Bercerita Tentang Kita

Bercerita Tentang Kita
part 31


( ̄︶ ̄)↗


Bina berjalan bosan, menempatkan telapak kakinya yang telanjang, sesuai jejak yang tinggalkan oleh pamuda yang kini berjalan di hadapannya. Suara deburan ombak terus terdengar di sepanjang jalannya. Tak jarang pula ayunan air itu menerpa mengenai kakinya.


Angin-angin menerbangkan rambutnya sampai beberapa helai seringkali mengenai mata. Bina menghentikan langkahnya, merapikan rambutnya. Ia beralih menghadap pantai, menunduk menatap kakinya yang kembali diterpa oleh ombak, meninggalkan bekas basah bercampur pasir.


Kemudian ia mendongak. Lautan di depan sana begitu cantik terlihat, dengan kapal-kapal para nelayan yang sedang berlayar. Ia bosan. Bina melirik pada pemuda yang tadi jejak kakinya ia pijak. Pemuda itu sudah berjalan jauh dari tempatnya berdiri sekarang.


Pemuda itu tak mengajaknya berbicara barang hanya sekata. Kalau tau begini Bina lebih baik menolak suruhan Tina untuk berjalan berdua dengan pemuda itu. Lebih baik ia berjalan bersama Tina, persetan dengan penolakan wanita itu yang mengatakan ingin berdua saja dengan suaminya. Ia lebih baik menjadi nyamuk antara mereka, daripada menjadi orang mendadak bisu dengan pemuda itu.


Bina menghela nafas. Menatap lagi pada lautan, terserahlah ia mau ditinggal juga. Lebih baik ia sendirian dari pada harus terjebak dalam keadaan canggung.


“Indah.” Gumam Bina.


KomBinasi warna biru dan putih yang cantik. Dua warna biru dengan ton yang berbeda dan putihnya warna awan dan ombak, menjadi perpaduan yang begitu indah. Tuhan memang menciptakan sesuatu yang benar-benar luar biasa.


Bina memejamkan matanya, menikmati angin yang menerpa semua bagian tubuhnya. Membayangkan akan ada Min Yoongi yang kini tengah merangkulnya dari belakang, bak drama korea. Kemudian mereka menikmati indahnya sunset dengan jingga yang cantik. Senyum Bina terbit, oh betapa indahnya jika khayalannya benar-benar terjadi.


"Iya indah.”


Bina menoleh kaget dengan suara yang tercipta dari sosok di sebelahnya. Pemuda itu. Pemuda yang tadinya Bina kira ingin meninggalkannya, kini sudah tepat berada di belakangnya.


“Indah.... ciptaan Tuhan memang tak pernah ada yang tak indah,” lanjutnya.


Bina kembali lagi menolah pada lautan yang juga ditatap lurus oleh Irgi. Ia mengangguk, benar yang pemuda itu bilang. Burung-burung yang terlihat bagai titik, yang terbang di atas air. Alunan ombak yang saling bergantian untuk menuju tepi pantai, juga hal-hal di dalamnya yang tampak menakjubkan jika dilihat.


“Kak Irgi, suka laut?” Tanya Bina.


Irgi menoleh pada Bina. Gadis itu tak membalas tatapannya, ia hanya menatap lurus suatu ciptaan Tuhan di depan.


“Nggak,” ucapnya menggelang.


Bina mengernyitkan dahinya mendengar itu. “Kenapa?”


Irgi menarik nafasnya. “Lautan indah. Tapi ia bisa marah yang menenggelamkan banyak jiwa.”


“Iya ya,” Bina mengangguk-angguk setuju dengan Irgi. Namun tak lama kemudian, secetus pemikiran lewat kepalanya. “Tapikan, marah sebesar itu juga bentuk tak terimanya dia terhadap sesuatu.”


“Tapi kalau marah sebesar itu bisa bahaya buat banyak orang.” Cetus Irgi.


“Tapi masa marahnya dipendam? Kan nggak baik.”


“Makanya ada yang namanya diomongin baik-baik.” Balas Irgi masih memandang lautan sana.


Bina menoleh memiringkan kepala dengan kernyitan di dahinya. “Laut nggak bisa ngomong.” Ucapnya.


Irgi menoleh terkekeh. Ia lupa gadis di sampingnya bukan seseorang yang akan mengerti dengan setiap arah bicaranya.


“Ya memang gak bisa ngomong, kan bukan manusia.” Ucap Irgi setengah terkekeh geli melihat raut wajah Bina.


“Ya terus?” Bina memajukan bibirnya tak mengerti.


“Laut kan bisa ngasih isyarat kalau dirinya marah. Bisa dengan tangkapan ikan yang sedikit tau apapun itu.” Balas Irgi.


Bina mengangguk-anggukan kepalanya. Ini adalah perbincangan mereka setelah tak saling berbincang untuk waktu yang lama. Interaksi mereka sudah jarang terjadi, setelah kejadian di pasar tempo hari. Mereka sudah tak saling berbincang walau hanya menyapa. Ketika Tina memanggilnya untuk datang, Bina memilih menaiki ojek untuk menuju rumah mereka, ia bahkan menolak jika Tina mau Irgi menjemputnya.


Bina tersenyum tipis. Ternyata dia dan Irgi tak seperti yang ada di bayangannya. Mereka memang saling menolak perjodohan, apalagi Irgi. Namun, mereka masih bisa saling berbincang seperti ini, bukan membenci.


Bina menyunggingkan senyumnya semakin lebar tak lama kemudian, ketika melihat Tina dan Andi menghampiri mereka. Ia melambaikan tangan yang dibalas pula dengan Tina dengan hal yang sama.


“Gimana, bagus nggak, Bin?” Tina bertanya setelah menghentikan langkahnya di depan kedua remaja itu.


“Bagus tante. Pantainya masih asri, nggak banyak pengunjung juga.” Bina tersenyum menanggapi.


“Pinter kan tante cari tempat wisata.” Tina tersenyum, menepuk pundak Bina pelan. Ia memang sudah mencari di berbagai platform tentang tempat-tempat liburan.


Bina tersenyum, mengacungkan jempolnya mengapresiasi usaha wanita itu.


“Udah yuk, mau siang. Kita makan dulu sebelum nanti dzuhur.” Tina merangkul Bina membawa gadi situ untuk berjalan bersisian dengannya.


...


Lagi-lagi ia bosan. Bina menghela nafas. Di bawah meja pendek itu Bina mengeluarkan ponselnya melihat jam juga mengecek beberapa notifikasi.


“Bina.”


Bina mendongak cepat saat Tina memanggilnya. Wanita itu menyodorkan ponselnya pada Bina. Bina menerimanya, melihat sesuatu pada layar ponsel itu.


Bina mengernyitkan dahi saat melihat layar ponsel Tina. Di sana terlihat sebuah foto pelaminan pernikahan dengan gaya yang mewah namun minimalis. Kemudian Bina menatap Tina, memiringkan kepalanya, tanda bertanya.


“Bagus nggak?” Tanya Tina.


Bina mengangguk. Ia masih bingung kenapa Tina menunjukan gambar itu padnaya. Apa saudara mereka ada yang ingin menikah?


“Suka nggak?” Tina bertanya kembali. Bina lagi-lagi hanya mengangguk, raut wajahnya masih bingung.


“Coba kamu geser-geser, itu masih banyak loh modelnya.” Ucap Tina. Sedang Andi hanya tersenyum menatap keduanya.


Bina menuruti ucapan wanita itu, ia mulai menggeser satu persatu gambar-gambar pada layar. Gambar-gambar pelaminan yang sangat banyak ia temukan di sana. Sampai dirinya kini menatap Tina bingung. Gambar pelaminan itu belum juga habis ia geser.


“Itu buat kamu sama Irgi.”


Ucapan itu membuat Bina menegang pada tempatnya. Sama halnya dengan Irgi, pemuda itu langsung mendongakan kepalanya saat mendengar sang ibu berkata, mengabaikan notifikasi yang kembali masuk pada ponselnya. Kedua remaja itu menatap Tina yang kini tersenyum menatap keduanya.


“Mama tau masih lama. Tapi itu udah mama cari dari WO terbaik tau. Mama sampe nanya-nanya temen-temen mama.” Tina tersenyum semangat.


Bina menatap Tina, dengan diam. Wanita itu menatap penuh harapan besar pada dirinya dan juga Irgi. Ekspektasi dan harapan yang besar wanita itu Pitakan. Dirinya.... tak tau harus melakukan apa. Bina melirik Irgi. apa Irgi bisa mengabaikan tatapan itu.


Pemuda itu juga menatap sang ibu dengan diam, mengabaikan getaran-getaran notifikasi pada ponselnya. Harapan ibunya terlalu bear. Namun Irgi juga tak bisa dengan Bina. Pita.... gadis itu baru saja mengabari Irgi bahwa dirinya kini sedang berada di rumah sakit. Ia menunggu Irgi untuk kesana. Dan Irgi baru saja mengetikan sebuah janji pada pesan mereka, sebelum Tina berucap. Ia.... bingung harus melakukan apa.


“Eh, makanannya udah dateng. Yuk makan dulu.” Tina berucap, ketika salah satu pelayan mengantarkan makanan mereka.


Kini semua orang diam dalam kuyangan masing-masing. Berbeda dengan Irgi, pemuda itu terlihat gelisah dalam duduknya. Ia terus menunduk, menatap ponselnya yang menampilkan room chatnya dengan seseorang.


Bina mengernyitkan dahinya melihat gelagat Irgi. “Kak kenapa?” Bisik Bina.


Irgi menoleh, kemudian menggeleng menjawab pertanyaan Bina. Gadis itu kemudian kembali pada kegiatan makannya.


Irgi mengatur nafasnya. Pita... gadis itu kini utuh dirinya. Ia ingin menemani Pita. Namun, kini dirinya sedang liburan bersama orang tuanya. Ia harus pergi, ke tempat Pita berada. Kepalanya kini mencari alasan yang jelas untuk pergi dari sana. Irgi menatap orang tuanya. Apa mereka akan mengizinkan dirinya pergi jika itu alasannya adalah Pita?


Pemuda itu menunduk mengambil nafas dalam sebelum mendongak kembali menatap pada Andi.


“Kenapa Gi?” Andi bertanya saat putranya menatapnya cukup lama.


Mengambil nafas dalam, Irgi berucap. “Irgi boleh pergi sekarang nggak, Pa?” tanyanya pelan.


Andi mengernyitkan dahinya bingung. “Mau kemana? Kan kita lagi liburan, Gi.”


“Irgi... Ucup sakit, Pa. Irgi harus pergi jenguk Ucup.” Irgi berucap puluhan maaf dalam hatinya setelah mengatakan itu.


“Gak bisa nanti?” Kini Tina yang bertanya.


Pemuda itu menggelengkan kepalanya. “Dia butuh Irgi, Ma.” Bukan, bukan Ucup, tapi Pita butuh dirinya kan?


Andi menghela nafas, menoleh pada sang istri. Biarlah wanita itu yang membuat keputusan, karena rencana liburan ada juga karena ide darinya.


Istri Andi itu ikut-ikutan menghela nafas saat ditatap oleh sang suami. “Ck, pertemanan kalian itu,” Tina berdecak menatap putranya.


“Yaudah. Naik ojek?” Tanyanya. Irgi mengangguk. “Hati-hati.” Tina menyodorkan tangannya di hadapan Irgi.


Pemuda itu dengan senyum tipis menerimanya, mengecup tangan itu bergantian dengan sang ayah. Tak lama pemuda itu berlalu pergi dari sana.


“Maaf ya, Bin. Irginya malah pergi.” Tina menyentuh tangan gadis di hadapannya yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.


Bina hanya tersenyum tipis, berucap tidak apa-apa. Kemudian mereka kembali melanjutkan makan.


Bina menoleh pada Irgi yang kini sudah hilang dari pandangannya. Ia tahu pemuda itu berbohong. Bukan Ucup, namun Pita.


(≧∇≦)ノ