
(#`O′)
Bina kini duduk di salah satu bangku di taman belakang sekolah bersama dengan pemuda yang beberapa saat lalu berkata bahwa ingin berbicara dengannya. Sekolah sudah sepi, walau masih ada beberapa siswa yang masih berkeliaran disekolah karena eskul atau hal lain, namun yang dipastikan mereka tidak akan menjangkau area yang kini ditempati nya dengan pemuda ini.
Sendari tadi Bina mengalihkan pandangannya, menatap sekitar yang sekiranya menarik ia pandang. Hening, dari mulai ia duduk ditempat ini, suasananya hening. Diantara mereka tidak ada yang membuka suara, entah kenapa. Bina sendiri tak tau harus mengatakan apa atau berbicara apa, sedang pemuda yang katanya mau berbicara ini, kini masih saja belum mengeluarkan suara. Ada sedikit rasa canggung yang membuat Bina tidak nyaman, walau bagaimanapun perjumpaan terakhir mereka berakhir dengan perginya Irgi dan tangisannya kala itu.
“Bina.”
Oh akhirnya, keheningan itu lenyap seketika. Bina menolehkan kepalanya mengahadap Irgi, pemuda itu juga mentapanya. Keheningannya memang lenyap seketika, namun tergantikan rasa canggung yang kini mendominan. Bina hanya diam tak menjawab, ia bingung harus menjawab apa, rasanya hanya menjawab panggilan saja ia bingung. Ia mengalihkan tatapannya menunduk menatap pada sepatunya sendiri.
“Bina, kamu bisa bilang ke orang tau kamu kalo kamu nggak mau perjodohan ini dilanjut?” Irgi berucap panjang dalam satu tarikan nafas.
Bina yang mendengar itu kembali menolehkan kepalanya, atensinya bersitatap dengan mata Irgi yang juga menatapnya dengan lekat. Bina menghembuskan nafasnya. Pertanyaan ini lagi, ia sudah menebak bagaimana akhirnya. Jujur saja, ia jadi bingung menjawabnya, pertanyaan yang sama namun jawaban dipikirannya kini berbeda. Bukan hanya pemuda itu saja yang terus memikirkan tentang mereka, namun juga Bina.
Bina menggelang, setelah keheningan yang tercipta untuk mejawab pertanyaan Irgi.
“Kenapa?” Irgi, menajam menatap Bina.
“Aku nggak bisa kak.... aku bingung.” Bina kembali menundukan kepalanya.
Irgi mengerutkan dahinya, ia terus menatap gadis yang kini menundukan kepala disampingnya. “Kenapa Bina?” Ada nada frustasi, dalam pengucapan Irgi.
“Emang kenapa sih kak?” Bina berucap menoleh kembali pada pemuda disampingnya, membuat mereka bersitatap. Tatapan Bina yang tajam dan tatapan Irgi yang terlihat frustasi, beradu.
Bina mengambil nafas panjang, bersiap untuk bersuara. “Emang kenapa? Aku pikir kak Irgi nolak perjodohan ini karena kak Pita, tapi kemaren kakak boncengan sama perempuan lain. Dari ucapan kakak yang selalu ngebanggain kak Pita, aku pikir kakak emang secinta itu sama kak Pita, sampe segitunya nolak perjodohan, aku kira kakak nggak gampang untuk berpindah cinta karena segitunya sama kak Pita. Tapi ternyata nggak kan? Kakak putus sama kak Pita, terus sekarang pacaran sama perempuan lain. Kakak bilang nggak bakal nyakitin siapapun. Putus sama kak Pita terus deket dan pacaran sama perempuan lain. Kenapa nggak sama aku aja, biar orang tua kita juga seneng. Aku bukan ngarepin kakak, tapi nggak secepet itu juga dong habis putus terus langsung jadian sama perempuan lain. Kalo emang segampang itu, aku juga kan perempuan lain. Dari pada maksa-maksa aku buat nolak perjodohan.” Bina berucap dengan emosi, nafasnya tersenggal. Sungguh ia masih tak bisa menerima sikap Irgi yang terus saja memaksanya untuk menolak perjodohan. Bina juga menginginkannya, namun ia tak bisa.
Irgi berdecak kesal. “Kamu pikir itu semua mau saya?” Pemuda itu mulai meninggikan suaranya. “Saya juga nggak mau sama perempuan itu.” Irgi menekan setiap katanya, menatap Bina dengan sangat tajam.
“Terus kenapa? Bilang aja kak Irgi mau karena perempuan itu cantik.” Balas Bina sinis.
“BINA.” Bentak Irgi, telapak tangannya ia kepal sekuat tenaga menahan emosi.
Namun pikiran Bina salah tentang pamuda ini, pemuda ini malah dengan mudahnya mengganti pasangan, entah karena apa Bina tak tau. Bukannya jika pemuda itu putus ia harus mengenal Bina, bukan malah memacari perempuan entah siapa, seperti yang ia bilang ‘tak mau menyakiti siapapun.’ Bukankah hal itu lebih mudah ketika ia bersama Bina. Atau pemuda ini tak mau dengan ‘dirinya?’
“Kenapa? Kak Irgi gampangkan memindahkan cinta? Kenapa nggak sama aku? Karena aku jelek? Nggak sesuai tipe kakak?” Bina berucap menantang. Rasa takut dan marah karena dibentak menjadi satu.
“Bina...” Irgi berucap, menekan katanya.
“KENAPA?” Kini Bina yang balik membentak Irgi, wajahnya memerah penuh emosi. Matanya mulai buram karena air mata. Dibentak ditambah pikirannya yang bergelut tentang banyak pertanyaan tentang dirinya, apa ia memang tidak layak Irgi cintai? Bukan mengharap, tapi rasanya Bina begitu rendah sekarang. Ia juga terpaksa bukan hanya Irgi.
“Kamu nggak perlu tau, kamu aja nggak pernah ngasih tau saya alesan kamu nerima perjodohan ini, nggak usah ikut campur, semua juga gegara kamu. Saya cuma minta kamu batalin perjodohan ini. Itu aja.” Irgi berucap emosi, nadanya ia turunkan tak membentak namun tetap tinggi.
“Aku nggak bisa...” Bina berucap lirih, kini menunduk menyembunyikan matanya yang hampir mengeluarkan butiran air.
“Yaudah..” Irgi bangkit dari tempat duduknya, menyampirkan tasnya dibahu, berjalan hendak meninggalkan Bina. Namun ia berhenti sejenak. “Maaf...” Ucapnya lirih, ketika mulai mendengar isakan tangis Bina, kemudian melanjutkan jalannya.
Bina masih diam ditempatnya, tergugu karena tangisnya. Ini baru pertama kalinya ia dibentak oleh seseorang, mungkin dirinya memang secengeng ini. Rasa dalam dirinya benar-benar campur aduk, entah kenapa. Bina juga ingin menolak perjodohan mereka, ia juga tak mau. Namun banyak hal yang membuatnya tak bisa menolak, terutama orang tuanya, harapan ibunya, apalagi sang ayah. Ia tak mau mengecewakan ayahnya, ia harus membahagiakan ayahnya, mewujudkan harapan dan permintaanya. Cukup kejadian dulu saja ia mengahancurkan harapan orang lain, cita-cita orang lain, tidak sekarang. Ia juga tak mau menghancurkan harapan Irgi, namun bagaimana?
Bahu Bina bergetar, isak tangisnya tak kunjung berhenti, lelehan air matanya tak bisa ia hentikan. Terus menangis, bertengkar dengan pikirannya yang penuh dengan permasalahan, pertanyaan, hal-hal yang menyakitkan dulu, sekarang terbayang dikepalanya. Kemungkinan-kemungkinan buruk juga ikut serta dalam pikiran.
Hari ini Bina benar-benar hancur rasanya. Belum selesai masalah nya dengan Sila, sekarang ditambah dengan lebih besarnya masalah dengan Irgi. Beban berat dipundaknya terasa semakin berat saja ia rasa.
Bina mengusap air matanya, walau sia-sia karena benda itu terus terjun membasahi pipinya. Menyandarkan punggungnya pada kursi besi ditaman sore ini. Berusaha mengatur nafasnya, yang sempat sesak beberapa saat lalu. Lelah rasanya.
Tak lama Bina bangkit, menyandang tasnya, berjalan perlahan keluar dari sekolah. Lapangan sekolah kini masih terlihat ramai karena terisi anak-anak eskul, berbeda dengan suasana taman belakang yang sepi dan sunyi, walau matahari sudah mulai menuju barat bersiap untuk tenggelam.
Keluar dari gerbang, Bina berjalan perlahan. Jam segini memang tak pernah ada angkutan umum yang akan mengantarnya pulang, salain bukan jamnya, ini juga terlalu sore untuk mereka bekerja. Ponsel Bina kehabisan dayanya sejak pelajaran terkahirnya tadi. Jadi terpaksa Bina berjalan kaki, menuju kostnya. Melelahkan, jarak kostnya tak terlalu jauh, namun tetap saja jika ditempuh dengan berjalan kaki, lumayan jauh, dan tentu saja perlu tenaga. Sedang Bina sendiri, tenaga nya seakan terkuras habis, selain karena sekolah juga karena pertengkarannya dengan dua manusia.
“Dek Bina.”
Suara itu berhasil mengintrupsi Bina, yang melamun berjalan pelan dipinggir jalan. Bina menoleh melihat Wahyu dengan motornya yang berhenti, tersenyum ceria menatap Bina.