
Anggun tak bisa tidur memikirkan ucapan mamanya. Sejak perdebatan mereka tadi sore, anggun tak lagi melihat mamanya.
Papanya lagi diluar kota saat ini. Anggun kembali masuk ke dalam kamarnya setelah makan malam sendirian.
Kalimat yang diucapkan mamanya kembali terngiang, cari pacar dalam satu bulan, mana mungkin. Atau aku terima saja perjodohan dari mama. Dan aku nggak perlu repot mencari lagi. Tapi gimana jika orangnya sangar, gendut dan tua!!!
Haaaaaaah.....anggun berteriak di dalam hatinya.
Atau aku terima saja tawaran Linda. Mungkin aku bisa saling kenal terlebih dahulu, dan aku akan mengenalkannya ke mama. Jadi mama nggak perlu lagi sibuk mencarikan ku jodoh. Tapi....
Pusiiiiiiiing!!!!
Anggun mengambil ponselnya diatas nakas dan menelpon Linda.
"Assalamualaikum" ucapnya saat panggilan tersambung.
"Waalaikum salam, ada apa nggun?" ucap Linda.
"Lagi sibuk nggak?"
"Nggak, jika dah tidur dan mas Haris lagi memeriksa kerjaannya. Ada apa?" tanya Linda.
"Kayaknya aku mau deh di kenalin ma teman suami mu." ucap Anggun.
"Oh itu, kirain da apa. Ya udah besok jangan lupa datang jam lima ya. Oh ya, dandan yang cantik ya!" goda Linda.
"Makasih ya. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam." panggilan terputus.
Linda meletakkan ponselnya dan menemui suaminya yang duduk di ruang tamu memeriksa tugasnya.
"Mas." panggilnya.
"Hem.."
"Mas, temen mas si Fikri dah punya pacar belom?" tanya Linda.
Haris meletakkan berkasnya dan menatap aneh kearah istrinya.
"Gilang maksud mu?" tanya Haris meyakinkan pertanyaan istrinya
"Iya, Gilang Fikri Ramadhan."
"Kenapa kau menanyakannya?"
Linda memilih duduk di samping suaminya. "Itu loh mas, kalau dia belum punya pacar, aku mau mengenalkan nya dengan Anggun. Kan cocok mas, satu ganteng satu cantik, ya kan?
"Kamu yakin? kamu tahu sendiri kan jika Gilang itu ketus dan dingin. Takutnya nanti teman kamu nggak kuat, malah di maki sama dia."
"Aku cuma mau ngenalin aja mas, selebihnya terserah mereka berdua. Besok paksa dia datang ya mas."
"Besok?"
"Iya, besok ulang tahun Akila paksa dia datang karena aku juga mengundang Anggun."
"Tapi mas nggak setuju kamu jodohin mete berdua. Nanti kalau ada apa apa kita yang kena."
"Aku janji nggak bakalan mas. Ok , makasih mas." ucap Linda.
...****************...
Anggun bangun pagi dan dia akhirnya menuruti kemauan ibunya yaitu mengantarkannya undangan ke tempat sahabatnya Tante Mila.
Nama yang sama dengan teman satu sekolahnya yang nyebelin.
Anggun menggunakan gamis panjang berwarna Wardah, ibunya juga mengunakan gamis hanya saja berwarna navy.
Lagi lagi dirinya yang menjadi bahan pembicaraan disana. Semua teman mamanya menanyakan kapan dia menikah. Anggun hanya tersenyum menanggapinya tapi tidak dengan mamanya.
Anggun sempat mendengar bisikan Seseorang yang membicarakan dirinya di belakang.
"Siapa yang mau coba, hijabnya panjang gitu, dan dia juga seorang PNS, pasti dia pemilih dan memilih lelaki yang kaya yang sederajat dengannya." ucap salah satu ibu ibu disana.
"Bener Bu. Atau mungkin ada yang dia tutupin di balik jilbab nya itu, bisa jadikan!"
Anggun berjalan keluar ruangan. Dia duduk dan menatap keatas. Matanya berkaca kaca. Anggun berusaha agar airmatanya tak lolos dan jatuh ke bawah.
Orang orang menilai rendah diri nya. Kata kata mereka sangat menyakiti hatinya. Apa salahnya jika dia belum juga berjodoh. Lantas mengapa mereka membawa bawa jilbabku?
Setelah beberapa menit dia kembali ke dalam dan mengajak ibunya pulang.
"Nggun", panggil ibunya setelah sampai di rumah.
"Kamu kenapa nak?"
"Anggun nggak apa apa Ma. Oh ya, anggun mau ke rumah Linda, Akila ulang tahun."
"Kamu dengar ucapan ibu ibu tadi kan? Mama juga sedih nak, makanya mama ingin sekali melihat mu segera menikah. Agar mama bisa menghentikan ocehan mereka."
"Iya Bu. Anggun berangkat dulu ma. Assalamualaikum."
Anggun segera membawa beat kesayangan nya menuju rumah Linda. Tak lupa dia membeli kado boneka Barbie kesukaan Akila.
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam..Eh kamu sudah dapat bg. wah cantiknya " goda linda.
"Biasa aja, tadi habis menenin mama undangan." jawab anggun.
"Masuk yuk, acaranya satu jam lagi. Kamu bantu bantu di dalam ya."
Anggun membantu Linda menyiapkan pesta. Keceriaan Akila membuatnya melupakan sedikit kesedihan hatinya. Hingga acara selesai Gilang belum juga menampakkan batang hidungnya.
Linda terlihat kecewa dan menatap suaminya. Haris hanya bisa menggedikkan bahunya. Dia sudah mengundang Gilang, tapi Gilang datang atau tidak dia tak bisa memaksa.
Jam tujuh malam Anggun pamit pulang. Sebenarnya Linda dan suaminya berniat mengantarkan nya namun anggun bersikeras pulang sendiri. "Masih sore, jalanan masih ramai" ucapnya.
Anggun melajukan motor Beatnya menuju ke rumah ya. Didepan terjadi kemacetan, dan dia bertanya kepada orang disekitar katanya telah terjadi kecelakaan. Anggun yang ingin cepat pulang ke rumah, memutar arah motornya. Dia memilih jalan pintas namun agak sunyi karena melewati daerah perkebunan.
"Masih sore lagian malam Minggu pasti ramai." bathinnya.
Ditengah jalan dia berpapasan dengan sepeda motor yang di kendarai dua orang pria. Baru beberapa meter mereka berbalik dan memotong arah jalan anggun.
"Malam cantik!" ucap salah satu pria yang bertato.
"Kita beruntung banget malam ini, ayo bawa dia." ucap pria yang masih duduk diatas kereta
"Ka..kalian mau apa?" ucap anggun terbata.
"Kami...mau apa? bukan kami sayang, tapi kita." ucap salah satunya.
Anggun berteriak dan meminta tolong, namun jalanan sunyi, hingga tak seorang pun yang akan datang menolongnya.
"Tolong....tolong..." teriak anggun.
"Tenanglah sayang, kami akan membuatmu senang. Ayo kita bersenang senang malam ini " ucap seorang pria.
"Aku yang paling dulu, kalian berjaga di depan dan tarik sepeda motor gadis ini." ucap salah seorang mungkin dia adalah bos mereka.
"Kenapa kau yang duluan, dan ak yang berjaga?"
"Jangan ribut kita akan menikmatinya bersama. " ucap pria yang memegang tangan dan membekap mulut anggun.
Dia menjatuhkan anggun di tanah dan segera menindih tubuhnya.
"Tolong....tolong...." ucap anggun yang terus berusaha menyelamatkan dirinya.
'Tak akan ada yang akan menolong mu sayang,"
Pria tersebut menarik jilbab anggun hingga terbuka dan membuangnya.
"Kamu sangat cantik sayang, hahaha"
Pria itu coba mencium bibir anggun namun anggun terus berontak, karena kesal dia menampar anggun. Namun anggun tak menyerah dia terus berusaha.
"Ya allah tolong lah hamba mu ini ya Allah, lebih baik aku mati dari pada harus menanggung aib sepanjang hidupku."
Gilang yang baru pulang kerja juga memutar karena menghindari kemacetan.
Ditengah jalan dia merasa sesak buang air kecil dan berhenti di pinggir jalan kemudian berjalan masuk ke perkebunan karet.
Samar samar dia mendengar seseorang yang berteriak minta tolong.
Apa aku salah dengar atau ini hantu yang menakuti ku?" bathinnya.
Gilang kembali berjalan kearah motornya, dia kembali mendengar teriakan berasal dari semak sebelah kanan. Rasa penasaran membuatnya berjalan mendekat, dilihat nya seorang pria mendorong sebuah motor matic kearah perkebunan.
Apa dia begal, tapi kenapa ada yang minta tolong, jangan jangan.
Gilang segera mendekat dan menendang pria tersebut hingga tersungkur ketanah. Tanpa memberi kesempatan dia kembali menghajar nya hingga tak bisa bangkit. Dari belakang pohon. dia dapat melihat satu orang lagi yang coba menodai seorang gadis.
Gilang menariknya dan memukul pria tersebut. Kemudian dia menghajarnya hingga pria itu tak bisa bangkit lagi.
Gilang melihat seorang gadis terisak dan ketakutan. Pakaiannya sudah robek dan tubuhnya juga kotor.
Gilang mengulurkan tangannya, namun sang gadis tetap meringkuk ketakutan. Gilang meraih tangannya dan menariknya.
"Ayo kita pergi dari tempat ini. Sebelum kawanan mereka datang." Gilang membuka jaketnya dan memakai kannya pada gadis tersebut. Dia menarik Anggun hingga ke motornya.
Gilang menelpon petugas keamanan perkebunan dan meminta mereka membawa motor anggun dan mengamankannya. Juga meminta melaporkan kepada polisi.
Namun anggun mencegahnya."Tolong jangan, terima kasih karena telah menolongku." ucap anggun
Gilang membonceng anggun dengan Honda CBR nya, anggun yang menggunakan gamis kerepotan untuk naik.
Gilang balik arah dan membawanya ke komplek perusahaan. Dia kembali ke rumah dinasnya.
"Kenapa kesini?" tanya anggun bingung.
"Lihat pakaianmu, nanti orangtuamu pikir aku yang telah melakukannya padamu. Masuklah akan aku Carikan pakaian untuk mu" ucapnya.
Anggun masuk, rumahnya sama dengan rumah Linda. Hanya berbeda blok aja.
"Disana kamar mandinya, pakai ini saja, " ucap Gilang menyerahkan kaos panjang dan celana training.
Anggun membersihkan dirinya, rasa takut, dan gemetar masih jelas terasa. Namun sebisa mungkin dia menetralkan hatinya. Dia akan berterima kasih kepada pria ini, pria yang sudah menyelamatkannya.
Anggun mengenakan pakaian yang di pinjamkan pria tersebut. Tak mungkin dia memakai pakaiannya lagi karena robek dan kotor.
"Dimana rumah mu, aku akan mengantarkan mu pulang." ucap Gilang.
Dia masih sibuk menatap layar ponselnya.
"Aku tinggal di daerah X , makasih karena telah menolongku." ucap anggun.
Anggun mengangkat wajahnya dan menatap wajah pria yang telah menolongnya. Gilang juga menatap anggun, kini baru jelas terlihat wajah anggun yang sebenernya. Tadi tubuhnya kotor dan kacau.
Keduanya sama sama terkejut, dan membulatkan matanya.
"Kau pria mesum!!!"
"Kau gadis kampung!!!"
Ucap mereka bersamaan sambil menujuk satu sama lain.
Gilang mendesah kecewa. "Tau gitu aku biarin kamu tadi disana. Biar tahu rasa kamu." ucapnya marah.
Anggun menyilangkan tangannya didepan dadanya. Menunjukkan seolah olah dia takut kepada Gilang.
"Hahaha..gue nggak selera sama loe.
Kau tahukan siapa aku, dada rata sama tubuh kurus gitu siapa yang selera. Buruan, aku antar kau pulang. Ingat kau punya dua hutang padaku!".
"Kok dua?"
"Dulu kau buat aku di skor dan di hukum oleh orangtuaku. Dan kini kau hutang karena aku telah menyelamatkan mu."
"Lalu kau mau apa?"
"Aku...akan menagihnya nanti tidak sekarang." ucap Gilang. Senyum licik tampak jelas di wajahnya.
"Jangan macam macam!" ucap anggun waspada. Karena dia kenal betul pria licik dihadapannya ini.
"Sudah aku bilang, kau bukan seleraku." ucapnya.
"Aku boleh pinjam taplak mejanya?" tanya anggun. Menunjuk kain penutup meja Gilang.
"Taplak meja, untuk apa?"
"Aku tidak bisa keluar tanpa menggunakan jilbab." ucap Anggun.
Gilang masuk ke dalam mengambil kain bermotif dan memberikannya. "Itu ikat kepala ku saat aku naik gunung. Jangan lupa kembalikan" ucapnya ketus.
Anggun segera menggunakannya sebagai jilbab.
Kemudian Gilang keluar dan mengantarkan anggun menggunakan motornya.
Apa kisah antara anggun dan Gilang dimasa lalu???? Tunggu di episode berikutnya.
Bantu like vote dan koin seikhlasnya