
ヾ(@⌒ー⌒@)ノ
Bina menatap malas pada segerombolan remaja lelaki yang kini tengah berlari-lari di lapangan, dari tempat duduknya di bawah pohon beringin bersama Sila dan juga Sinta. Ia tak berminat bergabung, karena tak berlari saja wajahnya kini sudah hampir penuh dengan keringat, cuaca entah kenapa sedang panas panasnya hari ini.
Kini mereka tengah menunggu guru mata pelajaran olahraga yang tak kunjung menampakan dirinya dari dua puluh menit lalu. Sebagian dari mereka menunggu di lapangan, sebagian lagi lari menuju kantin untuk makan.
Bina msih memperhatikan teman-temannya dengan setia. Namun tak lama, dahi Bina menyerngit, kemudian gadis itu terlihat menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, tak jauh berbeda juga dengan dua gadis di sebelahnya. Mereka jujur saja malu dengan tingkah para lelaki yang tadinya berlari kini berjoget dengan iringan lagu dangdut yang tentu saja dari ponsel milik Andri.
Tak hanya kelas mereka yang kini menempati lapangan. Separuh dari lapangan juga digunakan kelas lain untuk berolahraga, yang kini beberapa dari mereka menatap ke arah kelasnya dengan bisikan dan juga kekehan.
“Kan malu kan? Itu yang aku rasain waktu kalian joget-joget gak jelas depan kelas waktu itu.” Sila berucap menyenggol lengan kedua temannya.
“Iya sil, maaf.” Balas Bina. Sekarang ia jadi bisa merasakan betapa malunya Sila ketika itu.
Bina meregangkan jari-jarinya yang menutup mata, hingga kini matanya bisa mengintip keluar. Seorang pemuda berjalan santai menghampirinya, terlihat dari celah kecil itu. Bina membuka wajahnya menyerngit ketika Apis-pemuda yang ia lihat tadi, mendudukan dirinya di samping Bina.
“Kenapa?” Tanyanya.
Sila juga Sinta membuka wajahnya memajukan badannya guna melihat teman lelaki mereka itu.
Apis menghela nafasnya menatap pada anak-anak kelasnya yang tak kunjung berhenti berjoget di depan sana. Kemudian tatapannya beralih pada ketiga perempuan di sampingnya yang masih menatap.
“Panggil Pa Deri, sana Bin.” Andri menepuk pundak Bina, berucap.
Bina menjauhkan dirinya dari dari Apis, gadis itu juga menggeser duduknya. “Dih males.” Ucapnya memalingkan wajah.
Pemuda itu kini beralih menatap Sila dan juga Sinta. Namun kedua gadis itu juga memalingkan wajahnya, tak mau. Sekali lagi pemuda itu menghela nafas.
“Gak usah lah Pis.” Sinta berucap, ia sudah sangat menikmati jam kosong apalagi itu sedang pelajaran olahraga.
“Gue juga maunya gitu, tapi nanti gua yang kena marah kalo ngak manggil beliau.” Apis berucap, pemuda itu juga sangat malas untuk memanggil guru mata pelajarannya yang satu itu. Ia lebih memilih berganti baju dan menuju kelas kemudian tidur disana.
“Yaudah deh.” Bina berucap.
“Bantu doain, biar Pa Deri gak masuk. Katanya kan banyak yang doain jadi besar kemungkinan doanya dikabulkan.” Apis menatap pada dua gadis yang kini masih meladeni ucapannya.
“Oke.” Bina dan Sinta mengacungkan jempol.
“Ck, berat banget ya jadi ketkel.” Ucap Apis meratapi nasibnya.
“Gue ngantuk, gurunya gak dateng-dateng, kalo gak dipanggil gue yang kena masalah. Tapi gue males manggil,” lanjut Apis.
Bina menepuk pundak Apis, “gue turut prihatin,” ucapanya.
“Yang sabar Pis.” Ucap Sinta.
Apis berdiri dari duduknya. Pemuda itu menatap pada ketiga gadis di dihadapannya. “Doain gue supaya kuat.” Ucapnya.
Bina dan Sinta menganggukkan kepala, mereka menampakan wajah sedih dengan tangan terkepal yang mereka angkat. “Semangat.” Ucanya serempak.
Sila hanya menatap datar pada ketiganya. Ia sudah malas meladeni manusia-manusia itu. Namun, dirinya juga ikut berdoa dalam hati semoga Pa Deri tak masuk hari ini. Kemudian Apis pergi dari hadapan mereka setelah mengangkat kepalan tangannya tinggi-tinggi.
“Bin, tenangin gih tuh manusia-manusia.” Sinta menyenggol lengan Bina.
“Dih, males banget gue.” Balas Bina.
“Ya kan lo galak tuh. Siapa tau mereka bisa diatur.” Celetuk Sinta.
“Males.” Ucap Bina menyandarkan tubuhnya pada pohon di belakangnya.
Kemudian mereka diam, menonton anak-anak manusia yang berjoget ria, mungkin saja mereka sudah putus urat malunya, atau mungkin tidak punya urat malu. Semua itu hanya bisa di ketahui oleh Tuhan yang maha esa. Mereka hanya bisa berdoa semoga orang tua mereka tau dengan kelakuan para anak-anaknya.
Bina merogoh saku nya saat bunyi notif pada ponselnya berbunyi. Meraih benda pipih itu untuk melihat nama si pengirim pesan.
Nama Wahyu terpampang di sana. Bina mendongak menatap Sila yang kini masih setia menatap pada manusia-manusia di depan sana. Setelahnya ia menekan pada layar yang menampilkan nama dan juga pesan yang tertera di sana.
‘Dek Bina, hari ini ada latihan basket kan ya. Nanti pulangnya bareng kakak aja.’
‘Kok lama benget Dek Bina balesnya. Padahal udah dilihat.’
Bina melirik Sila sekali lagi. Ia ingin membuang perasaannya dengan Wahyu. Tapi... dirinya tak bisa. Selama ini ia sudah sedikit lebih mengerti tentang perasaannya sendiri. Ia memang benar-benar sudah menyukai Wahyu. Sejak Wahyu memeluknya di depan minimarket tempo hari, dirinya memang sudah menyukai pemuda itu.
Namun dirinya masih dengan tujuan yang sama. Dirinya akan menghapus perasaannya untuk Wahyu. Biarlah Sila bersama Wahyu. Biarlah begitu. Ia terlalu rumit untuk pemuda itu.
‘Dek Bina mau pake ojek aja?’
‘Nggak papa kok kalo mau naik ojek.’
Bina akhirnya mengetik pesan balasan untuk Wahyu setelah membaca seluruh kalimat yang pemuda itu kirim padaya.
'Oke Kak. Maaf ya.’
Setelah mengetik itu Bina memasukan ponselnya kembali pada saku celananya. Memandang kembali teman-temanya yang sudah duduk, mungkin mereka sudah terlalu lelah menggila. Bina berdiri, hendak menghampiri mereka.
“Kemana bin?” Sila bertanya.
“Sana yuk.” Jawab Bina. Sila dan Sinta ikut berdiri berjalan menghampiri yang lain.
“Sil, beliin minum dong.” Dani berteriak.
“Beli sendiri.” Cetus Sila. Gadis itu mendudukan dirinya di samping Rara.
“Iiih, kamu nggak sayang aku.” Dani si lelaki setengah waria itu memajukan bibirnya, cemberut.
Sila bergidik melihatnya. Gadis itu memalingkan wajahnya ke arah Apis yang baru saja datang dengan seragam yang sudah berganti.
“Lah kok ganti.” Celetuk Andri.
“Pa Deri nggak masuk.” Ucap Apis, membuat wajah-wajah senang yang ditampilkan teman-temannya.
“Gue mau tidur. Terserah kalian mau ngapain. Kalo mau ke kantin, nitip.” Ucapnya.
“Dih.” Decakan serempak itu Apis dapat dari teman-temannya.
“Kalo ke kantin jangan gerombolan, satu-satu aku sayang ibu aja,” lanjut Apis.
“Ngelawak pak?” Bina berucap.
Apis tak menghiraukan suara teman-temannya yang kini sudah seperti suara semut. “Yaudah itu saja inpo hari ini. Selamat siang, selamat tidur siang.” Ucapanya, kemudian pemuda itu melenggang pergi.
Sila menghampiri Bina. Sebagian teman-temannya kini sudah pergi entah mau berganti baju atau melipir ke kantin.
“Bina latihan basket ya hari ini?” Tanyanya.
Bina mengangguk. Berdiri diikuti Sila. “Iya kenapa?”
“Aku boleh nitip sesuatu buat Kak Wahyu?”
Bina menatap Sila. Gadis itu terlihat sangat senang. Bina tak bisa membayangkan bagaimana jika Sila benar-benar bersama Wahyu. Apa dirinya dan Wahyu masih bisa seperti biasa. Apa Wahyu juga akan memberinya nasihat seperti sebelumnya. Apa Wahyu akan ada ketika dirinya menghadapi masalah.
“Bina.”
Panggilan dan tepukan dari Sila pada pundaknya berhasil membuat Bina kembali. Ia masih menatap Sila. Tak lama kemudian Bina mengangguk.
“Mau titip apa?” Tanyanya.
“Aku ada kue. Kuenya kau buat sendiri.” Ucap Sila.
Bina tersenyum tipis menanggapinya. Harusnya memang begini kan sikap seorang yang menyukai lelaki. Memberi hadiah atau sesuatu untuk orang yang disukai, memperjuangkan nya. Bukan malah berusaha menghilangkan perasaan atau malah mengikhlaskannya.
“Oke, nanti kau kasih.” Ucap Bina.
( $ _ $ )