
Tak lama setelah itu Noah menghentikan motornya di parkiran supermarket.
"Gak mau turun?".
"Cepet banget". Aku terheran.
"Gue bilang juga apa, cepet belanja nya".
"Iya iya". Aku pergi masuk ke dalam.
Setelah selesai mendapatkan semua bahan masak aku berjalan ke kasir aku lihat Noah berada di kasir lebih dulu membeli obat untuk meringankan sesak nafas.
"Lo beli obat sesak nafas? Buat apa?".
"Buat di minum lah". Dia langsung pergi keluar dan menyiapkan motornya.
"Ini mbak,semua totalnya 98.700". Mbak kasir memecah diamku.
Aku naik ke motor dan Noah menjalankannya.
"Gue serius nanya, obat itu buat Lo sendiri?". Aku masih meributkan pertanyaan tadi.
"Kalo iya kenapa".
"Ya gak apa-apa sih, sekedar pengen tau, maaf kalo pertanyaan gue tadi agak terlalu ngepo'in....udah dari kecil?".
"Hmm".
Jawaban singkat itu membuatku merasa tidak enak, dan menghentikan bibirku, tapi tidak dengan rasa penasaran ku.
17.01
Disaat kami sampai di perempatan jalan gang yang sepi ada beberapa mahasiswa yang tawuran, kami tak bisa ambil jalan lain karena tidak ada jalan tembusan ke gang cempaka di sekitar gang itu.
"Gimana? Tunggu sampai mereka selesai tawurannya?".
"Tawuran itu gak bakal selesai sejam, dan pastinya kita akan mudah jadi korban jika nunggu di sini".
Noah melepas jaketnya dan menyuruh ku memakainya.
"Gue lumayan tau jalan pintas dari sini, jalan satu-satunya itu lewat jalan terbengkalai Deket hutan".
"Apa Lo bilang?!".
"Pegangan". Dia langsung putar balik dan melaju dengan sangat kencang lalu melewati jalan terbengkalai di dekat hutan.
Pantas saja Noah memberikan jaketnya padaku karena udaranya sangat dingin di jalanan sini.
17.49
"Lo gak ngerasa dingin?". Tanyaku mengkhawatirkannya karena yang ku tau hawa dingin itu tidak baik untuk orang yang punya sesak nafas.
"Gak, dikit lagi nyampe". Jawabnya dengan tersenyum.
18.02
Gang cempaka mulai terlihat, hatiku merasa sangat lega karena ini pertama kalinya aku pergi sampai hari gelap bersama anak laki-laki.
Abang Sam berdiri di depan pintu seperti siap untuk menghukum ku. Tapi aku memang pantas untuk dihukum karena sangat ceroboh sehingga lupa membeli bahan masak begitu saja.
"Makasih udah nganterin Sampe rumah". Aku turun dari motor dan berjalan menuju pintu.
"Sebenernya..."
"Saya yang salah bang,tadi saya yang ngajak Nia buat isi bensin motor, taunya ada anak tawuran jadi kami putar balik lewat jalan lain yang agak jauh".
Noah membelaku tapi dia berbohong pada bagian dia yang mengajakku untuk isi bensin.
Abang Sam menepuk bahu kanan Noah sambil menghela nafas.
"Bagus lah ada pengakuan, dah jam segini, masuk ke rumah dulu Noah kita makan malam".
"Gak usah bang".
"Katanya orang tua mu masih di luar kota, siapa yang masak di rumahmu? Gak perlu sungkan".
Bang Sam memaksa dengan lembut Noah untuk masuk.
19.16 penantian menu untuk matang.
Di meja makan, kamu bertiga makan bersama dengan menu lodeh dan jagung. Kulihat mata Noah berkaca-kaca seperti senang sekali akan memakan menu itu.
Saat kuambil kan nasi untuk Noah tiba-tiba bel rumah ku berbunyi. Bang Sam pergi membuka pintu, ternyata dia adalah ibu Noah yang baru saja kembali dari luar kota memintanya untuk pulang. Tingkah laku Noah berubah menjadi agak panik dia langsung mengemasi barang-barangnya dan berlari keluar, pulang bersama ibunya tanpa berbicara sepatah kata pun.
"Kelihatannya Noah itu mirip dengan ayahnya, dia dan wajah ibunya tidak mirip sama sekali".
"Si paling hafal wajah orang yang baru ketemu".
"Apaan sih bang, aku gak naksir".
Ditengah malam yang menurunkan hujan lebatnya membuat lampu gedung-gedung tinggi di kota terlihat seperti kunang-kunang dalam hujan. Ku dengar ada suara banyak barang pecah dari rumah Noah. Aku mengintip dari jendela kamarku yang di penuhi percikan air hujan, lampu rumahnya masih menyala.
Aku memberanikan diri untuk mengambil payung dari kamar Abang Sam lalu pergi keluar untuk melihat keadaan rumahnya. Ketika aku berjalan Bu Erna tetangga samping rumahku dia orang asli Surabaya, menyapaku.
"Loh bi Erna belum tidur?".
"Tadinya si sudah tidur tapi kok rumah Noah ini berisik, pyar krompyang ngunu lo". Logat medok milik bi erna.
Aku dan bi Erna memutuskan untuk memeriksa rumah Noah bersama. Begitu kami sampai di pintu ibu Noah sudah membuka pintu terlebih dulu sebelum kami menekan bel. Seperti tau jika kamu akan menjenguk ke rumahnya.
"Eh bi Erna, sama tetangga yang tadi nawarin Noah makan, siapa namanya cantik?".
"Saya Nia Tante". Jawabku.
"Bi Erna sama Nia mau masuk dulu,ada apa ini kok tengah malam gini berkunjung?".
"Itu, tadi saya denger suara krompyang pyar gitu dari rumah ibuk, kaya suara ada yang ngusir maling, jadine kita kesini. Apa ibuk mayline sama Noah gak apa-apa ".
"Oh, suara tadi Noah ngamuk gak jelas lalu buat vas nya pecah".
"Aduh buk may, vas itu kan mahal banget".
"Namanya juga ABG Bu, harus sabar kita ngadepinnnya".
Aku sedikit melirik ke ruang tamu dan melihat Noah dengan anak kecil yang sedang memeluknya yang terdiam di sofa seperti membeku tak bisa berbuat apa-apa. Di saat pandanganku tengah berfokus ke wajahnya,semua yang kulihat seperti berputar dengan warna yang pudar dan jiwa Noah yang berantakan, aku bisa melihatnya.
Aku memang bisa melihat hal seperti itu dari kecil.
"Tante maaf lancang, jika Noah ingin cerita tentang sesuatu tolong diberi motivasi dan semangat ya".
"Tenang aja Nia di keluarga Tante semuanya terhubung kok".