
...O(*≧▽≦)ツ┏━┓...
Bina menatap malas pada jendela yang kini sudah dipenuhi oleh wajah teman-temannya.
"Woy." Bina mengetuk kaca jendela, tepat pada mulut salah satu temannya yang menempel pada benda itu.
Ia sedang bergalau ala-ala anak jaman sekarang, mendengarkan musik yang ia dengar lewat earphone yang menyumbat telinganya, memangku dagu, melihat jendela, membayangkan adegan-adegan drama korea yang sering ia tonton. Namun dengan kurang ajarnya, para penghuni kelasnya malah memenuhi jendela, membuyarkan adegan romantis yang ia buat dalam kepala, menutupi pandangannya dari arah lapangan yang kosong.
"Minggir woy, ganggu aja lo pada." Bina mengetok brutal jendela dihadapannya. Ia lihat manusia-manusia itu sudah melepaskan dirinya dari jendela kini tertawa terbahak.
"Nggak usah sok galau lo, Bin." Andri, salah satu dari manusia-manusia itu berkata, mengetok jendela Bina.
Bina membuka jendelanya, mengulurkan tangannya menggeplak lengan Andri hingga pemuda itu meringis, menghindar, berpindah dari tempatnya.
"Rasain lo." Bina kembali menutup jendelanya ketika melihat Andri mulai mendekat. "Wle nggak kena."
"Awas ae lo."
"Ih atut banet loch." Bina berucap, dengan nada yang ia buat seperti bencong pasar malam.
Dulu Bina kira kelasnya akan menjadi kelas tentram dan damai, kalau di ingat dulu ketika mereka baru saja memasuki sekolah mereka terlihat lugu dan sangat kalem. Namun baru saja mereka mengenal sebulan, mereka sudah mulai berani menunjukan wujud asli mereka, Bina senang namun juga jengkel ketika di keadaan sekarang.
"Woy Erik." Nah ini nih. Rara berteriak memanggil nama yang mungkin paling sering mereka dengar dari mulut Rara, saking seringnya, mungkin hampir setiap hari gadis itu mengumandangkan nama Erik dengan lantang.
"Bangun woy." Rara menampol kepala Erik yang berada diatas meja.
"Ck," Erik berdecak kesal. "Apa sih?" Tanyanya.
"Bayar utang." Rara berkata, bibirnya maju ke depan ketika mengucapkan huruf U.
"Ya Allah Ra, besok." Erik jengkel.
"Besok mulu, kemaren juga lo bilang besok, nanti besok gue tagih lo bilang besok lagi." Perdebatan antara Rara dan Erik kembali berlangsung.
Bina mengalihkan tatapannya pada Sila, gadis itu kini bergabung dengan para gadis penggosip di pojokan kelas, karena Bina ingin suasana yang tenang jadi ia mengusir gadis itu tadi. Di jam kosong pelajaran terakhir gini enaknya Bina menghalu membayangkan ada pangeran berkuda putih yang akan melamarnya. Nggak mau nikah gini, Bina juga mau kalo calon suami nya adalah Min Yoongi, dulu ia juga sempat menerapkan prinsip 'nggak mau nikah, tapi kalo sama Min Yoongi aku mau.' Nggak masalah perbedaan umur mereka jauh, Bina suka om-om, asal itu Min yoongi.
"Bina ayo pulang." Sila berlari ke arah Bina ketika bel pulang sekolah berbunyi.
Membereskan barangnya, Bina bangkit merangkul Sila yang sudah berdiri menunggunya. "Lets go." Ucapnya.
...
"Bina duluan yah, papa udah disana." Sila berdiri dari bangku halte yang ia duduki dengan Bina, menunjuk ke arah mobil sang papa.
Bina mengangguk tersenyum. "Hati-hati."
"Bina juga hati-hati yah." Sila melambaikan tangan yang dibalas Bina, meninggalkan Bina di halte sendirian.
Bina menatap pada mobil Sila yang mulai menghilang tertelan jarak. Tatapannya ia alihkan pada gerbang sekolah yang menampakan banyak siswa-siswi yang keluar entah menggunakan kendaraan atau berjalan kaki.
Bina menghela nafas, melihat kendaraan-kendaraan yang macet ketika di jam-jam segini, jam pulang kantor, dan lagi kendaraan yang keluar dari gerbang sekolahnya ikut memeriahkan kemacetan ini. Pemandangan ini adalah pemandangan yang sudah biasa ia lihat, kejadian yang hampir setiap hari selalu terjadi, selama Bina bersekolah disini.
Bina memicingkan matanya, ketika penglihatannya menangkap motor dan pemiliknya yang begitu familiar. Mengerutkan dahinya melihat perempuan yang duduk di boncengan motor. Pemuda dan vespa biru nya Bina memang mengenalnya, namun perempuan itu ia tidak mengenalnya. Itu bukan si perempuan PMR yang kemarin ia lihat bersama si pemilik motor, tapi gadis yang berbeda. Di atas motor Bina lihat keduanya berbincang, sesekali si perempuan tertawa menutup sebagian wajahnya.
"Ganti pacar?" Bina masih setia mengamati kedua manusia itu.
Masih teringat jelas di kepalanya bagaimana perlakuan Irgi terhadap si perempuan PMR kemarin, Bina tidak ingat namanya, sampai sempat Irgi juga membanggakannya. Namun yang ia lihat berbeda dari apa yang ia bayangkan, tentang Irgi adalah pemuda yang setia terhadap pasangannya, ia kira Irgi adalah seorang yang tidak dengan mudah berganti pasangan.
Bina memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, ia sempat mengingat sesuatu. Apa mereka berdua mengakhiri hungan? Sepertinya terakhir kali Bina melihat mereka, ketika Irgi dan si perempuan PMR berada di ujung koridor, apa mereka bertengkar kala itu? Bina menggelengkan kepalanya.
Kalau mereka berakhir, apa karena dirinya? Irgi juga menolaknya perjodohan mereka bukan? Jika mereka putus kenapa Irgi tidak berusaha mendekatinya saja, bahkan tempo hari Irgi berkata seolah si perempuan PMR kemarin adalah seseorang yang tidak bisa tergantikan posisinya. Lalu apa itu? Yang sedang Bina lihat di atas vespa biru itu. Apa maksudnya Bina yang tidak pantas menggantikan si perempuan PMR, yang pantas adalah gadis itu?
Bina menghela nafas, mengubah tatapannya menjadi datar, menatap pada angkutan umum yang kini berhenti di hadapannya, menutupi pandangannya dari kedua orang itu.
...
Ketukan pintu berhasil membuat Bina yang kini menangis bombay akibat adegan pada layar lepinya, bangkit berdiri. Masih dengan wajah basah penuh air mata, Bina berjalan menuju pintu sedikit mengusap pipinya.
Ketika sudah di hadapan pintu, Bina membuka kunci pintunya, membukanya sedikit dengan melongokan kepalanya.
"Kak." Bina kaget, menegakkan tubuh nya ketika melihat siapa yang kini berdiri di depan pintu kostnya.
"Kamu kenapa?"
Bina meringis melihat pemuda dihadapannya mengerutkan dahi menampakan raut khawatir. Ia buru-buru mengusap wajahnya dengan telapak tangan, tersenyum cerah ia berkata. "Nggak papa kak, nonton drakor tadi. kak Irgi ngapain?" Bina berucap terburu ketika melihat Irgi hampir membuka mulutnya.
"Bawa ini, disuruh mama." Irgi mengangkat paper bag di tangannya.
Bina mengangguk-anggukan kepalanya, menerima uluran benda dari tangan Irgi. "Makasih, mau mampir." Basa-basi Bina.
Irgi mengangguk, "iya," ucapnya.
Bina gelagapan dengan respon Irgi. Kalian tau kan ketika basa-basi namun ditanggapi dengan serius oleh orang yang ditawarkan, rasanya bagaimana. "O, ooh, okee, silahkan." Bina berucap gagap, membuka pintu kostnya dengan pelan, berharap Irgi mengatakan bahwa ia hanya bercanda. Namun pemuda itu malah maju membantu Bina membuka pintunya agar lebih cepat, kemudian nyelonong masuk mendahului Bina.
Bina melongo melihatnya, tindakan Irgi tidak sesuai ekspektasi dalam kelapanya. Tolong Bina harus berbuat apa ini? Bina akhirnya mengikuti Irgi, setelah menutup pintu. Pemuda itu kini sudah melipir ke arah dapur, memilah peralatan makan Bina. Bina hanya memperhatikannya, untung dapurnya kini rapi dan estetik, tidak seperti terakhir pemuda itu ke sini.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pemuda yang sedari tadi Bina perhatikan kini berbalik badan, membawa serta peralatan makan Bina.
"Saya numpang makan ya?" Ucapnya. Bina mengangguk ragu, tanpa keberatan, ia canggung mereka sudah tak berinteraksi selama sebulan.
"Kakak belum makan?" Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Bina, setelah mereka kini duduk menikmati makanan yang Irgi bawa.
Irgi menggeleng, pemuda itu agak menundukkan kepalanya. "Saya dihukum mama." Ucapnya kecil.
Bina mengerutkan dahinya, memiringkan kepalanya menatap Irgi bertanya. Irgi yang melihat itu menunduk, "tadi siang harusnya saya anterin makanan ke kamu, tapi saya lupa," lirihnya.
Bina hanya mengangguk menggumamkan kata 'oh.' Bina melirik kembali pada pemuda yang kini mulai dengan kegiatannya ketika makan, memperhatikan makanan dengan detail. Bina jadi teringat kejadian sore tadi ketika pulang sekolah. Apa ia tanyakan saja pada pemuda ini, tapi ia juga ragu, takut terlalu mencampuri urusan mereka. Lagi pula putus atau tidaknya mereka juga bukan urusan Bina kan? Tapi kepalang penasaran Bina menghela nafas berat. 'Tanya nggak ya.' Bina ragu tapi juga penasaran. Walau bagaimanapun ia tak tau jelas bagaimana hubungan keduanya, namun ia tahu Irgi segitunya pada si perempuan PMR, terlihat ketika pemuda itu mulai membahas sesuatu yang berhubungan dengan sang kekasih.
"Kak Irgi putus?" Bina menghela nafas ketika berhasil mengutarakan pertanyaannya.
Irgi berhenti mengunyah, ia menatap Bina datar, ada pancaran kesedihan dari tatapannya. "Bukan urusan kamu."
Bina menelan ludahnya, nada bicara Irgi yang lembut, saking lembutnya berhasil menusuk Bina dengan lembut pula. Jujur ia takut. Bina menunduk menatap makanannya, ia tak melanjutkan lagi, ia tak berani melihat Irgi.
Irgi bangkit dari duduknya, membuat Bina sedikit kaget tersentak. Pemuda itu berjalan menuju tempat cuci piring, mencuci piring yang ia gunakan tadi. Kegiatannya tak lepas dari pandangan Bina, walau hanya punggung pemuda itu yang terlihat.
"Kamu nggak usah ikut campur urusan saya Bin, saya sudah pernah bilang kan?" Kalimat itu berhasil membuat Bina menegang, sepertinya ia salah telah menanyakan hal itu, jujur ia sangat takut.
"Urus saja urusan kamu sendiri. Kamu nggak perlu tau urusan saya. Kamu juga melakukan hal yang sama kan ke saya?"
Bina sesak nafas, nada bicara Irgi memang tidak dingin atau membentak, namun Bina masih bisa merasakan aura hitam yang keluar dari tubuh pemuda itu. Bina mengangguk-anggukan kepalanya menunduk, benar yang dikatakan Irgi, ia juga punya hal yang ia tidak bisa beritahukan kepada pemuda itu. Pemuda itu juga sama.
"Saya pamit, maaf merepotkan, saya numpang makan disini." Irgi berbalik badan, menatap Bina yang masih menunduk memakan makanannya.
"Assalamualaikum." Irgi berjalan ke arah pintu, keluar setelah mengucapkan salam.
Bina menatap pintu yang menelan pemuda itu dari pandangannya, setelah membalas salam pelan. Ia yakin pemuda itu marah, atau jengkel atau apapun itu pasti karena Bina. Bina menghela nafas, benar itu bukan urusannya.
...(►__◄)...
LIKE!
hehehe lop you