
Jam sebelas malam anggun baru sampai di rumah. Gilang mengantarkan nya hingga masuk kedalam rumah.
Anggun langsung mengusirnya begitu dia memasuki pintu pagar rumahnya.
*Dasar tak tahu terima kasih.
Anggun berjalan masuk. Ibunya sudah cemas menunggunya. Begitu melihat ibunya, anggun langsung menangis dan memeluknya erat.
Dia menangis sejadi jadinya. Tentu saja Bu Dewi menjadi bingung dan panik.
"Ada apa nak? katakan pada ibu, ada apa?" tanya Dewi.
Anggun menceritakan semua yang telah dia alami hingga Gilang yang menolongnya. Bu Dewi terlihat syok namun kemudian dia tersenyum.
"Mama akan sangat berterima kasih padanya, jika bertemu mama akan mengucapkan terima kasih.
"Apa dia masih sendiri?"
Pertanyaan Bu Dewi membuat anggun terkejut. Bukannya mengkhawatirkan ku, mama malah menanyakan status pria itu.
"Untuk apa Mama menanyakan statusnya?"
"Jika dia belum menikah, Mama ingin menjodohkan mu dengannya. Lagipula dia yang menolong mu kan."
"Mama ada ada saja. Mana aku tahu dia sudah menikah atau belom."
"Besok jika dia datang lagi, mama sendiri yang akan menanyakannya. Kau memang payah." ucapnya
"Anggun masuk dulu ma." ucap anggun pada mamanya.
Di dalam kamarnya anggun segera mengganti pakaiannya, dia mengenakan piyama tidur dan memilih naik ke atas tempat tidur. Anggun coba memejamkan matanya. Namun tiap kali dia menutup mata, bayangan pria yang ingin menodainya muncul dan membuatnya berkeringat dingin.
Anggun membuka jendela kamarnya. Angin malam berhembus masuk dengan kencang. Langit gelap, sepertinya akan segera turun hujan.
Anggun duduk di jendela dan mengenang kembali kejadian beberapa tahun silam.
Pertemuannya dengan Gilang.
Gilang Fikri Ramadhan adalah cowok populer di sekolahnya. Dia adalah cowok paling ganteng, dengan tubuh tinggi kulit putih hidung mancung dan dia juga seorang pemain volly. Banyak cewek di sekolah yang mengidolakannya dan rela menjadi kekasihnya.
Sedangkan anggun gadis polos dengan rambut diikat tinggi keatas. Dia tak pernah perduli dengan lingkungan, tujuannya hanya satu yaitu belajar dan mendapat kan bea siswa di perguruan tinggi.
Gilang memang terkenal playboy. Hingga suatu hari Anggun memergokinya sedang bercumbu di toilet sekolah dengan Cindy, gadis paling cantik di sekolah.
Saat itu anggun yang sedang sesak buang air kecil masuk ke dalam kamar mandi. Namun langkahnya terhenti karena dia mendengar suara desahan dari dalam salah satu bilik kamar. Dia kembali mendengarkan dan benar itu suara desahan.
Anggun segera ke ruang BK dan memanggil guru. Pak Joni memanggil siswa yang sedang berduaan di dalam dengan paksa.
Akhirnya keluarlah Gilang dan Cindy. Keduanya jadi viral, tak sampai disitu pak Joni juga memanggil.orangtua mereka. Gilang di skors dan papanya marah hingga dia tidak di beri uang jajan selama satu bulan.
Gilang marah dan dendam pada gadis yang melaporkannya, setelah dia selidiki ternyata anggun lah orangnya. Gilang membalas dendam. Awalnya dia merusak sepeda anggun.
Hari berikutnya dia membuang buku pr anggun ke lobang sampah dan menggantung tasnya.
Disitu anggun baru tahu jika pelakunya adalah Gilang. Dan penyebabnya karena dia melaporkan tindakan tidak senonoh Gilang pada guru.
Tak hanya disitu, ternyata dendam Gilang belum hilang. Dia mengikuti Anggun dan meliput semua aktivitas nya, Hingga pada suatu hari dia menemukan anggun yang berjualan di pinggir jalan. Anggun berjualan kue di hari Minggu, membantu ibunya.
Photo nya berjualan kue di pajang di mading dengan berbagai tulisan penuh hinaan. Anggun merasa kesal, marah dan dia berjalan menemui Gilang.
"Apa maksud mu? belum puas kau sudah membully ku selama ini!" ucap anggun.
"Belum! Lalu kau mau apa?" tanya Gilang.
" Apa salahnya jika aku berjualan, apa itu salah!"
"Salah, karena kau berani menantang ku, anak miskin seperti mu tak pantas sekolah di tempat ini. Harusnya kau sadar diri. Aku akan terus menyiksamu. Hingga kau tidak betah dan memilih pergi dari sini." ucap Gilang.
"Apa salahku?"
"Kau berani melaporkan ku ke pak Joni dan karena ulahmu papa ku menghukum ku."
"Kau!!!! bentak Gilang sambil menunjuk wajah anggun.
"Tak usah berpura pura, diam diam kau juga menyukai ku dan coba mencari simpati ku
dengan cara berbeda. Tapi trik mu itu tidak mungkin berhasil."
"Aku menyukai pria mesum seperti mu?" tidak mungkin.
"Tak usah sok suci." Gilang memegang pundak anggun, menariknya dan coba menciumnya.
Plak...
Sebuah tamparan mendarat di pipi Gilang. Teman teman yang duduk di dekatnya menatap tak percaya.
Tangan mungil anggun ikut bergetar Setelah melakukannya.
"Aku memang miskin, tapi aku punya harga diri. Bukan seperti gadis bodoh yang selalu mengejar mu. Aku menyukai mu? kau bermimpi aku bahkan jijik melihatmu.
Aku berjualan kue mencari uang dengan cara halal. Tidak seperti kamu yang taunya hanya menadahkan tangan kepada orangtua. Apa bedanya dirimu dengan pengemis." "Ucap Anggun dengan suara bergetar.
"Oh ya, orang kaya. Aku memang miskin tapi aku bangga, aku bisa sekolah dengan jerih payah dan peluh orangtuaku. Tidak seperti mu yang taunya hanya menghabiskan harta orangtuamu dengan berfoya foya. Aku kasihan pada orang tua yang sudah melahirkan mu." ucap anggun.
Kemudian dia melangkah pergi meninggalkan Gilang yang menatapnya geram.
Sejak saat itu, anggun tak lagi bertemu dengan Gilang. Ternyata dia pindah sekolah karena ayahnya ditugaskan di daerah lain.
Dan tadi adalah pertemuan mereka setelah sekian tahun tak bertemu. Luka lama itu masih membekas. Hinaan yang diucapkan Gilang dulu kembali terngiang di kepalanya.
Tak jauh beda dengannya Gilang juga sedang duduk di kamarnya.
Mengapa aku harus bertemu gadis itu kembali. walau penampilannya berbeda tetap saja dia menyebalkan. Aku tak akan pernah melupakan penghinaan yang dia lakukan padaku. Aku dihukum mencuci kamar mandi sekolah selama dua Minggu. Ditambah papa tak memberiku uang jajan selama satu bulan.
Aku tak akan pernah memaafkan mu anggun.
"Aku akan menagih hutangnya plus bunganya, dan dia tak bisa menolak."
Dia kini berbeda, lebih cantik, dan juga berhijab. Sungguh sangat berbeda dengan dirinya yang dulu.
Lama berpikir, akhirnya Gilang dapat memejamkan matanya.
...****************...
Pagi pagi sekali Bu Yanti menelpon putranya Gilang.
Derrrt...derrrrt..
Ponsel Gilang berdering.
Gilang mengangkatnya, matanya masih terpejam.
"Fikri, bangun ini sudah siang." terdengar suara ibunya membangunkannya.
Gilang langsung terbangun, kantuknya hilang karena dia terkejut.
"Ya ma." jawab Gilang.
"Apa kamu lupa, hari ini pernikahan Devan sepupumu. cepat bangun dan segera datang kesini."
"Iya ma, Gilang akan datang."
"Satu lagi, bawa calon istrimu, jika tidak. Mama akan menjodohkan mu dengan anak Tante Yuli, Cindy." ucap Bu Yanti.
Mata hilang langsung membulat sempurna. Menikah dengan Cindy. oh tidak, sampai kapan pun aku tidak akan mau menikah dengannya.
"Apa kau dengar?"
"Ya aku dengar ma, mama tenang saja aku akan datang dengan menantu mama."
"Baiklah mama tunggi."
Panggilan terputus. Gilang meletakkan ponselnya dan menghembuskan nafas berat.
"Membawa calon istri? pacar saja aku tak punya, bagaimana ini.!" ucap gilang mengusap wajahnya.
Gilang bangkit dan ke kamar mandi, setengah jam kemudian dia keluar dan segera memakai pakaiannya.
Hari ini hari Minggu dan Gilang tidak bekerja.
"Bik buatkan kopi bik." ucapnya pada pekerja yang bertugas membersihkan rumahnya.
"Baik den."
Bik Ijah datang dan membawa secangkir kopi untuknya.
"Ini den kopinya."
Bu ijah meletakkan secangkir kopi dan sepiring roti diatas meja.
"Oh ya den, maaf sebelumnya. Pakaian yang ada di kamar mandi itu_" bi ijah bingung meneruskan kalimatnya.
"Buang saja Bik," jawab Gilang cepat.
"Baik den." Bi ijah segera ke belakang, sebenarnya banyak pertanyaan di kepalanya tapi dia takut tuannya akan marah.
Gilang yang sedang berpikir tiba tiba tersenyum licik.
"Aku akan meminta bantuannya, mama juga tidak mengenal nya. Akan mudah bagi ku, lagipula aku hanya perlu membawanya dan membuat mama membatalkan niatnya menjodohkan ku dengan Cindy.
Cindy gadis murahan itu, yang selalu berpakaian terbuka dan merayu laki laki. Apa dia pikir aku tidak tahu sepak terjangnya, bisa bisanya dia berharap mau menjadi istriku. Tidak akan pernah terjadi.
Gilang mengganti pakaiannya dengan pakaian resmi. Baju batik tangan panjang dan celana bahan. Sungguh sangat cocok melekat ditubuhnya yang atletis.
"Sempurna" ucapnya.
Gilang mengeluarkan mobilnya dan segera melajukannya menuju rumah anggun.
Jam sepuluh pagi, Anggun sedang duduk di teras sambil memeriksa tugas anak didiknya.
Sebuah mobil hitam masuk ke pekarangan rumahnya, dan berhenti.
Anggun mendongakkan kepalanya."Bukan mobil papa, lalu siapa?" bathinnya
Gilang turun dengan gagahnya. Tak bisa di pungkiri jika anggun juga terpesona melihat penampilan Gilang.
Ada apa pagi pagi sekali dia datang kesini dengan pakaian rapi lagi.
"Hei gadis kampung." panggil Gilang. Dia duduk di depan anggun.
"Ada apa? pakaian mu masih di cuci, besok aku kembalikan." ucap anggun.
"Aku kesini mau menagih satu hutang mu. Sepupuku menikah dan aku mau kau menemaniku ke sana."
"Aku? tidak mau. Ajak saja pacarmu apa susah ya!" ucap anggun.
"Kau tidak bisa menolak, ingat kau sudah berjanji mau melakukan apapun. Apa kau lupa?"
"Tapi_"
belum selesai anggun bicara ibunya Dewi sudah memotong pembicaraan nya.
"Loh ada tamu, kok nggak diajak masuk? kamu gimana sih nggun." ucap Bu Dewi.
"Pagi Tante." sapa Gilang ramah.
"" pagi, saya mama nya anggun."
"Saya Gilang Tante." ucap Gilang dengan sopan dan ramah.
wajah Bu Dewi berbinar dia terlihat sangat senang, Anggun tersenyum miris melihatnya.
Jangan lupa kasih like dan vote ya.