
Triiiiing......
Jam weker pun berbunyi. Seorang gadis bangun dari tidurnya. Duduk dan menggeliat sebentar melonggarkan otot ototnya. Bangkit dari tempat tidur setelah menemukan nyawanya sepenuhnya dan segera berlalu ke kamar mandi.
Lima belas menit kemudian dia keluar dengan rambut basah, wajah segar, tubuh yang wangi. Wangi aroma mawar menguak lembut memenuhi ruangan kamarnya.
Setelah memakai pakaiannya dia segera melaksanakan kewajibannya sebagai muslim yaitu sholat subuh.
Nama gadis itu adalah Adelia Anggun, biasa di panggil Bu anggun. Dia adalah seorang guru di sebuah SMK Negeri di kota nya.
Anggun gadis yang beruntung karena dia langsung mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah. Saat itu ada penerimaan CPNS dan dia ikut melamar, ternyata nasib baik berpihak padanya dia lulus dan menjadi PNS diusianya yang masih sangat muda.
Anggun segera mengenakan seragam kerjanya tak lupa dia memakai hijab. Sejak kuliah anggun sudah terbiasa menggunakan hijab tidak hanya di kampus tapi dalam juga kesehariannya di dalam rumah.
"Pagi ma.." sapa anggun pada mamanya yang tengah menyiapkan sarapan pagi.
"Pagi sayang, kamu masuk hari ini?" tanya mamanya yang bernama Dewi.
"iya ma, hari ini ada jam sekaligus ada rapat dewan guru untuk persiapan UAS kelas dua belas." jawab Anggun.
Anggun duduk di meja makan, ibunya datang dan meletakkan sepiring penuh nasi goreng. Anggun mengambil piringnya dan menyendokkan nasi goreng ke piring nya.
"Nggun, besok mama mau undangan ke rumah teman mama di Siantar, ikut ya. Kamu nemenin mama." ucap Bu Dewi
"Kok sama Anggun sih ma, sama papa aja ya, lagian anggun juga banyak tugas." tolak Anggun.
"Papa nggak bisa sayang, besok papa ada urusan kantor yang harus di selesaikan. Lagipula kamu kan libur tiap sabtu, ya udah kamu aja yang nemenin mama." bujuk Bu Dewi
"Nggak mau ma, mama kan bisa pergi sendiri."
"Lokasinya jauh dan nggak ada angkot kesana. Masak iya mama jalan kaki, dah cantik cantik tapi bau keringat kan nggak lucu. jika mama nggak datang malu donk ma Tante Mila, dia kan sahabat dekat mama. Pokoknya besok kamu harus temenin mama." ucap Bu Dewi.
anggun menyelesaikan suapan terakhir ya dan meletakkan sendok di tangannya. Meraih gelas teh manis dan meminumnya.
"Nanti kita bahas lagi, Anggun berangkat dulu ya ma. assalamualaikum." ucap anggun menyalin tangan mamanya.
"Waalaikum salam warahmatullah..." jawab Bu Dewi.
Besok adalah acara pernikahan anak teman Dewi, dia ingin mengajak anggun dan mengenalkannya dengan anak sahabatnya. " Semoga berjodoh, amiiin." ucapnya sebelum menutup pintu rumah.
Dewi berjalan ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.
Anggun berangkat ke kantor dengan Honda beat putih kesayangannya. Tak lupa anggun memakai helm untuk keselamatan dirinya di dalam perjalanannya.
Jarak antara rumahnya dengan tempatnya mengajar tidak begitu jauh sekitar 7 kilometer dan sekitar dua puluh menit jika mengendarai sepeda motor.
Anggun membelokkan sepeda motornya ke sebuah bangunan sekolah SMK negeri, tempat dimana dirinya melaksanakan tugasnya sebagai seorang guru.
Anggun telah sampai dan memarkirkan sepeda motor nya di tempat biasanya. Dan berjalan ke kantor.
Di dalam kantor sudah ramai teman temannya yang lain yang sudah hadir lebih dulu.
"Wah panjang umur nih, yang diomongin sudah datang, Nggun ini undangan dari mantan kamu, dia mau nikah? jangan nggak datang ya, " ucap Mila salah seorang guru, rekan kerjanya.
"Siapa Bu" tanya anggun bingung.
Mila memberikan undangan yang bertuliskan nama Devan disana. Hatinya tercubit namun segera dia menguasai dirinya dan menetralkan wajahnya.
"Devan bukan mantan saya Bu. Ibu salah sangka." bantahnya.
"Nggak usah bohong deh, ibu tahu kamu belum move on kan, setelah putus dengan Devan. buktinya hingga sekarang kau juga belum punya pacar." ucap Mila.
Linda datang dan menghampiri Anggun. "Bu Mila kalau bicara di pikir dulu, anggun dan Devan tidak pernah punya hubungan spesial." bantahnya.
"Terserah deh, yang saya tahu kamu masih mencintai keponakan saya, ya kan? makanya kamu belum juga menikah."
Kalimat terakhir Mila sangat menyakiti hati anggun. Devan memang pernah mendekatinya dan anggun menolaknya karena dia tahu Devan seorang playboy. Walau Devan sudah mapan tapi sikapnya tak membuat anggun merasa bersimpati. Bahkan pertemuan terakhir mereka menyisakan trauma bagi anggun.
"Ya sudah saya mau membagi undangan buat yang lain." ucap Mila meninggalkan anggun dan Linda.
Belum jauh Mila berjalan dia kembali berucap, "buktikan jika kau benar sudah move on, bawa pacar kamu ke pesta pernikahan Devan. Saya tunggu." ucap Mila tersenyum sinis.
"Sabar nggun, dia cuma kesal karena kau menolak keponakannya." ucap Linda.
"Terus gimana ini, dengan siapa aku akan datang ke sana. Kamu kan tahu aku nggak punya pacar." ucap anggun sedih.
"Mana acaranya malam Minggu lagi, aku cari pacar dimana?"
"Di pasar banyak di jual nggun. Kali aja ada yg cocok buat dijadiin gandengan". Goda Linda.
"Maksud Lo kambing? tega benar Lo ya, masak aku gandengan ma kambing nggak deh." ucap anggun.
Linda tergelak mendengar ucapan anggun.
Sementara Anggun melamun memikirkan ucapan Mila.
Jika aku hadir tanpa membawa pasangan, makin jadi bulan bulanan Bu Mila aku. Tapi
dengan siapa aku akan pergi?
Bell berbunyi dan anak anak masuk ke dalam kelas. Anggun mengambil buku pelajaran dan masuk ke dalam kelas untuk mengajar.
Pikirannya berkecamuk mengingat ucapan mamanya dan juga ucapan Bu Mila.