
Sebenarnya aku dan anggun tidak memiliki hubungan, kami hanya sebatas saling mengenal,tidak lebih" jawab Gilang jujur. Terlihat jelas wajah penuh penyesalan.
"Lalu apa yang ingin kau lakukan selanjutnya? Kau ingin membatalkan rencana pernikahan ini? Apa kau tidak memikirkan apa yang dirasakan oleh mama mu, mamanya anggun? betapa kecewanya mereka. Apa pernah kau pikirkan semua itu!!!!" Bentak pak Mansyur.
Gilang kehabisan kata kata. Dia menunduk. Benar yang dikatakan Papanya. Gilang tak membayangkan jika akan seperti ini jadinya. Awalnya dia hanya berpikir, cukup membawa Anggun ke pesta pernikahannya Devan untuk menghentikan Omelan mamanya. Selebihnya tidak pernah terpikirkan sama sekali, apalagi jika sampai ke pelaminan.
"Jawab, apa yang mau kau lakukan? Jangan membuat malu papa." ucap pak Mansur.
Gilang didera rasa bersalah, terbayang wajah bahagia ibunya, mama nya anggun. Hatinya berdenyut kecut. Bagaimana aku tega menyakiti hati mereka!
"Tapi pa, aku dan Anggun sudah sepakat untuk mengakhiri kesalah pahaman ini."
"Terserah lah padamu, Papa cuma mengingatkan. Jangan membuat mama mu sakit untuk yang kedua kalinya." ucap pak Mansur.
"Sekarang keluar lah."
Gilang keluar dengan langkah gontai. Hatinya bimbang antara jujur dan menyakiti mamanya, atau dia bertahan dan melanjutkan ini semua tapi tidak sesuai dengan hatinya.
Gilang berdiri tertegun melihat mamanya asyik berbincang dengan Anggun. Mereka berdua terlihat sangat akrab, bahkan mamanya tertawa bersama dengan gadis itu.
Apa yang telah aku lakukan? aku sudah membuat kesalahan besar dengan membawanya ke keluarga ku , bahkan dia sudah begitu dekat dengan mama. Bagaimana reaksi mama jika aku mengatakan yang sesungguhnya?
Gilang kembali melangkah dan berjalan mendekat. "Ngobrolin apa sih Ma, asyik banget."
"Ini loh Lang, ternyata Anggun ini guru seni. Mama mau belajar menjahit dan menyulam dari dia, kamu tahukan mama suka banget dengan kerajinan tangan, apalagi sulaman."
"Ngapain ribet buat sih Ma, tinggal beli aja kan beres."
"Yaitu kamu yang nggak ngerti seni, Pokoknya jika sudah menikah kalian harus tinggal dengan mama biar mama ada temannya. Mama bahagia sekarang mama punya teman, nanti kami bisa belanja bareng, nyulam bareng, masak bareng, ya kan sayang!"
"I..iya Tante." jawab Anggun.
Anggun menatap Gilang, meminta penjelasan tentang rencana mereka. Namun Gilang diam saja, Anggun berinisiatif untuk memulai nya.
"Tante, sebenarnya maksud kedatangan kami kesini ada sesuatu yang ingin kami bicarakan." ucap Anggun.
"Ada apa nak?" tanya Bu Yanti terlihat serius.
"Maafkan aku sebelumnya, tapi aku mau jujur Tan, tentang hubungan ku dengan Gilang."
Wajah Bu Yanti berubah bingung. Dia menatap Anggun dan Gilang secara bergantian. Sesuatu yang buruk akan terjadi, pikirnya.
"Ada apa ini Lang, jangan buat mama bingung.!' ucapnya dengan wajah pias. Tangannya berkeringat dingin.
Anggun menarik nafas dalam dan menghembuskan ya dengan berat. Dia membulatkan tekadnya sebelum akhirnya bicara.
"Gini Tante sebenarnya kita berdua bohong Tante, soal _"
"Maksud Anggun soal hubungan kami dulu. Sebenarnya dulu aynggun itu musuh Gilang ma. Hubungan kita dulu kurang baik, karena Gilang pernah membully Anggun." potong Gilang.
Anggun menatap Gilang tak percaya, mengapa jadi itu yang di bahas.
"Anggun lah yang melaporkan Gilang kenguru BP hingga dihukum. Anggun takut mama marah jika mengetahui ini dari orang lain, iya itulah yang mau dikatakan Anggun."
"Oh itu, mama kira ada apa. Ya udah mama malah senang kamu berhasil membuat anak nakal ini jera. Waktu itu mama sendiri sudah capek menasehati nya, syukur deh kamu berani melawannya." ucap Bu Yanti antusias.
"Tuh kan sayang, mama nggak marah kan! Kamu nggak percaya sih sama aku." ucap Gilang kearah Anggun.
Sayang, enak aja dia panggil aku sayang!! apa apaan nih dia, katanya mau jujur kok jadi gini sih.
"Ma kami pamit ya ,udah malam. Anggun juga harus pulang ke rumahnya."
Anggun menatap Gilang kembali, namun Gilang menarik tangannya.
"Tapi Lang..." protes anggun
"Besok lagi ngobrolnya ma mama." ucapnya
"Kami pulang dulu ya ma, assalamualaikum." ucap Gilang.
Anggun terus di tarik hingga keluar rumah.
"Lepas, apa apaan ini. Bukan kah kau bilang kita akan jujur, tapi ini apa?" ucap Anggun di depan pintu mobil.
"Nanti kita bicarakan, masih ada mama" bisik Gilang.
Bu Yanti masuk ke dalam rumah setelah mobil mereka tak nampak lagi.
"Lang, jelasin apa maksudnya ini!" ucap Anggun sedikit emosi.
"Akan aku jelasin. Aku membatalkan niat untuk memberitahu mama, karena aku nggak tega buat mama kecewa."
"Tapi itu sama saja kau menerima pernikahan ini." bentak Anggun.
"Aku nggak menerimanya, siapa yang mau menikahi gadis pesek dan sok tahu seperti mu." ucap Gilang.
"Apa kamu bilang, aku juga nggak Sudi menikah dengan pria mesum seperti mu." ucap Anggun.
Gilang kesal dan tersinggung mendengar kata kata Anggun yang menyebutnya mesum.
Dia membelokkan mobilnya dan menepi. Gilang merubah posisinya dan menatap tajam anggun.
"Dengar ya, siapa yang kau sebut mesum, Hah!!! Apa kau tahu, apa itu mesum? atau kau ingin mencobanya, sini biar aku kasih tau!" ucap Gilang marah.
Kata kata mesum itu selalu mengingatkannya pada kejadian waktu itu yang sangat membekas dihatinya. Selain dihukum dia juga menanggung malu.
Gilang maju dan memegang pundak Anggun.
Gilang tersenyum licik, "Aku akan memberitahumu gimana rasanya..."
Gilang memonyongkan bibirnya menunjukkan jika dia ingin mencium anggun.
Anggun panik dan ingin membuka pintu namun sayang Gilang sudah menguncinya.
Anggun terus mundur hingga membentur dinding pintu dan Gilang terus maju menghimpitnya.
"Kau akan melayang, karena ini sangat nikmat" bisik Gilang di telinga anggun. Gilang maju dan mengikis jarak diantara mereka. Wajahnya hanya beberapa senti di depan wajah Anggun, Anggun panik dan ketakutan, wajahnya pucat dan bibirnya gemetar.
"Ampun Lang jangan" ucap Anggun sambil terus berusaha mendorong Gilang dengan sekuat tenaganya. Namun tak sedikitpun Gilang bergeming.
Anggun yang panik dan bingung hanya mampu menangis, kedua tangannya sudah dipegang oleh Gilang dengan kuat, hingga dia tidak bisa berkutik.
Melihat wajah Anggun yang panik membuat Gilang semakin gemas. Anggun sangat cantik jika dilihat sangat dekat.
"Kamu siap sayang" bisik Gilang tepat di depan wajah anggun. Anggun tak menjawab airmatanya turun deras dan dia terisak.
Gilang menjadi iba, dia memang hanya ingin menakuti Anggun.
"Lain kali jangan memancingku, atau aku akan melakukan apa yang kau tuduhkan." ucap Gilang melepaskan tangan Anggun.
Anggun langsung menutup.wajhanya dan duduk menjauh sambil terus menangis.
Gilang bingung mau melakukan apa! muncul rasa bersalah karena telah menakuti Anggun. Dia mengangkat tangannya dan ingin mengusap kepala Anggun namun dia urungkan kembali. Akhirnya Gilang memilih melanjutkan perjalanannya kembali pulang.
Di perjalanan keduanya tampak diam. Anggun enggan berbicara dan Gilang juga masih diliputi rasa bersalah.
Mobil telah sampai di depan rumah anggun.
"Maafkan aku." ucap Gilang.
Anggun diam tak bergeming. Dan Gilang juga belum membuka kan kunci mobilnya.
"Nggun, maafkan aku bukan maksud ku untuk..."
"Buka kuncinya!" potong Anggun.
"Tunggu aku mau bicara. Dengarkan, aku tak bermaksud memaksa mu, aku tadi hanya bercanda.
Masalah kita, aku tak sampai hati mengatakan nya kepada mama , mama sudah begitu bersemangat dan aku takut dia kecewa dan sedih. Coba kau lihat ibumu, dia juga melakukan hal yang sama seperti ibuku. Ibuku dan ibumu sangat bahagia, bagaimana aku bisa mengatakan jika ini semua bohong.
Aku tak bisa membayangkan betapa hancurnya hati mereka.
Sebaiknya kita pikirkan cara lain."
Keduanya terdiam dan suasana menjadi hening. Gilang memulai kembali percakapan.
"Apa kau punya pacar?" tanya Gilang.
Anggun menatap nya tajam, Gilang terkekeh..
"Maaf..tapi aku yakin kau tidak punya pacar, jika kau punya pacar, pasti udah kau bawa menemui ibumu. Maaf!!!" ucap Gilang dengan wajah berpura pura sedih. Disertai tawa diakhir ucapannya.
Sungguh menyebalkan, bathin Anggun.
"Besok kita akan membicarakan nya lagi. Besok pagi pagi aku jemput." ucap Gilang.
"Pagi pagi mau kemana?" tanya Anggun bingung.
"Mengambil motormu." jawab Gilang.
"Sekarang turunlah, sampaikan salam ku pada orangtua mu."
Anggun turun dan Gilang melajukan mobilnya dengan kencang.
Anggun berjalan gontai memasuki pekarangan rumahnya. Dia siap membuka pintu, sayup sayup dia mendengar obrolan papa dan mamanya.
"Pa, mama sangat bahagia. Allah sudah mendengar doa doa mama."
"Memangnya apa yang mama doakan!"
"Mama selalu berdoa agar anak kita segera berjodoh, mama capek pa kadi bahan ejekan ini ibu kompleks. Mereka selalu menghina putriku kita. Jadi pas mama tahu anggun punya pacar, mama sangat bahagia. Mama sangat bersyukur pa."
Anggun semakin lemas mendengar ucapan ibunya. Begitu dalam keinginan ibunya untuk segera menikahkan nya..
"Pa, kita dapat bonus ya pa."
"Bonus apa ma?" tanya pak Jamal.
"Ya Bonus pa,mantu kita ganteng, mapan lagi."
Anggun semakin lemas mendengarnya.
Tok...tok.. assalamualaikum"ucap anggun
"Waalaikum salam, loh nak Gilang nya mana?" tanya mama melihat ke kiri dan kanan.
"Sudah pulang ma, kok mama tahu aku sama Gilang?"
"Tadi besan yang ngabarin katanya Gilang bawa kamu ke rumah nya."
"Anggun masuk dulu ya ma. capek "
"Ya sudah, sana buruan mandi." usir Bu Dewi