Bercerita Tentang Kita

Bercerita Tentang Kita
part 17


...(˘・_・˘)...


Bina melangkah ke dalam kelas, suasana masih dingin, jam masih menunjukan setengah tujuh kurang. Hanya terdapat empat manusia, karena masih terlalu pagi, di depan gerbang Bina juga lihat masih begitu sepi, membuat suasana pagi ini begitu damai.


"Morning." Sapa Bina memasuki kelas, menyapa penghuninya, yang pagi ini begitu kalem.


"Morning." Sapaan balasan itu ia dapat hanya dari satu orang membuatnya mengerutkan dahi.


"Nggak ada semangatnya benget nih penghuni." Bina berjalan menuju bangkunya.


"Masih pagi Bin, ngantuk." Apis si ketua kelas menyaut dari belakang.


"Nah itu, masih pagi ngantuk, harusnya tuh seger." Bina mendudukan dirinya pada kursi.


"Gue baru tidur dua jam, udah denger teriakan emak gue." Apis menelungkupkan wajahnya pada lipatan tangannya di atas meja, curhat.


"Game teruuus." Bina terkekeh, sudah tau kebiasaan Apis yang begitu menggilai game pada ponselnya, bahkan curhatan tentang bagaimana emaknya pemuda itu, sudah diketahui seisi kelas.


"Bacooot." Gumam Apis.


"Morning epribadeh."


Tanpa menoleh pun Bina tau suara-suara itu berasal dari siapa. Segerombolan makhluk berjenis kelamin laki-laki, masuk kedalam kelas.


"Pagi bidadari cantiq." Dani, lelaki setengah waria berucap, berjalan menghampiri geng gosip nya di pojokan kelas.


"Eh lo tau nggak?" Sinta, mencolek bahu Dani. Sudah tertebak bagaimana kelanjutannya bukan?


"Pis game yuk." Sebagian dari mereka mendudukan dirinya pada bangku masing-masing, namun berbeda dari yang lain, pemuda bernama Erik satu ini, malah menghampiri Apis yang sepertinya baru saja tertidur.


Mengabaikan suasana kelas yang sudah hampir ramai kembali dengan keributan. Bina mengalihkan dirinya membuka buku, mengingat dan mempelajari ulang rumus-rumus yang ia pelajari tadi malam, untuk ulangan paginya. Pagi ini memang mereka sudah dijadwalkan akan ada ulangan matematika, tentu saja itu membuat sebagian orang seperti Bina pusing dibuatnya, mana ulangannya jam pertama pula, makin meledak kepalanya. Namun tak jarang juga ada yang terlihat santai, entah mereka sudah cerdas dari sananya atau sudah mempasrahkan diri pada keadaan. Nanti lihat saja siapa yang akan mengisi lembar jawaban dengan kalimat 'hanya Allah yang tau.'


Bina menoleh pada gadis yang baru saja meletak tasnya pada bangku disampingnya. Ia tersenyum menatap gadis itu, hendak menyapa, namun gadis itu melenggang pergi begitu saja tanpa mentap Bina sedikitpun. Hal itu membuat Bina mengerutkan dahinya bingung. Mengedikkan bahunya, Bina mulai memfokuskan dirinya pada kesibukannya tadi. Mungkin gadis itu sedang kesal pada sesuatu pagi ini, nanti ia akan menanyakan pada gadis itu.


...


"Sil," Bina memanggil Sila, namun gadis itu segera berdiri dari duduknya, hendak meninggalkan Bina, namun dengan sigap Bina menahannya, membuat gadis itu kini menatap Bina.


"Kamu kenapa? Aku ada salah?" Bina bertanya sepelan mungkin, semenjak gadis itu datang ke kelas sampai sekarang gadis itu tak mengeluarkan suaranya. Bahkan mengajak Bina untuk ke kantin seperti biasa pun tidak.


"Nggak papa." Sila mejawab singkat, berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Bina.


"Tunggu dulu." Bina kembali mencekal lengan Sila. "Aku buat salah? Kamu nggak mungkin kaya gini kan kalo nggak apa-apa." Bina menatap lekat mata Sila, namun gadis itu menolehkan tatapannya ke arah lain.


"Nggak papa, lepas." Sila menekan kata terakhirnya, membuat Bina sedikit terkejut.


"Sil, kenapa?" Bina masih ngotot, menagih balasan yang memuaskan dari bibir Sila.


"Kenapa?" Pertanyaan itu bukan dari Bina, namun dari Andri.


Nyatanya percakapan mereka sudah diperhartikan oleh teman-teman yang lain. Mungkin mereka juga penasaran kenapa Sila bersikap begitu pada Bina, karena setau mereka Bina dan Sila bak kembar siam yang kemana-mana selalu berdua.


Mendengar pertanyaan itu dari Andri, Sila segera menghempaskan tangan Bina yang mencekal tangannya, pergi begitu saja tanpa berucap apa pun.


"Bin, kenapa? Lo berantem?" Rara menghampiri Bina, menyentuh lengan temannya.


Bina menggelengkan kepalanya, tatapannya tak lepas dari pintu dimana Sila menghilang dari pandangannya di sana. Ia tidak tau gadis itu kenapa, Bina berusaha mengingat kejadian terakhirnya dengan Sila kala itu, namun Bina masih belum menemukan hal-hal yang mungkin membuat Sila marah padanya.


"Inget-inget, siapa tau lo bikin salah sama dia." Andri bersuara, mewakili yang lain.


Bina hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Sendari tadi juga ia sudah berfikir. Terakhir kali ia bertemu dengan Sila sebelum pagi tadi, adalah kemarin. Dihalte saat Wahyu menawarkan tumpangan pulang karena pemuda itu ingin sekalian memfotokopi tugasnya di tempat fotokopi dekat kost Bina. Namun kala itu Sila pergi, karena Sila sudah dijemput papanya, dan mungkin buru-buru kala itu, hingga ia pergi tanpa pamit pada Bina. Apa itu masalahnya? Bina bingung.


Bina kembali mendudukan dirinya pada bangku, masih berusaha mengingat kesalahan yang ia perbuat. Setelah tadi, teman-temannya pergi keluar membeli makanan karena kelaparan setelah ulangan tadi, membuat kelas begitu sepi hanya menyisakan Bina sendiri.


"Dek Bina." Suara itu berhasil membuat Bina sedikit melompat dari duduknya, terkejut.


"Kaget ya dek? Maaf ya." Bina mendongak melihat pada pemuda yang melongokan kepalanya pada daun pintu kelasnya, tersenyum menampakan giginya.


"Kenapa kak?" Bina bertanya.


"Masuk aja kak." Bina melambaikan tangannya membuat pemuda itu tersenyum berjalan menghampiri Bina.


"Kenapa nggak ke kantin." Wahyu mengulang pertanyaannya, mendudukan dirinya pada bangku di depan bangku Sila.


"Nggak papa, emang kenapa?" Bina memiringkan kepalanya bertanya.


"Nggak papa, nyariin aja. Nih." Wahyu menyerahkan kresek yang didalamnya terdapat sebotol air minum dan sepotong roti, pemuda itu tersenyum menatap Bina.


Mendapat tatapan itu Bina menunduk, memaksakan dirinya untuk tidak tersenyum juga. Ia tak tau perasaan apa ini, yang pasti, karena perasaan ini membuat ia ingin sekali tersenyum entah karena apa. Ingin sekali Bina rasanya berteriak, memukul-mukul meja dihadapannya, kalau saja tak ada Wahyu disini. Bina memang tak asing dengan perasaan ini, perasaan yang sering ia rasakan ketika menonton adegan romantis dari drama korea yang sering ia tonton, tapi ia tak mengerti. Dan sekarang, dihadapannya tak ada adegan romantis, hanya ada pemuda yang sendari tadi menatapnya dengan senyum.


Hening cukup lama membuat keduanya dilanda kecanggungan.


"Maka..." Ucapan Bina menggantung di udara membuat Wahyu menyerngitkan dahinya.


Pandangan Bina kini tertuju pada pintu masuk kelas, menatap pada Sila yang berdiri diam menatap Bina dan pemuda yang duduk membelakanginya. Bina mengangkat tangannya hendak memanggil Sila, namun gadis itu pergi begitu saja.


"Kenapa dek?" Wahyu menengok kebelakang, tak menemukan siapapun disana. "Dek?" Wahyu kembali memanggil Bina, namun gadis itu hanya diam. Takut, Wahyu berdiri dari duduknya. 'Dek Bina bisa liat hantu ya?' "Kakak pamit ya dek, ada urusan." Bohong, ia hanya beralasan, mungkin saja Bina bisa kesurupan nanti ia akan panggil ustad Ucup untuk menolongnya. "Kalo ada apa-apa telepon kakak." Wahyu mencolek bahu Bina, berjalan pergi meninggalkan gadis itu.


"Eh iya, makasih kak." Bina berucap, tersadar dari lamunannya yang baru saja kembali berfikir tentang Sila.


...


Bel pulang sekolah sudah berbunyi, membuat Bina dan teman-temannya langsung memasukan kembali buku-buku pelajaran yang masih diatas meja ke dalam tas, bersiap untuk pulang. Bahkan guru yang kini masih menulis dipapan tulis disuruh berhenti oleh Apis, sang ketua kelas. Mereka harus tepat waktu, apalagi waktu pulang seperti ini. Peraturan ini bukan peraturan sekolah, namun peraturan kelas yang mereka buat sendiri, karena bukan tidak mungkin bahwa beberapa dari mereka mempunyai urusan yang penting, yang harus dikerjakan setelah pulang sekolah. Sepenting apapun pelajarannya, harus berhenti ketika sudah waktunya.


"Baik, terimakasih untuk hari ini, nanti bapak ajar ini minggu depan saja. Selamat sore hati-hati dijalan." Setelah mengatakan itu sang guru membereskan peralatannya.


Sila bangkit setelah guru pamit keluar tadi, membuat Bina juga ikut berdiri dari duduknya. Walau bagaimanapun Bina harus berbicara dengan Sila.


"Sil tunggu dulu." Bina mencekal lengan Sila ketika melihat gadis itu akan berjalan pergi.


"Kamu kenapa? Bilang dong aku salah apa sama kamu?" Bina menatap lekat pada mata Sila yang juga menatapnya.


"Nggak papa." Sila mengalihkan tatapannya, tak mau menatap Bina.


"Kenapa? Nggak mungkin nggak papa." Bina mengerutkan dahinya, mengencangkan tangannya yang mengenggam tangan Sila, kala gadis itu berusaha melepaskannya.


"Nggak papa, aku bilang nggak papa, ya nggak papa." Sial menekan setiap katanya.


Sedikit kaget dengan nada bicara Sila, namun Bina tak mau menyerah. "Kenapa?" Ia ikut menekan katanya.


"Nggak papa Bina." Sila menarik tangannya hingga terlepas dari cekalan Bina, hendak pergi.


Melihat itu, Bina buru-buru menggapai kembali lengan Sila, menanyakan hal serupa pada gadis itu. "Kamu nggak suka sama aku, atau ada sikapaku yang buat kamu marah? Apa Sila?" Tanyanya.


"AKU NGGAK SUKA LIAT KAMU SAMA KAK WAHYU, AKU SUKA KAK WAHYU. PUAS KAMU?" Sila berteriak dihadapan muka Bina, melepaskan lengannya dari sang empu kemudian berlari menjauh dari sana, meninggalkan Bina, dan beberapa temannya yang melihat mereka.


Bina terkejut sungguh, ia diam tak berkutik ditempatnya. Apa tadi yang Sila bilang? Ia suka Wahyu, kenapa Bina tak pernah tau? Kenapa Sila tak memberi tahunya terlebih dahulu? Kenapa? Bina diam, bertengkar dengan kepalanya yang sudah ramai akan pertanyaan. Apa ia salah lagi? Apa ia berbuat kesalahan lagi? Apa ia menyakiti Sila? Bagian mananya Bina bisa dibilang menyakiti gadis itu? Apa ini bersangkutan dengan perasaan anehnya? Pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa Bina jawab. Apa ia membuat kesalahan lagi?


"Bin."


Sentuhan pada bahunya membuatnya kembali sadar. Teman-temannya yang sendari tadi menjadi penonton perdebatannya dengan Sila, kini mengampirinya.


"Lo pacaran sama kak Wahyu?" Rara menatap Bina. Bina hanya menggelang sebagai jawaban.


"Deket ya sama Wahyu?" Andri berucap, kembali mendapat gelengan dari Bina sebagai jawaban.


"Kenapa?" Bina bertanya, menatap manusia-manusia yang kini menatapnya dengan raut yang tidak bisa dideskripsikan. "Gue nggak tau. Tapi.... gue buat salah lagi ya?" Tanya Bina.


"Kalo lo nya emang nggak salah, minta maaf aja, jelasin ke Sila. Pamit." Andri menepuk pundaknya, pergi diikuti yang anak-anak yang lain. Tersisa ia dan Rara disini.


"Pamit ya Bin, pikirin, nanti aku bantuin ngomong sama Sila." Rara pamit pergi, Bina hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Bina diam pikirannya kembali memunculkan pertanyaan.


"Saya mau bicara." Hingga suara itu membuat ia kembali kedunia nyata.


...ㄟ( ▔, ▔ )ㄏ...