Best Friend Vs Boy Friend

Best Friend Vs Boy Friend
Satu motor untuk berdua


05.03


Aku bangun dari tidurku, segera mandi dan menuju meja makan,terlihat bang sam sudah menyiapkan roti dengan selai cokelat untuk sarapan.


"Bang, kita punya tetangga baru di samping rumah bi Erna, udah tau namanya siapa? ".


Tanyaku.


"Namanya Noah, katanya di juga baru pindah ke sini, dan akan sekolah di sekolah yang sama denganmu".


"Kok tau?".


"Tadi malam dah Mabar".


Aku menghela nafas, ternyata dengan Mabar pun bisa jadi akrab.


"Berangkat dulu ya bang".


Aku memakai sepatu dan berjalan ke luar rumah, kebetulan aku berjalan kaki karena ingin menikmati suasana kota.


Dan kulihat Noah sedang menaiki motornya yang menurut anak laki-laki lainnya mungkin motor seperti itu keren.


Aku berjalan berharap dia pura-pura saja tidak melihatku. Tapi dia bersiul memanggilku.


"Mau naik?".


"Gak makasih daripada nanti kenapa-kenapa".


Aku melanjutkan perjalanan.


"Udah ngikut Noah aja,dari pada nanti hampir ketabrak mobil di zebra cross kaya kemarin".


Bang Sam meneriaki ku dari halaman rumah.


Wajahku memerah karena perkataan itu pasti memalukan bagiku di depan anak seperti Noah.


Aku pasrah dan mengikuti perkataan bang Sam.


"Bang adekmu ku bawa ya".


"Ya, yang penting jangan sampai mati aja".


Sambil menyeruput kopinya.


Mereka berdua sama-sama menjengkelkan di pagi ini. Seperti dugaanku Noah ngebut-ngebutan berlagak seperti raja di jalanan. Akhirnya kami sampai di parkiran sekolah,rambutku dibuat berantakan karena angin dijalan terus menerpa ditengah kecepatannya.


"Gak ada makasih nih?".


"Makasih.. orang baik". Aku menahan geramku dan meninggalkannya masuk ke dalam.


Terlihat di kertas yang ditempelkan di Mading, namaku Sania Martha Puspita Sari. Berada di kelas A.


08.20 bel masuk berbunyi. Semua siswa yang tadinya memenuhi sekolah berjalan menuju ke kelas yang sudah di bagikan. Aku melihat ada anak perempuan berambut sedikit cokelat dan mata redup. Yang sendiri di bangku nya, kelihatannya dia tidak pandai berbaur.


Aku duduk di sebelahnya dan berkenalan.


"Hai gue Nia kalau boleh tau siapa nama Lo?".


"Oh iya panggil aja anggun". Jawabnya.


Kami pun mengobrol,bercanda dan berbicara tentang sesuatu yang kadang gak jelas. Seperti yang Abang Sam bilang aku pandai sekali mendekati seseorang:3 .Saat guru pendamping Mos datang semua teman dikelasku diam dan mendengarkan perkataannya.


Ditengah pidato penyambutan siswa baru Noah menyerobot masuk seenaknya dan sedikit memotong pidato guru.


"Anak baik kenapa kamu terlambat masuk ini baru Mos loh".


Guru itu masih memperlihatkan kesabarannya.


"Bagaimana ya ,tadi aku belum sarapan dirumah jadi aku makan dulu dikantin".


Berbicaranya sangat santai.


"Lain kali ke ke kantin lebih pagi jangan saat bel masuk akan berbunyi kau malah berangkat ke kantin".


"Oke".


Noah duduk di bangku tepat dibelakang ku. Bukannya aku kepedean tapi aku merasa dia terus mendekati ku dengan sifat menjengkelkannya.


"Dia lumayan goodlooking". Anggun berbisik padaku.


"Namanya juga anak gang cempaka". Aku menanggapi candaan anggun.


Setelah berbagai memori melintasi pikiranku baru aku sadar, dia anak laki-laki yang ku tabrak kemarin. Aku tidak percaya dia satu kelas denganku, rasanya hatiku sedang berdebar dan ingin sekali dekat dengannya.


Saat MOS selesai,kami diberi jam kosong. Dan tentu saja kami mempergunakannya untuk bermain :) Awalnya kami sekelas bermain pesawat kertas, yang paling berkelas pesawat nya akan dapat pujian dari teman-teman.


Aku bukan orang yang kreatif apalagi soal seni kertas lipat, jadi aku minta temanku untuk membuat pesawat untukku, tapi aku hanya bermain biasa tidak ikut bersaing. Setelah pesawat ku dan anggun selesai kami menerbangkannya bersama, Noah juga ikut-ikutan bermain pesawat lipat. Kan kubilang apa :/


Selang 5 hari kehidupan dikelas berubah trend lagi, trend barunya kali ini adalah menembak dengan peluru kertas menggunakan karet :1 hadeh ini sih yang paling ngeselin sakit banget kalau kena peluru kertasnya.


Seperti biasa aku juga ikut membuat nya, anggun dan aku tembak tembakan dengan itu dibangku, saat aku ingin menembak anggun, dia merunduk lalu peluru ku yang harusnya untuk anggun mengenai dada anak itu.


Anak itu tersontak karena peluru ku mengenainya. Aku tertawa malu, belum kenal aja udah buat gara-gara.


15.00 saatnya kami untuk meninggalkan lingkungan sekolah, yaitu pulang !


Dalam perjalanan pulangku Noah melambatkan laju motornya dan bertanya padaku yang tengah berjalan di trotoar.


"Ikut gak?".


"Gak usah nanti lama-lama hutang bensin sama Lo". Aku tidak memandang wajahnya sama sekali.


"Gue juga punya uang, gak perlu ngemis buat beli bensin".


Aku mengabaikan perkataannya dan belok ke kanan mengambil jalan pintas ke gang cempaka, gang rumahku. Noah yang tadinya kebablasan ambil jalan lurus, memundurkan motornya dan pergi ke jalan yang sama denganku.


"Kenapa gak lewat jalan raya aja". Aku bertanya padanya.


"Males kelamaan...eh..".


Motornya tiba-tiba terhenti.


"Hahaha habis bensin ya". Ejekku.


"Iya nih". Dia turun untuk menuntunnya.


"Ya udah gue belok ke sini dulu ya".


"Tau pom bensin di Deket sini?". Pertama kalinya Noah bertanya sesuatu padaku.


Badanku berbalik.


"Kalau di sini gak ada pom bensin,adanya di jalan raya tapi agak jauh dari sini".


Dari raut wajahnya aku bisa menebak dia masih belum begitu hafal dengan jalanan sini,karena bagaimanapun aku sedikit lebih lama di sini. Aku pun membantu menuntun motornya.


"Ku tunjukin jalannya mau gak?".


"Pake nanya". Dia sedikit sebal dengan pertanyaan ku.


"Ya udah, ayo jalan".


Kami akhirnya tiba di pom bensin pada pukul 15.54


"Kalo gitu,Gua cabut ya keburu dimarahin".


Noah menahan tanganku.


"Udah ku bonceng aja, jangan gengsian".


Mau bagaimana lagi dari pada nanti telat sampai rumah dan hp ku di tahan selama 2 Minggu, aku ikut Noah saja dengan motornya.


Ditengah perjalanan...


"Duh gue lupa lagi beliin bahan masak buat bang Sam, mana supermarket nya jauh lagi".


"Ke supermarket dulu nih?". Noah merespon ku.


"Supermarket nya jauh di Deket pantai sana, bentar lagi juga malam".


"Tenang sekarang baru jam 16.04 kan, kita pasti sampai sebentar lagi ". Noah menambah kecepatan nya yang semula 40 menjadi 63, aku merangkul tubuh Noah sekuat mungkin, berharap tidak terjadi hal buruk.


"Pelan dikit Napa!".


"Diem aja,gue udah janji Ama bang Sam kalo Lo gak bakal kenapa-napa". Ujarnya .


Kulihat matahari sudah menjadi Mega merah, di langit barat sedangkan bang Sam juga pasti nungguin dirumah.


Aku menutup mataku yang melihat jalanan berlalu dengan sangat cepat. Hanya tubuh Noah lah yang bisa kurasakan saat ini...