintu kaca besar itu, seketika angin segar menyeruak masuk menerpa wajahnya. Bersandar pada pagar pembatas, dan menikmati udara bebas dengan menghirupnya dalam-dalam, lalu dilepaskannya kembali. Menopangkan dagu di kedua tangannya yang bertumpa pada pagar pembatas, menikmati indahnya lautan yang terbentang sepanjang mata memandang.
"Seandainya ya Val, kamu masih ada? Pasti semua terasa berbeda." Dia memandang ke arah langit yang membiru, dihiasi awaan tipis. Sungguh indah pemandangan hari ini.
"Siapa sih? Mau mencari mencari masalah denganku?" lalu orang yang meneropong masuk ke dalam sebuah mobil dan pergi.
Via ingin bergerak cepat, memanjat pagar itu, berencana hendak langsung turun dari sana. ~ngiiing~ ternyata kakinya kembali sakit saat ditumpukan saat dia memanjat. Via meringis dan kembali menurunkan kakinya.
"Siiaaall!!!" rutuknya memilih berselonjor dan memijit-mijit kakinya yang kembali sakit.
Dia bangkit, segera mendekat ke kulkas mencari es batu lalu melakukan apa yang dilakukan oleh Jimmy kemarin. Ribet karena ikatan perban yang berbelit-belit, akhirnya memilih merendamkan seluruh kakinya pada baskom berisi air es itu.
Apa benar tida bisa bergerak lebih banyak lagi? Sepertinya memang harus banyak beristirahat. Jika aneh-aneh terus, yang ada kondisi kaki ini menjadi semakin parah. Huuufftt...
Usai merasa lega, dia memilih tiduran di atas sofa, sambil menyalakan televisi. Mencari channel berita internasional. Berita itu menayangkan menemukan anak perempuan berusia remaja, mengaku dari Indonesia, tengah melarikan diri dari pengejaran sang penculik.
Via langsung terduduk serius menonton berita itu. Anak perempuan itu mengaku bertemu seseorang berawajah asing. Tiba-tiba sudah berada di tempat asing. Lalu berusaha kabur dan minta pertolongan warga. Warga tidak memahami bahasa yang digunakan anak ini, memilih membawanya ke pihak kepolisian Rumania.
"Gilak? Pantas saja mereka seperti hilang ditelan bumi. Ternyata, mereka dibawa keluar negeri. Aah, siaal! Harus segera mengerahkan pasukan secepatnya! Ini kaki pakai sakit pula! Addduuu, kok greget banget rasanya. Dimana pekerjaan sedang banyak begini juga? Ini gara-gara mafia judi online itu! Huuh!"
Lalu dia mencari-cari informasi bagaimana cari agar kakinya segera sembuh di internet. Lalu tampak iklan penyediaan jasa pijit. Via menggaruk pelipisnya.
Ternyata semuanya memang ditemukan secara online.
Namun, Via memilih menghubungi Dedi.
"Om, dimana tempat pijit yang langsung sembuh...?"
***
...Krak...
"Aaaaauuuuwww..." pekik Via saat suara tulang-tulang dikakinya bergeletuk. Posisinya saat ini tengah terlentang di atas tikar pandan, di rumah tukang pijit langganan istri Dedi.
...Krak...
Kembali terdengar suara tulang belulangnya bergeletuk, entah lepas dari persendian, atau kembali ke tempatnya semula. Via memukul-mukul lantai karena kesakitan.
...Krak...
"Ampuuun..., Ampuuuun...!" pekiknya masih memukul-mukul lantai.
Setelah beberapa waktu kakinya dipijat, wajah Via tampak sangat nelangsa. Namun, kesakitan akibat pijtan Mak Ida makin lama terasa makin berkurang. Via yang masih terlihat mengerutkan kening, dalam posisi duduk memeluk bantal yang disediakan. Setelah setengah jam, akhirnya selesai juga.
"Nak, minum lah!" Mak Ida menyerahkan air putih kepada Via.
"Terima kasih Mak," Via menerima dan segera meminumnya. "Ini air ramuan obat Mak?"
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MEMBIASAKAN MEMBERIKAN LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...