
Aku udah buat wanita yang aku sayangi menangis Sas.."ungkap Arka dengan nada lirih,seolah meresapi apa yang baru saja di katakannya.Mengingat kejadian di masa lalunya bersama Marsha.
___________________________
Arka sedang berada di atas atap gedung tinggi di tengah kota Jakarta.Ia meneriakkan nama Marsha sekeras yang ia bisa.Suara itu bersatu dengan suara hembusan angin di atas sana.
Gedung itu adalah tempat Arka dan Marsha dulu melampiaskan segala emosi terpendam mereka.Meneriakkan kegundahan hatinya agar angin membawa kerisauan mereka masing-masing.
Kenangan itu kembali teringat dengan jelas,tangan Marsha yang hangat selalu memegangnya erat saat masalah sedang menimpa Arka.Namun sebaliknya,Arka yang selalu membawa luka untuk Marsha di masa itu.Luka yang perlahan membuat Marsha seketika menjauh darinya.
FLASHBACK
4 tahun yang lalu,sejak pertemuan Arka yang tak sengaja dengan Marsha di koridor sekolah yang notabennya Marsha adalah kakak kelasnya,membuat lelaki itu terus saja memikirkannya.Wajah molek Marsha sejak saat itu terus mengikuti pikirannya.
"Lo lagi ngeliatin apa sih Ka?"tanya salah satu teman Azka yang juga mengikuti pandangan temannya itu.
"Dia anak kelas 12 apa?"ucap Arka balik bertanya pada cowok itu.
"Dia? Marsha? tuh cewek galak bro...udah miskin tapi sok galak jadi cewek.."ejek lelaki itu pada Marsha yang sedang duduk sendiri di meja kantin paling ujung.
Arka mengernyitkan kedua alisnya mendengar perkataan temannya itu.Namun bukan berarti Arka menjauh setelah mendengarkan penuturan lelaki yang berada di sampingnya itu,ia semakin tertarik untuk mendekatinya.
"Udahlah,percuma Lo gak akan bisa ngambil hatinya.."seru teman Arka yang lainnya.
Arka mencibir perkataan temannya itu.
"Lo lupa? gue Arka.Cowok yang gak akan pernah gagal dapatin cewek sejenis apapun.."jawab Arka sambil meminum jus di depannya.
Dua orang teman Arka tertawa cekikikan mendengarnya.
"Gausah terlalu percaya diri Ka,Marsha itu terlalu angkuh buat bisa Lo dapetin.."ungkap salah satu teman Arka yang masih meremehkannya.
"Gue akan jadi pembokat elo dan bakal keliling lapangan 7x dengan dada telanjang kalo elo bisa dapetin dia...tapi sebaliknya kalo elo gak bisa dapetin dia maka bukan gue yang ngejalanin itu.Gimana?"seru salah satu teman Arka yang tadi meremehkannya.
Arka hanya tersenyum tipis mendengarnya.
"Dia akan jatuh dalam pelukan gue.."ucap Arka pelan namun teman-temannya itu masih bisa mendengarnya,termasuk salah seorang lelaki yang sejak tadi duduk di meja belakang Arka dan teman-temannya.Lelaki itu mencibir ucapan Arka sembari memasukkan ponselnya setelah selesai merekam perkataan mereka.
"Gue gak mau membuat gadis itu menjadi bahan taruhan.Gue memang ingin mendekatinya karena aku tertarik padanya.."imbuh Arka sembari menepuk pelan bahu temannya itu dan pergi meninggalkan meja kantin yang sejak tadi di dudukinya.
Sedangkan lelaki yang sejak tadi menguping pembicaraan Arka dan teman-temannya menatap tajam ke arah punggung Arka yang berjalan menjauh dari kantin sekolah.Lelaki itu terlihat jelas kemarahan yang tergambar di wajahnya.
FLASHBACK END
Arka masih menikmati udara pagi yang akan segera menjelang terik itu di atap pencakar langit.Ingatannya terus berputar mengenang kisah di masa lalunya.
Bahkan jika kisah di masa lalu benar-benar pahit,aku akan selalu mengenangnya karena disana ada kamu Sha yang mengisi kenangan itu.
Sebuah panggilan telepon dari Dava membuat Arka membuyarkan lamunannya.Lelaki itu menggeser ke atas layar ponselnya untuk menerima panggilan telepon dari Orang tuanya itu.
"Halo pa.."
"Ka,lagi dimana?" tanya Dava memulai perkataannya.
"Di luar Pa,kenapa?"
"Ke kantor sekarang ya..Papa mau ngenalin kamu sebagai calon pengganti penerus bisnis perusahaan kita.."Ungkap Dava dengan senyum tipis yang terukir di bibirnya.
"Bisa kan?"tanya Dava lagi saat ia tidak mendengar jawaban dari Arka.
"Iya Pa.Arka akan segera kesana.."jawab Arka setelah beberapa detik.
"Baguslah,Papa menunggumu.." kalimat terakhir Dava menutup panggilan singkat ayah dan anak itu.
_______________________
Marsha sudah menyelesaikan jadwal mengajarnya hari ini.Setelah pertemuannya dengan Arka tiba-tiba membuatnya tidak fokus saat menerangkan materi untuk mahasiswanya.Ia sangat terguncang dengan kedatangan Arka kembali,yang secara tidak langsung membuatnya kembali mengingat masa lalunya yang ingin ia kubur dalam-dalam.
Marsha berjalan dengan langkah sayu melewati jalanan setapak di pinggir jalan raya.Ia sengaja berjalan menuju rumahnya tanpa menggunakan transportasi apapun.Gadis itu berharap dengan cara itu perlahan bisa melupakan Arka.
Sampai detik ini aku berusaha menggubur perasaanku untukmu Arka.Dan hari ini kamu telah mengembalikan kenangan tentang dirimu yang ingin aku kubur dalam-dalam.
Sebuah mobil SUV merah berhenti tepat di depan Marsha setelah menyembunyikan klansonnya membuat gadis itu melihat keheranan.Seorang laki-laki keluar dari mobil itu dan berjalan menuju kearah Marsha.
"Masuklah,biar saya antar kamu pulang..." Angga membukakan pintu mobilnya agar Marsha segera masuk ke mobilnya.
"Maaf pak,Saya memang sengaja pulang dengan berjalan kaki.Silakan teruskan saja perjalanan anda.."tolak Marsha halu sembari meneruskan langkah kakinya.
Angga yang melihat Marsha menolaknya segera mengunci mobilnya dan ikut berjalan di samping Marsha.
"Kalo begitu saya menemani kamu pulang jalan kaki seperti ini.."ucap Angga sambil berjalan di samping Marsha.
Marsha menghela napasnya kesal dan melirik sekilas kearah Angga tanpa suara.
Arka sudah berada di kantor Papanya.Ia mengetuk pintu kaca ruangan Dava beberapa kali sebelum masuk ke ruangan itu.
"Arka,duduklah di sini.."seru Dava melihat kedatangan Anak laki-lakinya.
Arka mengangguk kecil mengiyakan.Ia melihat seorang wanita yang terlihat seusia bersama lelaki parubaya yang duduk di sampingnya.
"Tuan Sam,perkenalkan dia adalah putra saya.Dia yang akan memegang tanggung jawab perusahaan ini setelah nanti saya memutuskan pensiun.."ungkap Dava sembari menunjuk kearah Arka yang duduk di sampingnya.
"Perkenalkan saya Arka Gumilang Dewantara.."ucap Arka singkat dengan senyum kecil terhias di bibirnya.
Gadis yang duduk berhadapan dengan Arka itu terlihat mencuri pandang setiap kali Arka tidak menatap kearahnya.
"Putramu sangat tampan Dav.."gurau Lelaki parubaya itu di susul senyuman renyah Dava.
"Saya Sammy,rekan bisnis properti ayahmu dan ini adalah Citra Ayuningtyas dia adalah putri tunggal saya.."ucap Sammy sembari memegang lengan putrinya.
Citra hanya tersenyum kecil saat Papanya itu memperkenalkannya.
"Namanya sangat cantiknya dengan Pemiliknya.."Balas Dava memuji kecantikan anak perempuan Sammy itu.
Arka yang berada di antara mereka hanya menatap penuh selidik.
Apa Papa sekarang sedang mencoba menjodohkanku?
Setelah pertemuan yang berlangsung 2 jam itu berakhir,Arka mengantar Sammy dan Citra hingga di depan lobby kantor.
"Aku harap kita bisa bertemu lagi Arka.Saya suka cara kamu saat menangani masalah perusahan tadi.."puji Sammy sebelum masuk ke dalam mobilnya.Di belakangnya Citra hanya tersenyum kecil sebelum ikut masuk ke dalam mobil Papanya.
Arka kembali masuk ke ruangan Dava.Ia duduk di kursi depan Dava dan menatap penuh selidik kearah Papanya itu.
"Pa,ini bukan perjodohan kan?"tanya Arka menatap Dava yang sibuk dengan laporan perusahaan.Seketika Dava tertawa mendengar apa yang di katakan Arka.
"Apa kamu anggap ini perjodohan,Nak?"ucap Dava masih dengan tawa ringannya.
"Pa,Arka serius.Aku akan memilih pendampingku sendiri.."keluh Arka dengan raut wajah kesal.
"Arka,ini bukan jaman Siti Nurbaya..kenapa aku harus sibuk menjodohkanmu.Urusan hati kamu memiliki hak sepenuhnya.."balas Dava dengan sikap tegas seorang Ayah.
"Lalu tadi.."
"Papa sama Sammy hanya berusaha memperkenalkan kalian.Lagi pula kita adalah rekan bisnis di properti ini.Saling mengenal tidak ada masalah kan?"jelas Dava yang sudah kembali sibuk dengan pekerjaan kantornya.
Lagi pula perjodohan juga tidaklah buruk.Aku dan Raeviga juga menika karena perjodohan.Cinta itu seperti bunga sayang,akan tumbuh saat kamu ingin menanamnya dan meluangkan waktu untuk merawatnya.
Arka menghela napas lega setelah mendengar penjelasan Papanya.
"Arka sudah tidak di butuhkan? Aku mau pergi ke suatu tempat Pa.."seru Arka setelah beberapa detik hanya duduk diam di ruangan Dava.
"Pergilah tapi jangan pulang terlalu malam,Arka.."pinta Dava sebagai sosok orang tua dari anak-anaknya.
Arka menganggukkan kepalanya menjawab perkataan Dava.Ia kemudian keluar dari perusahaan Properti yang sudah bergerak 5 tahun yang lalu.Sedangkan perusahaan Jank Food sudah di pegang kembali oleh Arga yang di bantu oleh Angela.
Arka sudah berada di dalam mobilnya yang ia kendarai sendiri.Sedetik kemudian suara panggilan telepon dari asisten pribadinya membuatnya menepikan mobil dan memasang hanset di telinganya.
"Ada apa?"tanya Arka pada lelaki bertubuh besar dan berkumis itu dari seberang teleponnya.
"Kirimkan lokasinya segera.."jawab Arka lagi setelah memdengar apa yang di katakan Pria di seberang teleponnya itu.Entah apa yang sedang mereka bicarakan namun Arka terlihat sedikit senang.
BERSAMBUNG