
*Notes: sebelum membaca bab ini, otor harapkan reader tidak terlalu masukkan ke dalam hati. Ini hanya hasil reka dunia pernovelan dari otor, dan hanya sekedar pandangan semata dari otor. Jadi jangan BaPer yaaa
"Aa aja yang ngomong, gue mah ogah…" masih sibuk dengan ponselnya. Mengecek pesan dari markas. Ada pesan dari Tosan juga, memarahi Via yang muncul di laman Utube karena menyusup ke markas kepolisian.
Via sibuk dengan dunianya sendiri membuat Stevan malu sendiri. Kok bisa gue suka sama bocah ingusan kayak gini?
"Heeyy.. bocaaahh…" Stevan merebut paksa ponsel Via. Tampak halaman tengah ngobrol dengan Tosannya.
"Aa apaan sih?" rengeknya, "Gue lagi chatting sama Tosan…"
"Kalau orang tua ngomong, dengerin atuh Neng.. ini kok gak sopan banget…"
"Kan dianya mau ngobrol sama Aa aja.. Gue ngobrol sama Tosan aja…" masih merengek khas anak kecil meminta permen.
"Aduuuhh…" Tiba-tiba rasanya gemes pengen nyubit kedua pipinya, batin Stevan.
"Ini nih.." kembali menyerahkan mainan Via, dan Via beranjak tanpa permisi ke tempat yang nyaman menurutnya.
"Itu Adik Abang gemesin banget. Tapi kok muka kalian beda ya?" Loly melirim Stevan dan Via bergantian.
"Iya beda donk.. wong dia turunan Jepang, aku ada darah Eropa. Timur ke barat kan jauh jaraknya…"
"Jadi dia bukan adik Bang Stevan?"
"Bukan laah.. Ibu Bapak kami beda dan tak ada hubungan sama sekalipun…"
"Tapi tadi itu deket banget, udah kayak kakak adik beneran…"
Hmmm… Kakak adik beneran? Apa hanya aku aja yang merasa tidak begitu?
"Bukan…bukan.. kami hanya sejenis partner…"
"Partner apa nih?" nah..ini nih.. Loly mulai mengintrogasi..
"Partner hidup ya?"
Maunya sih gitu, jawabnya dalam hati sambil memerhatikan gadis kecil itu yang sepertinya tengah melakukan komunikasi video call dengan keluarganya.
"Abang suka sama dia ya? Sama anak kecil itu?" Loly masih menginterogasi dengan suara makin tajam.
"Biasa aja kali pacaran beda usia, untuk ceweknya yang lebih muda. Bahkan sekarang banyak yang lebih tua ceweknya dibanding cowok malah," sela Ana yang dari tadi hanya menjadi pendengar yang baik.
"Tapi ini Abang kayaknya lebih tua dari kita. Sama anak kecil masih kelas satu SMA? ckckckck…" wajah narcis Loly tadi, tiba-tiba berubah menjadi tatapan jijik kepada Stevan.
"Lha? Apa hubungannya usia dengan perasaan? Itu gak sinkron lhoo.." sanggah Ana membela.
"Heeh.. apa an sih gue ngarep sama bule edan ini?" Loly dengan perasaan kesal bersungut-sungut menarik tangan dan mengajak Ana kembali ke mejanya.
"Kan gue udah bilang, selera bule itu aneh…" masih terdengar celetuk Ana oleh Stevan.
Entah karena malu atau kecewa duluan. Loly tak mau lagi menengok ke arah Stevan.
Tak lama Via mendekat sendiri tanpa dipanggil, "Kenapa kakak tadi ngeloyor gitu aja A? Batal donk dapat ceweknya?" celetuk Via.
"Itu lah, gagal dapat cewek hari ini gara-gara elo kan .."
"Lha? Kenapa gara-gara gue? Gue udah sengaja jauh-jauh biar kalian bisa kenalan lebih gitu, biar dapat kontak dia gitu kan." Lalu perhatiannya langsung teralih pada benda yang tengah discrool terus dalam sistem DOS yang dibuat Stevan.
"Gimana A? Udah berhasil dapat inpohnya?"
"Ini mau gue kasih, tetapi masih ada rumus yang harus diinput dulu.."
"Iye.. gue tunggu…" dengan tenang terus memperhatikan layar tablet yang saat ini sudah beralih fungsi menjadi laptop.
Tak lama, loading percakapan siap untuk diputar. Karena kamera ponselnya tidak terlihat, mungkin ponsel korban berada di dalam kantong.
"Aa… Kayaknya Lo…."
"Aa…." selanya kembali mengoreksi.
"Iya.. Aa.. bisa jadi ahli dalam memecahkan blackbox deh, nanti kalau ada kecelakaan pesawat, gue langsung rekomendasi kan Aa aja…"
"Ssstt… Jangan aneh-aneh aaah..Doakan setiap perjalanan itu sampai dengan baik dong…!!"
"Iya.. siapa tau kan.. namanya aja kecelakaan, sesuatu yang tidak terduga. Kalau Aa' yang bantu, pasti cepat banget hasil blackboxnya terbaca, Aa' emang the best kalo masalah yang gini, tak salah Dedi menyarankan Aa untuk menemaniku mengatasi kasus ini…" mengacungkan dua jempolnya.
"Dedi.. Dedi…Om Dedi..!! Udah..jangan muji terlalu tinggi, nanti gue bisa melayang…" menahan lonjakan perasaan, mendapat serangan pujian dari Via.
"Malah nggak kelar-kelar kerjaannya.." tambahnya.
"Iiihh… Gue kan harus segera menangkap pelakunya..kasihan Kak Rini…"
"Kenapa dengan orang yang bernama Rini itu?"
"Tadi pagi dibawa oleh polisi sebagai tersangka…"
"Hmmm.. harus segera dibereskan.." ujar Stevan.
"Siap untuk mendengarkan rekamannya?"
Via mengangguk…
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE & KOMENTAR...
...terima kasih...