
[ JANGAN LUPA BUAT FOLLOW CARAMELLOW]
"Angela please, will you be my girlfriend?" ucapnya dengan lantang ketika mencoba meminta Angela menjadi kekasihnya. Sorak dan tepuk tangan orang sekitar yang melihat keduanya membuat suasana semakin romantis dan tersipu malu.
EPISODE SEBELUMNYA
Angela masih berdiri terpaku mendengar pernyataan William yang cukup lantang dan keras itu. Gadis itu menatap ke sudut mata William lekat. Mencari ketulusan cinta yang lelaki itu katakan kepadanya.
"Kamu yakin, jika kamu mencintaiku? Bukankah masih ada nama Sashi di hatimu. William, aku tak ingin menjadi wanita penganti.." Ungkap Angela dan pergi melanjutkna langkahnya. Sedangkan William masih berdiri mematung memandangi Angela yang sudah berjalan di depannya.
William menyentuh dadanya dan memejamkan kedua matanya sejenak.
"Kamu benar Angela, perasaanku belum lepas sepenuhnya dari Sashi. Tapi aku juga tak ingin kehilangan perhatianmu padaku." Serunya dalam hati.
---------------
"Sayang.."
"Sayang, Istriku. Suami kamu lagi manggil nih. Gak di jawab dosa loh.." panggil Arka dari dalam kamar tidurnya. Pria muda itu sibuk mengikat dasi yang di pakainya.
"Bentar sayang, aku lagi ganti popoknya Arsha" sahut Marsha yang masih duduk di sofa kamar bermain Arsha. Anak perempuan mereka.
"Ya ampun sayang, aku juga perhatian juga" protesnya manja namun tidak ada jawaban yang di berikan oleh Marsha. Wanita itu masih sibuk dengan bayi perempuannya yang sudah menginjak usia 13 bulan.
"Arsha sini dulu, mama pakaikan celana dulu sayang.." bujuk Marsha sambil merentangkan kedua tangannya di depan Arsha.
Arka yang merasa tidak mendapatkan perhatian Marsha, pergi menghampiri Istrinya yang berada di ruangan sebelah kamarnya.
"Sayang.." seru pria itu dengan wajah murungnya.
"Kamu tuh udah mengabaikan aku gitu aja. Ini baru anak satu, kamu udah cuek banget sama aku. Gimana kalau tambah 10 anak lagi.." ucap Arka sambil memangku putrinya yang sudah belajar berjalan sendiri.
Marsha tertawa kecil mendengar keluhan Suaminya.
"kemarilah.." pinta Marsha sambil mengayunkan telapak tangannya kearah Arka untuk duduk di sampingnya.
Arka mendekat kearah Marsha bersama Arsha yang duduk di pangkuannya.
Marsha tersenyum manis menatap Arka dan mrmbenarkan posisi dasi suaminya yang kurang rapi.
" Kamu gila ya. 10 anak itu banyak. Emang aku kucing yang sekali brojol langsung lima. Gimana kalau gantian, kamu aja yang ngelahirin.Biar tau rasanya melahirkan" jawab wanita itu dengan senyuman dan helaan napas kecil.
Arka cekikikan mendengar keluhan Marsha.
"Becanda kok sayang" balas Arka yang juga ikut tersenyum.
"Enam anak aja cukup kok." Goda Arka sebelum mencium kening istri dan Anaknya.
"Dasar.." gumam Marsha pelan.
"Bebi Arsha, Papa berangkat kerja dulu sayang.." ucap Arka sembari melambaikan tangan kearah putrinya.
Arsha tertawa dan perlahan mengikuti gerakan Arka membalas lambaian tangan Papanya.
"Anak pintar.Sampai jumpa nanti sore sayang.."
"Sayang.." panggil Marsha sembari beranjak dari tempat duduknya. Wanita itu menghampiri Arka yang sudah berdiri di samping pintu.
"Iya Sha. Kenapa?" tanya Arka melihat Marsha yang tiba-tiba menyerukan namanya dan berdiri menghampirinya.
Marsha menggelengkan kepalanya dan beberapa detik kemudian mencium bibir Arka cepat.
"Semiga harimu menyenangkan sayang.." ungkap Marsha dengan wajahnya yang tersipu malu.
Arka tersenyum melihat perlakuan Marsha padanya. Tanpa menunggu lam, Arka membalas kecupan singkat Marsha.
"I love You babe.." ucap Arka pelan di telinga Marsha. Membuat wanita itu geli dibuatnya.
"I love you too.Udah sana berangkat. Tuh udah di liatin sama Arsha kan.." balas Marsha denga senyumannya yang masih mengembang.
"Jangan lembur ya sayang. Soalnya Mami Raeviga mau ketemu Arsha." imbuhnya.
________________
"Kak Andreas, gak bosen nungguin Sashi disini?" tanya Sashi yang masih sibuk dengan desain-desain gaun untuk butiknya.
"Ngeliatin kamu kayak gini. Bosennya darimana?" balas Andreas dengan kalimat-kalimat bualannya.
"Gombal banget sih.." Sashi tertawa kecil mendengar ucapan Andreas. Setelah kejutan Anniversary yang di buat oleh Andreas, mereka memutuskan untuk Night Dinner yang sudah Andreas rencanakan sebelumnya. Andreas dengan setia menemani Sashi yang terlihat sangat sibuk dengan butiknya sembari menunggu waktu dinner mereka.
Raeviga yang juga berada di butik untuk membantu Sashi, sesekali memperhatikan keduanya yang terlihat serasi. Raeviga tersenyum seolah mengingat kenangan masa mudanya bersama Dava.
"Jadi kangen suamiku" gumam Raeviga sendiri sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Wanita yang sudah menjadi seorang nenek itu melihat foto-foto kenangannya bersama Dava yang sudah mereka lewati hingga saat ini.
Sashi memperhatikan Raeviga yang terlihat tersenyum menatap layar handphone yang di pegangnya.
"Kenapa ma, kok senyum-senyum sendiri?" tanya Sashi sambil berjalan menghampiri Raeviga.
Raeviga menoleh kearah putrinya dan tersenyum kecil menatapnya.
"Gak apa sayang, Liat kalian jadi inget Papa kamu.." jawabnya.
Sashi memeluk mamanya erat. Gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Raeviga.
"waktu muda papa pasti romantis banget ya?" tanya Sashi dengan senyuman yang tergambar di bibirnya.
Raeviga membelai lembut rembut anak gadisnya yang telah dewasa itu. Raeviga mengingat kembali kenangan pertemuan pertamanya dengan Dava yang berakhir dengan sebuah pernikahan karena ikatan perusahaan kedua orang tua mereka.
"Tidak selalu, tapi Papamu selalu pintar membuat mama tersenyum kembali ketika merasa sedih.." jelas Raeviga singkat.
"Sudahlah, lanjutkan dulu pekerjaanmu. Kasihan Andreas menunggumu sedari tadi.." pinta Raeviga yang di setujui oleh Sashi.
"Oh ya, Mama pulang dulu ya sayang. Mama perlu menyiapkan hidangan untuk Arsha, Arga dan Marsha juga.." pamitnya sambil melihat sekilas kearah jam tangannya.
"Iya Ma. nanti setelah dinner, Sashi nyusul deh. Harus tunggu Sashi. Kangen sama Arsha.." ucap Sashi memohon.
"Iya sayang. Nanti mama minta mereka buat nunggu kamu. Sekalian Andreas juga ikut ya.."
Andreas mengangguk pelan.
"Iya Ma. Nanti aku mampir juga.." jawab lelaki itu yang sedari tadi hanya menjadi pendengar obrolan Ibu dan Anak itu.
"Yaudah mama pulang dulu sayang.." Raeviga mulai melangkah pergi meninggalkan butik milik Sashi itu.
Setelah kepergian Raeviga, Andreas berjalan mendekati Sashi yang kembali sibuk dengan kain-kain bajunya.
Andreas melingkarkan tangannya di pinggang Sashi. Lelaki itu memeluk Sashi dari belakang dan mencium punggungnya.
Sashi sedikit terkejut dengan pelukan tangan Andreas di tubuhnya. Dia membalikkan tubuhnya menatap Andreas.
"Ada apa? kenapa tiba-tiba memelukku.." tanyanya sambil mengerutkan keningnya.
"Apa aku tidak boleh memelukmu seperti ini?" ucap Andreas semakin mempererat pelukannya.
Sashi memukul bahu Andreas pelan.
"Dasar, lepasin deh. Aku masih banyak kerjaan" Sashi mencoba melepaskan pelukan tangan Andreas di tubuhnya.
Andreas menggelengkan kepalanya. Menolak perintah Sashi untuk melepasnya.
"Andreas lepasin dulu. Kamu ganggu banget deh. Ntar di liat customer aku yang tiba-tiba kesini gimana." pinta Sashi lagi.
"Gak mau. Yaudah biar aja. Kan aku lagi peluk tunangan aku. Bukan pacar orang.." kilahnya tak ingin kalah.
Merasa lelah karena Andreas tak menuruti ucapannya. Sashi membiarkan tangan Andreas memeluk pinggangnya. Gadis itu kembali membalikkan tubuhnya menatap manekin di depannya.
"Kamu aneh deh. Tiba-tiba bucin gini.." keluh Sashi pelan.
Namun di balik ekspresi wajah mengeluhnya, Sashi tersenyum kecil melihat sikap Andreas yang seperti itu kepadanya.
BERSAMBUNG