
Aku bingung dengan maksud jawaban itu, tetapi aku berpura pura memahaminya karena melihat tampang ibu Noah yang sedikit seram itu membuatku merasa sedikit takut untuk bertanya apa maksudnya.
Sesudah itu aku dan bi Erna pulang ke rumah masing-masing dan melanjutkan tidur malam kami. Aku merasakan firasat buruk tentang Noah, bersamaan dengan hujan yang bisa dilambangkan sebagai kesedihan, ratapan,dan rasa kehilangan milik seseorang. Semakin menumbuhkan firasat buruk semakin keruh di pikiranku.
04.50
Aku terbangun lebih pagi dibanding biasanya.
"Tumben bangun pagi-pagi, tadi malam habis kemana?".
Bang Sam memiliki mata yang berbeda dengan manusia biasa pada umumnya,meski dia dalam keadaan tidur, indra nya tidak pernah tidur dan selalu tau apa yang orang lain lakukan ketika dalam jangkauan penglihatannya.
"Abis dari rumah Noah, tadi malam rumahnya agak berisik, kaya ada maling, yah aku yang penasaran nyamperin dong".
"Penasaran atau khawatir?". Nadanya mengejekku.
"Bang jangan godain terus".
06.38
Aku berjalan kaki hendak berangkat ke sekolah melewati rumah Noah, yang sangat senyap semua jendela, dan tirai ditutup, tidak sampai di situ bahkan salah satu jendela kacanya juga pecah seperti telah terjadi keributan besar.
Tetapi aku mencoba mengarahkan pikiran ku pada hal yang positif, siapa tahu itu terjadi disebabkan oleh ketidaksengajaan. Menyimpan rasa penasaran ku, Aku segera berlari ke sekolah menyusuri beberapa gang sekitar.
Sekolahku sudah berada di depan mata hanya tinggal menyeberangi jalan yang penuh kendaraan berlalu. Kakiku sudah menginjak zebra cross,tidak memandang rambu yang berganti, dan ingatanku teralihkan oleh sesuatu yang kulihat kemarin saat ku lihat Noah yang jiwanya berantakan. Mobil sedan biru dengan kecepatan tinggi,sudah siap menabrak ku yang melamun.
Beep,beep.
Lamunan ku hilang di sertai sirine mobil yang berbunyi. Aku berpikir inilah nasibku, tapi semua itu berubah ketika dia menyelamatkan ku...
"Hei!". Dia menyeru ku.
Aku membuka mataku dan yang kulihat adalah mata indah yang masih kuingat dan rambut hitam pekat yang tersapu angin. Itu memang Dia AFANDI nur Zulham.
Afan menyelamatkan ku ke tepi jalan, aku lega kejadian ini tidak menjadi perhatian khalayak ramai. Setelah itu dia menyebrang zebra cross denganku tapi masuk ke halaman sekolah lebih dulu meninggalkanku yang terhenti di depan gerbang.
"Nia ! ". Anggun memanggilku dari kejauhan.
"Haha Mimpi apa berangkat jam segini?".
Aku dan anggun masuk keruang kelas, dan segera membantu nya mengerjakan tugas, hingga bel jam pelajaran pertama dimulai kulihat bangku Noah masih kosong.
Aku juga mendapat satu lagi teman baru Amanda namanya. Meski dia tidak bisa berbicara lancar dan normal seperti pada umumnya tapi aku tak pernah membicarakan kekurangan itu di depannya. Dia juga pendiam katanya takutnya jika berkenalan dengan anak lain, mereka pasti menghina kekurangan miliknya.
Mungkin aku sedikit salah menilainya, ku kira dia sangat pendiam dan pemalu tetapi setiap hari dia bercerita tentang anak yang sudah menjadi mantannya, entah berapa anak yang didapat dia tak habis menceritakan kenangan para mantan padaku.
Bel berbunyi, setelah masuk kelas memberi salam waktunya guru untuk mengabsen. Sampailah nama Noah dipanggil.
"Noah Adriansyah?.... Noah? Tidak masuk hari ini, apa ada surat izin dan tau kenapa".
"Tidak pak". Jawab kami serempak.
"Lo tetangga Noah kan?". Anggun bertanya padaku.
"Memang tapi gak tau kenapa dia gak masuk, sebenernya ada yang buat gue penasaran,saat berangkat tadi gue liat salah satu kaca jendelanya pecah terus mikir aneh-aneh jadinya".
"Ouuh". Jawaban anggun seperti dia tak mau memperdulikan ceritaku, aku memang sudah cukup mengenalnya ketika dia bercerita sesuatu padaku aku sangat memperhatikan dan sebisa mungkin mendukungnya, berbeda ketika aku bercerita kebanyakan persentase nya dia tak pernah memperdulikan atau terlihat malas mendengarkan. Jujur aku paling benci dengan sikap orang-orang seperti itu.
Kebetulan sekali kami mendapat perintah dari guru bahasa Indonesia untuk literasi ke perpustakaan, berbagai macam buku memang ada tapi aku lebih tertarik untuk membaca manga Jepang. Afan yang tak sengaja lewat melihat ku membaca manga.
"Wibu?". Pertanyaan itu benar-benar terucap darinya.
Entah kenapa aku tak bisa menjawab dengan sepatah kata pun, hingga dia diajak oleh temannya ke bangku lain untuk membaca. Aku sadar bahwa aku telah menyukainya meski baru pertama melihat, kelihatannya dia terlalu baik untukku, kepribadian yang kalem,bijak, optimis, pergaulannya jelas tidak sebebas cowok lain.
Yang pasti dia pasti sangat menjaga jarak dari perempuan.
"Nia, bengong si?". Amanda mengagetkanku.
"Siapa yang bengong, gue lagi kepikiran sesuatu aja".
"Gue tau Lo suka Afan kan? Sejak kemarin Lo nembak Afan pake peluru kertas, Mandang dia terus sampai di ajak bicara kaya orang budek". Anggun menimpali.
"Duh gimana ya jelasinnya, suka sih suka pertanyaannya dia suka gue atau malah dah punya".
Amanda mendekatkan kursinya padaku.
"Gue ada ide, tanya aja langsung ke orangnya".