
Hari yang di lalui oleh anggun sama seperti hari hari biasanya. Bangun pagi berangkat kerja dan kembali kerumah. Rutinitas yang cukup padat membuatnya melupakan pertemuannya dengan Gilang.
Hingga pada hari Jumat, saat dia pulang dari tempat kerjanya. Anggun melihat sebuah mobil Rush berwarna putih terparkir di depan rumahnya. Anggun penasaran, siapa yang bertamu ke rumah mereka.
"Assalamualaikum," anggun mengucapkan salam.
"Waalaikum salam, lah ini orangnya sudah pulang." ucap Bu Dewi
"Ibu?" ucap anggun menatap tak percaya ke arah Bu Yanti.
"Gimana kabar mu sayang? Ibu nungguin kamu datang kerumah, tapi kelamaan kalau sampai hari Minggu, jadi ibu dan bapak langsung saja datang kesini Oh ya, ini suami ibu, ayahnya Gilang, ganteng kan sama seperti anaknya!" canda Bu Yanti.
Anggun maju dan menyalim tangan Bu Yanti dan papa nya Gilang yang belum dia ketahui namanya.
"Gini loh nak, maksud kedatangan ibu kesini, ibu mau silaturahmi dengan orang tuamu sekaligus membicarakan pernikahan kalian. Ibu sudah cocok dengan mu dan ibu pikir nggak ada salahnya niat baik disegerakan."
"Tunggu, maksud ibu apa? saya masih belum paham."
"Bu Yanti ini datang mau melamar kamu loh, kamu kok jadi bego gitu sih." ucap Bu Dewi.
"Hah!!!!' anggun sampai terbengong melihatnya.
"Iya nak, Gilang nggak pernah bawa cewek ke rumah, jadi pas semalam dia bawa kamu, ibu yakin dia serius dengan hubungan kalian. Lagipula usia kalian sudah sangat cocok untuk menjalin hubungan yang serius. Ibu rasa dia juga sangat cocok dengan mu, ya kan Bu!" ucap Bu Yanti.
"Saya mah ikut aja Bu." jawab Bu Dewi.
"Tapi Bu"
"Rencana hari Minggu lamaran dan awal bulan depan menikah? ya kan Bu." ucap Bu Yanti memotong pembicaraan anggun.
Anggun menarik nafas dalam, sebelum akhirnya dia bersuara.
"Apa Gilang tahu Bu?" tanya anggun akhirnya.
"Belum, ibu akan mengatakan sepulang dari sini, tapi ibu yakin dia pasti setuju. Kalau nunggu Gilang yang ngomong, kelamaan kamu keburu diambil orang." ucap Bu Yanti
Hancur sudah semua nya. Anggun bingung nggak tahu harus bicara apa lagi. Bagiamana mungkin dia menikah dengan orang yang membencinya.
Menikah dengan Gilang, tak pernah terbesit sedikitpun dihatinya, bagaimana aku membatalkan niat mereka. Ibu dan Bu Yanti terlihat begitu bersemangat. Aku harus memberitahu Gilang masalah ini, ya aku akan menelponnya.
"Bu, saya ke dalam dulu ya."
"Silahkan nak," ucap ibu dan Bu Yanti bersamaan.
"Saya sangat menyukai anggun, dia sangat cocok untuk anak saya. ibu jangan khawatir anak saya juga ganteng Bu. Dan dia juga sudah memiliki pekerjaan."
"Iya saya tahu, yang kemaren jemput anggun kan? saya sih setuju aja, ya kan pa! ucap Bu Dewi kepada suaminya pak Jamal.
"Saya ikut aja gimana baiknya Bu," jawab pak Jamal
"Kalau gitu kami datang lagi hari Minggu depan. Sampai ketemu ya jeng, saya buru buru nih mau kasih kejutan tuk Gilang." ucap Bu Yanti.
'Hati hati di jalan ya Bu.
"Anggun... ini Bu Yanti mau pulang."
Anggun keluar dan menyalim tangan calon mertuanya.
"Mama pulang dulu ya." ucapnya ke anggun.
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam." jawab anggun dan ibunya.
Dari rumah anggun Bu Yanti dan suaminya Langsung menemui putra ya di rumahnya. Gilang belum pulang kerja terpaksa mereka menunggu
Gilang masuk ke dalam rumah, dia tahu jika ayah dan ibunya datang dari mobil yang ada di pekarangan rumahnya
"Kamu sudah pulang?"
"Sudah lama, ma?" tanya Gilang.
"Mama sudah dua jam menunggu mu. Sini duduk, ada yang mau mana bicarakan."
Gilang duduk di sofa berhadapan dengan mamanya.
"Mama dan papa sudah memutuskan, hari Minggu kita akan kerumah anggun dan melamarnya."
Kalimat ibunya membuat leher Gilang terasa tercekik, Gilang terkejut bahkan gelas di Tangannya jatuh.
"Mana apa apaan? Aku nggak mau!" protes Gilang.
"Mama nggak minta pendapat kamu, dan lamaran mama juga sudah di terima. Ingat hari Minggu?"
"Mama kenapa main lamar aja? nggak bisa gitu donk ma, bahkan mama tak menanyakannya dulu padaku, pokoknya aku nggak mau!"
"Mama kesini nggak mau berdebat, kamu harus datang hari Minggu ke rumah karena lamaran nya bakda juhur. Setuju atau tidak, mama akan tetap menikahkan mu dengannya. Jika kamu menolak, mana akan bunuh diri dan kau akan di coret dari kartu keluarga." ancam mamanya.
"Kenapa tiba tiba gini sih?"
"Umur kamu sudah banyak Lang, apalagi yang kamu cari. Apa kamu masih memikirkan wanita murahan itu?"
"Tidak!"
"Kalau gitu ya sudah, ayo pa kita pulang." ucap Bu Yanti.
"Papa rasa dia gadis yang baik dan cocok untuk mu." ucap papanya.
Papa dan mama nya pulang sedangkan hilang masih duduk termenung di kursinya, bingung mau bilang apa!
Telpon di pesek, ya aku telpon aja dia.
Gang merogoh sakunya dan mencari kontak Anggun.
Derrrt....derrrrt...
Tiga kali panggilan belum juga diangkat, kemana sih ni anak, omel Gilang.
Akhirnya Gilang memutuskan untuk menemui Adel langsung di rumahnya.
Gilang melajukan motornya kencang menuju rumah anggun. Tak butuh waktu lama, dia sudah tiba di depan rumah gadis mungil itu.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam" jawab Bu Dewi.
"Eh..nak Gilang. Nyari in anggun ya, anggun nya tadi katanya ke sekolah sebentar, tapi kok sampe sekarang belum juga pulang, mana handpone nya ketinggalan lagi."
"Ya udah Gilang susul ke sana aja Bu, Diman sekolahnya?"
"SMk Negeri 1, nak Gilang tahu kan?"
"Iya saya tahu Bu. Saya pamit dulu ya Bu. Assalamualaikum."
Gilang berlalu meninggalkan Bu Dewi. Dan kembali melajukan motornya menuju sekolah anggun.
Didepan gerbang dia bertanya kepada satpam sekolah.
"Masuk saja, Bu anggun ada di dalam."
Gilang masuk dan memperhatikan sekolah tempat anggun bekerja. Sudah sunyi, karena hari juga sudah sore. Gilang menyusuri lorong dan mencari keberadaan anggun. Dia melihat sebuah ruangan yang terbuka. Dia mengintip dari jendela.
Ternyata orang yang dia cari ada disana. Anggun dan beberapa anak murid perempuan tampak asyik menjahit. Mungkin anggun mengajar les private. Anggun tak mengetahui jika Gilang datang, Gilang pun tak memanggilnya dia begitu terpesona melihat anggun dengan luwesnya mengajar murid muridnya.
Lima belas menit kemudian anggun selesai dan siswi nya pulang. Dia juga membereskan barang barangnya dan bersiap pulang.
Anggun mengunci pintu dikagetkan dengan suara panggilan Gilang.
"Pesek!"
"Hah siapa yang memanggil ku, nggak mungkin kan si mesum itu." guman anggun.
"Apa kau bilang?" ucap Gilang marah, karena anggun memanggilnya pria mesum.
"Ada apa mencariku? bukan kah urusan kita sudah selesai?" ucap anggun tenang.
"Apa yang kau katakan pada ibuku, dia begitu bersemangat untuk melamar mu."
"Aku tidak mengatakan apapun, justru ibumu yang datang ke rumah ku."
"Kenapa kau tidak menolak?"
"Aku sudah menolaknya, tapi ibumu yang begitu bersemangat tak memberikan ku kesempatan. Mengapa bukan kau saja yang menolak, kau kan anaknya, katakan jika kau sudah punya pacar, bereskan!!"
Gilang menarik tangan anggun, " Eh kau mau membawaku kemana? aku mau pulang, lepaskan?"
"Kita akan membahas masalah ini, tapi bukan disini. Kau ikut denganku?"
"Tapi aku bawa motor!"
"Tinggal saja."
Gilang terus menyeret tangan anggun tanpa ampun.
"Naik?" ucapnya.
Anggun naik ke atas motor Gilang. Untung saja hati ini dia memakai celana panjang dan kemeja.
Gilang melajukan motornya kencang,
"Pak nitip motor Bu anggun." ucapnya kepada satpam sekolah.
Pak satpam mengangguk dan tersenyum. "Dasar anak muda."
"Pegangan" ucap Gilang. Dia membawa anggun kesebuah kafe yang letaknya jauh. kafe yang sunyi dan nyaman. Cocok buat orang yang sedang berpacaran.
"Turun."
"Iya. Iya ini juga mau turun." ucap anggun sewot.
Anggun mengikuti langkah Gilang masuk. keatas bangunan..Ternyata lantai atas jauh lebih indah dan menarik. Apalagi jika malam hari.
"Mau pesan apa?" tanya nya pada anggun.
"Lemon tea."
"Mbak" panggil Gilang kepada pelayan.
"Kopi pahit satu, lemon tea satu. Kentang goreng 2." ucap Gilang
"Udah itu aja mas." tanya pelayan.
"Iya." jawab Gilang.
"Kita harus membatalkan pernikahan ini." kalimat pertama Gilang.
"Setuju" jawab anggun.
aku juga nggak mau menghabiskan hidupku dengan pria seperti mu.
"Terus caranya?" tanya anggun.
"Aku akan bilang kepada orangtua ku dan kau bilang kepada orang tua mu." ucap Gilang.
"Apa kau sudah mengatakannya kepada ibumu?" tanya anggun santai.
"Ya"
"Lalu apa jawaban ibumu?"
"Dia menolak dan tetap pada pendiriannya." jawab Gilang.
"Lah itu kamu tahu. Jadi kenapa masih pakai cara yang nggak masuk akal gitu. Sebaiknya kau pikirkan cara yang lain!"
"Bilang saja kau punya pacar?" ucap Gilang.
"Kok aku terus sih, semua masalah ini kan bermula dari kamu. Jika kayu nggak mengajak aku ke pesta pernikahan Devan, ini tak akan mungkin terjadi."
"Kenapa kamu nggak bawa pacar kamu aja sih, kan gampang. Tinggal bilang kita ini bohong. Dan kenalkan pacarmu kepada ibumu."
"Masalahnya aku....." Gilang berhenti nggak melanjutkan kalimatnya.
"Apa? nggak punya pacar?" ucap anggun tersenyum mengejek.
"Play boy seperti mu, bisa juga kehabisan stok pacar, hahaaha." Anggun semakin mentertawakannya.
"Aku bukan kehabisan stok, jika aku mau banyak gadis berjajar rapi menunggu ku." ucapnya sombong.
"Ya sudah, simpel kan tinggal pilih satu diantara mereka. Kenapa kamu pusing."
"Masalah aku yang nggak mau." jawab Gilang.
Pelayan datang dan membawakan minuman, menghentikan perdebatan mereka.
Setelah pelayan pergi. Gilang melanjutkan ucapannya.
"Gini aja, kita temui ibuku dan bilang bahwa semua ini bohong, kita nggak pacaran."
"Ok , aku setuju." jawab anggun.
"Ya sudah dari sini kita langsung ke rumah ibuku." ucap Gilang bersemangat.
" Bisa nggak kita sholat dulu, ini sudah waktunya sholat ashar."
"Ya sudah silahkan." jawab Gilang.
"Kamu nggak sholat?" tanya anggun
Pertanyaan anggun membuat Gilang tertegun. Baru ini ada cewek yang menanyakan sholatnya.
"Kok malah bengong sih, sholat itu wajib Lang."
"Udah kamu aja yang sholat, aku tunggu disini. Jangan lupa berdoa agar rencana kita berhasil." jawab Gilang.
Anggun beranjak dan sholat di tempat yang disediakan di kafe tersebut. Gilang terus memandanginya.
"Dia memang berbeda."